in

Ingin Jadi Sukses Tanpa Privilese, Memangnya Bisa?

Kerja di perusahaan bonafit, tajir melintir, jabatan elite, kuliah di luar negeri atau PTS bergengsi, mungkin menjadi impian banyak orang. Berbagai kesuksesan seperti itu rasanya memang impian yang dimiliki semua orang, walau belum tentu bisa dirasakan seluruh pemilik mimpi yang serupa apalagi orang yang tanpa privilese (privilege).

Banyak yang beranggapan bahwa kunci sukses yang diidamkan akan didapat dengan adanya privilese. Privilese yang dimaksud di sini tidak jauh dari latar belakang keluarga, harta, tahta dan juga jabatan orang tua. Inilah salah satu contoh pemikiran yang kurang tepat. Kalau pendapat seperti ini masih mendominasi pikiran sahabat Ublik, sebaiknya segera berusaha ‘kosongkan gelas pikiran’ dan isi dengan ilmu dan wawasan yang lebih banyak.

Setiap Individu Memiliki Privilese Masing-masing

Sebuah kesuksesan memang akan dipengaruhi banyak faktor di antaranya privilese, tapi berhentilah sejenak dan maknai kembali privilese apa yang dimaksud. Tiap individu memiliki privilese masing-masing. 

Ingin Jadi Sukses Tanpa Privilese, Memangnya Bisa?
Gambaran Privilese. (Sumber: Pixabay)

Tidak semua orang yang sukses dan berada di anak tangga tujuan kita memiliki privilese yang disebutkan sebelumnya. Dari sekian banyak sosok sukses dan memiliki privilese yang menurut kita mendukung kesuksesannya, ada banyak sosok lain yang punya privilese yang kita inginkan tetapi tidak mencapai kesuksesan seperti yang banyak diharapkan. 

Ini cukup menjadikan pelajaran bahwa privilese bukanlah penentu kesuksesan seseorang. Lalu, kunci sukses sebenarnya itu apa? Apakah tergantung harta, tahta dan jabatan? Yuk kita bahas bersama.

Apa Sebenarnya Makna Privilese?

Sebelum mencari kunci sukses masing-masing, mari kita samakan terlebih dahulu pemahaman tentang privilese. Dalam KBBI dijelaskan bahwa privilese berarti hak istimewa. Nah, hak istimewa ini banyak lo macamnya di dalam kehidupan sehari-hari. Ada privilese ras, privilese jabatan, harta dan lainnya. Hak – hak istimewa ini sering dianggap kunci kesuksesan seseorang dalam meniti kehidupannya, baik di aspek pendidikan maupun karir.

Misal: enak ya jadi dia, kalau gagal SNMPTN dia bisa kuliah di luar negeri atau PTS terbaik sesuai keinginan, sementara saya harus berjuang lagi dan menerima apa yang ‘tersisa untuk saya’ atau terpaksa gigit jari

Tanpa disadari, pikiran ini menitikberatkan fokus pada privilese yang dimiliki orang lain, dan akhirnya menekan diri sendiri sehingga menjadi vulnerable, merasa tidak memiliki kunci kesuksesan. Sebetulnya di sanalah awal mula dead end

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, privilese punya berbagai jenis. Dan, ketahuilah bahwa privilese sebagai kunci kesuksesan bisa diusahakan. Usaha ini sangat bergantung pada mindset masing-masing orang, apakah ingin menggunakan tools yang dimiliki dan mengubahnya menjadi privilese atau akan terus mencari tools yang tidak dimiliki yaitu privilese orang lain.

Mengubah Cara Berpikir

Untuk yang suka ilmu eksakta, pasti tahu bahwa dalam berbagai hitungan ada rumusan tertentu, dan ada berbagai turunan rumus. Dari sini, sebetulnya dapat kita ambil pelajaran bahwa untuk menemukan sebuah hasil, cara yang digunakan tidak hanya satu tapi perlu diusahakan beribu kali. Ada resep yang perlu disesuaikan, dan pendekatan yang perlu diubah.

Privilese yang paling besar dalam diri seseorang adalah mindset atau cara berpikir, karena setiap individu paling paham tujuan dan kemampuannya sendiri juga visi atau cara berpikirnya sendiri. Nah, mindset atau cara berpikir yang bisa dijadikan privilese untuk diri sendiri kemudian menjadi kunci membuka pintu suksesnya adalah growth mindset. Privilese seperti uang atau relasi yang banyak tidak akan membantu mencapai kesuksesan tanpa adanya dorongan dan cara berpikir untuk tumbuh dan berkembang. Sama halnya dengan bakat, yang tidak akan bermanfaat tanpa usaha dan kegigihan untuk menggunakan dan mengasahnya terus-menerus.

Stop berpikir bahwa si A bisa mencapai karir seperti itu karena ada backup relasi dari orangtua. Relasi tidak akan menerima bahan mentah tanpa potensi yang mumpuni, pada akhirnya mereka yang hanya berbekal relasi atau uang semata pun akan termakan seleksi alam.

Yuk, ubah cara berpikir ini dengan mulai dengan self-reward terbesar yaitu bersyukur pada Allah Ta’aala dan berikhtiar seoptimal mungkin dengan kondisi dan kualitas yang ada pada diri sendiri. 

Jadikan Kekurangan Sebuah Tantangan Untuk Ditaklukan

Kadang jalan yang kita rencanakan untuk ditempuh ternyata tertutup atau tujuan yang kita impikan ternyata terlalu jauh?

Rasanya di usia yang semakin dewasa, ujian seperti ini akan semakin banyak dihadapi. Bukan hanya dari masalah kurang finansial, kurang relasi, atau fasilitas yang diidentikan sebagai definisi dari privilese, tetapi ada berbagai ujian dan tantangan lain yang menanti seiring bertambahnya usia kehidupan. 

Sangat manusiawi jika ketika sudah memiliki rencana, dan merasa itulah satu-satunya jalan yang terbaik untuk memperbaiki keadaan tetapi ternyata tak sampai langkah kita mengejarnya. Kadang kita berpandangan bahwa penyebabnya adalah kekurangan ini dan itu. Tapi apakah sebenarnya kekurangan itu yang benar-benar menahan langkah kita membuka pintu sukses?

Terkadang itulah tantangan dan jalan Allah untuk meluruskan langkah kita ke track perjalanan yang tepat, dan lebih baik. Jawab tantangan itu dengan memanfaatkan potensi yang ada baik dari dalam diri maupun sekitar kita, karena setiap orang diberi kemampuan khusus untuk bertahan dan berjuang menaklukan tantangan yang ada. 

Sesuaikan Standar Sukses dan Perjuangan Secara Maksimal

Hal yang paling menyulitkan kita dalam menghadapi tantangan adalah standar sukses yang mainstream. Kita wajib paham bahwa kesuksesan setiap orang berbeda nilai, berbeda porsi selayaknya potensi yang dititipkan pada kita.

Sekali lagi, memiliki impian yang tinggi adalah hak setiap individu, tetapi ketinggian impian itu tidak perlu disamaratakan. 

Setelah mengubah cara berpikir agar terbiasa berada pada standar growth mindset dan memanfaatkan potensi diri sendiri, atur kembali standar kesuksesan kita. Tinjau kembali apa kebutuhan utama yang ingin dicapai dengan potensi yang ada, bagaimana mengembangkan potensi tersebut, dan dimana atau ke dalam bentuk apa potensi tersebut akan dikontribusikan lalu perjuangkan sampai titik darah penghabisan dengan usaha terbaik. Dengan begitu, kita akan menyadari bahwa sukses kita dan orang lain belum tentu sama, jalan yang ditempuh pun akan berbeda. 

Banyak yang bilang menjadi dokter adalah kesuksesan, tapi tidak sedikit dokter yang merasa stuck dan ingin buka usaha. 

Ada pegawai BUMN yang mencapai jenjang manajerial di usia muda, tapi belum pernah ke tanah suci, sedangkan ada pedagang gorengan yang sudah berkali-kali menunaikan ibadah haji.  

Hanya mengandalkan satu jalan saja tidak akan membuat kesuksesan bertahan dicapai atau bertahan dengan maksimal.

Sahabat Ublik yang percaya bahwa privilese berupa harta dan jabatan adalah segalanya untuk sukses, ubah cara pandangmu karena privilese tadi bukanlah satu-satunya jalan yang wajib ada untuk menjadi sukses. Sementara yang punya privilese ras, relasi, harta atau tahta, tidak ada salahnya membagi privilese mu untuk mereka yang membutuhkan.

Growth mindset, potensi dan standar kesuksesan yang sesuai didukung dengan usaha, dan doa yang tidak putus adalah cara menuju sukses yang secara alami perlu dilakukan setiap orang secara maksimal. Semoga kalian menemukan kunci sukses masing-masing ya sahabat ublik.

Report

What do you think?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

[Ublik Membaca] Catatan Tentang Hari Esok Versi Maudy Ayunda

Pentingkah Bekerja Sesuai Passion? Berikut Penjelasannya