in

Hudha Abdul Rohman, Pembicara Ulung dengan Segudang Keahlian

Bukan hanya jago bicara tetapi juga penulis dan pebisnis yang pantang menyerah.

Hudha Abdul Rohman merupakan salah satu anak bangsa yang menginspirasi. (Sumber gambar: dokumentasi pribadi Hudha)

Lelaki kelahiran Sukoharjo 27 tahun silam ini mencerminkan sosok yang memiliki banyak keahlian. Selain aktif di berbagai kegiatan, pembawaannya yang tidak suka berdiam diri di tempat yang sama membuat dia berani menantang diri dan mencoba hal-hal baru. Hudha bukan hanya berani bermimpi, tetapi juga berani mewujudkannya.

Jika dulu Hudha memiliki impian bisa ke luar negeri, pada awal semester 7 Hudha diberi kesempatan untuk belajar di salah satu universitas terbaik Malaysia yaitu University of Malaya selama 1 semester. Meski harapannya hanya 1 negara, rupanya Tuhan yang Mahabaik memberinya waktu untuk berlibur di negara lain yang berdekatan yaitu Singapura dan Thailand.

Pengalaman itu ternyata membuat Hudha ketagihan untuk pergi ke luar negeri lagi, dan impiannya kala itu adalah negeri sakura. Sayangnya perjuangannya untuk berangkat menghadiri konferensi international di Tokyo gagal karena kekurangan dana dan faktor lainnya. Namun kesempatan kedua berhasil dia raih ketika duduk di bangku S2. Hudha dapat menghadiri konferensi internasional di Kyoto dan melihat kecantikan bunga sakura secara langsung.

hudha-jepang
Hudha menikmati jalanan di Negeri Sakura. (Sumber gambar: instagram.com/hudhaairlangga)

Perjalanan Hudha ke Kyoto tersebut didanai oleh LPDP, lho! Dia pun berhasil menyelesaikan studi S2 di Fakultas Ilmu Sastra, Universitas Padjadjaran Bandung pada tanggal 5 Mei 2018 lalu sebagai salah satu awardee beasiswa pemerintah ini.  Sesuai dengan harapan Bapak Jusuf Kalla untuk para alumni dan awardee LPDP yaitu membuka lapangan pekerjaan agar dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi negara, Hudha telah mewujudkannya dengan terjun ke dunia bisnis cireng.

Anak Sastra kok Jualan Cireng?

Lho, kok bisa anak sastra jadi pebisnis cireng? Katanya tadi pembicara ulung? Bukannya anak sastra nyambungnya jadi penulis, ya? Daripada penasaran, mari kita simak hasil wawancara Ublik dengan Hudha Abdul Rohman melalui WhatsApp. Check this out!

Ublik (U) : “Halo Kak Hudha. Kan Kakak jurusan sastra nih dan sudah menerbitkan buku “Jurus Sakti Jadi Mahasiswa Berprestasi”. Bisa ceritakan tentang asal mula kenapa memilih untuk menulis buku tentang mahasiswa berprestasi dan kendala apa yang dihadapi?”

Hudha (H) : “Awalnya menulis tentang ini karena banyaknya pertanyaan yang sering ditanyakan ke saya. “Mas, gimana tips supaya lolos pertukaran pelajar?” atau “Apa triknya biar juara LKTI?” dan masih banyak lagi. Dari beragam pertanyaan itu akhirnya saya rincikan menjadi sub-bab. Setelah itu baru saya tulis dan kembangkan, lalu diajukan ke penerbit Quanta dan tidak lama langsung diterima. Jadi kalau mau tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang umumnya mengusik pikiran mahasiswa, beli buku itu saja, ya! Hehehe.”

hudha buku
Buku Jurus Sakti Jadi Mahasiswa Berprestaasi oleh Hudha. (Sumber gambar: instagram.com/elexmedia)

“Dalam proses penulisan, saya merasa tidak ada kendala karena memang niat hati kuat sekali untuk menyelesaikannya. Pengalaman yang tak terduga saat proses pembuatan buku ini adalah saya kaget dengan respons penerbit. Hanya butuh waktu sekitar 2 minggu sudah diterima untuk diterbitkan dan revisinya sedikit.”

“Yang paling penting dari itu adalah saya berharap bukunya bisa bermanfaat, menginspirasi orang banyak, dan jadi amal jariyah saya di akhirat nanti. Amin.”

U : “Amiiin. Lalu nih, Kak, di unggahan foto Instagram Kak Hudha (@hudharlangga) kan sering banget berisi tentang kegiatan menjadi pembicara di depan publik. Apalagi pernah jadi Duta Bahasa Jawa Tengah di tahun 2015 lalu. Apa sih yang bikin Kakak suka public speaking?”

H : “Bersyukur sekali selama ini diberi kesempatan untuk berbagi lewat seminar dan jadi pembicara. Aslinya saya ingin masuk kuliah jurusan Ilmu Komunikasi. Ternyata lolosnya justru di Sastra Indonesia. Untungnya passion untuk jadi pembicara publik masih bisa tersalurkan lewat berbagai kegiatan. Pengalaman mengikuti pertukaran pelajar, ikut berbagai perlombaan, jadi mawapres, trik lolos beasiswa, semuanya sering saya sampaikan di seminar.”

“Menjadi duta bahasa memberi saya kesempatan sebagai pewara (MC), narasumber siaran radio, dan lain-lain. Kemampuan saya pun semakin terasah.”

U : “Awalnya berbicara di depan umum gugup nggak sih, Kak? Ada rasa nggak percaya diri? Kalau iya, apa saja kiat mengatasi demam panggung ala Kak Hudha?”

H : “Saya mulai terjun ke bidang itu pada semester 5 dulu. Tentu saja merasa gugup. Itu manusiawi sekali, kok. Alhamdulillah semakin banyak jam terbang gugupnya pun berkurang. Sekarang sudah jadi lebih percaya diri.”

“Pertama dan utama harus sering latihan. Apa saja yang ada unsur bebicara di depan umum kudu ikut dan terlibat. Kedua, saya ngemil dulu. Biasanya sih makan permen. Lalu yang terakhir dan nggak kalah penting adalah berdoa.”

U : “Kok ngunyah permen, Kak?”

H : “Ini kalau saya, lho. Tiap orang mungkin punya cara yang berbeda-beda. Secara tidak langsung dengan makan permen, mulut kita jadi bergerak. Pemanasan supaya mulutnya nggak kaku. Karena gugup dan demam panggung jadi saya mencoba berbagai hal dan sepertinya ini cocok.”

U : “Apa saja persiapan yang dilakukan sebelum jadi pembicara?”

H : “Pelajari materi itu wajib, tetapi mengetahui target audiens juga wajib. Biasanya saya putarkan video motivasi yang saya buat sendiri. Jadi harapannya semua peserta bisa membayangkan dengan cara foto saya di video dibayangkan diganti dengan foto mereka sendiri. Hal ini bertujuan agar mereka mendapat energi positif dari video tersebut.”

hudha BIPA
Hudha di acara Pelatihan Pengajaran BIPA Desember 2018 lalu. (Sumber gambar: instagram.com/hudhaairlangga)

“Awalnya saya dimintai tolong oleh teman-teman untuk berbagi. Jadi dengan berani bicara dan menyampaikan maka saya ingin berbagai agar semua bisa berkarya dan berprestasi.”

Kejadian Mengharukan Selama Menjadi Pembicara

U : “Ada kejadian mengharukan atau lucu selama menjadi pembicara?”

H : “Biasanya peserta seminar akan menangis karena saya bercerita tentang motivator terbesar saya meski beliau sudah tiada yaitu Ibu. Mereka jadi teringat dengan ibu mereka sendiri. Kalau kejadian lucu yang sampai sekarang masih membuat saya tertawa adalah ketika kancing baju batik saya terlepas padahal sudah mau maju. Terpaksa saya pinjam peniti dan pergi ke kamar mandi dulu untuk menutup bagian atas kemeja. Hahaha.”

Kenapa kok Tertarik dengan Dunia Bisnis?

U : “Kakak kan berasal dari jurusan sastra, kenapa kok tertarik dengan dunia bisnis?

H : “Nggak tahu kenapa bisnis itu seru. Mulanya penasaran jadinya ketagihan. Jadi Cireng Solo Pak Bambang itu awalnya usaha bapak, jualan keliling begitu. Lalu saya kenalkan dengan cara berjualan daring dan dapat respons luar biasa. Sekarang pun sudah bisa dipesan lewat aplikasi ojek daring.”

hudha cireng
Cireng Solo Pak Bambang, usaha milik ayah Hudha yang kini dia kembangkan. (Sumber gambar: instagram.com/hudhaairlangga)

“Saya belajar bisnis secara otodidak. Belajar dari pengusaha yang sudah terkenal supaya makin terinspirasi. Cari tahu bagaimana cara pemasaran, menjual produk, dan supaya barokah. Kalau lagi malas, ingat lagi impian yang dimiliki.”

U : “Wah, menginspirasi banget, nih Kak. Dari berbagai kegiatan seabrek sampai masih mau membantu anak-anak di sekitar rumah untuk belajar gratis, bagaimana cara mengatur waktunya, tuh?”

H : “Intinya punya skala prioritas dan pintar membagi waktu.

U : “Sip, Kak. Terima kasih banyak. Semoga Kak Hudha selalu sukses kedepannya, yah!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

waktu , cepat berlalu

Mengapa Waktu Cepat Berlalu dan Apa yang Bisa Kita Lakukan?

hiroo onoda , filipina

Belajar dari Hiroo Onoda, Pejuang Jepang yang Gerilya 29 Tahun di Hutan