in

Belajar dari Hiroo Onoda, Pejuang Jepang yang Gerilya 29 Tahun di Hutan

Atas loyalitasnya, kita patut angkat topi

Hiroo Onoda di Filipina (Sumber gambar: thetimes.co.uk)

Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar kata perang dunia? Kalau jawabannya adalah sebuah kekacauan dan ketidak beraturan, maka pendapat kamu tepat. Saat dunia dilanda kegalauan yang parah, setiap negara seakan harus memihak pada siapa dia berpihak. Masing-masing pemimpin negara berkoloni, mencari kelompoknya agar negaranya aman. Mereka yang belum merdeka mesti merasakan kekejaman perang, tanah-tanah mereka dijajah, dan dijadikan markas.

Jepang yang jadi negara kuat di Asia turut andil. Mereka ambil bagian sebagai penengah. Mereka mencoba untuk melindungi beberapa negara Asia lain yang ‘kedapatan’ menjadi sarang dari pasukan sekutu. Walaupun kita tahu, Jepang juga sepertinya hendak menguasai beberapa negara Asia tersebut. Tak terkecuali Indonesia. Ketika Belanda berhasil mereka usir, nyatanya Jepang ambil alih negara, tak serta merta menyerahkan kedaulatan negara penuh kepada Indonesia. Hal itu mungkin sudah diketahui oleh setiap orang, khususnya masyarakat Indonesia.

Baca juga:

Munculnya Seorang Loyalis Sejati

Dalam perang memang sangat lumrah kalau kita menemukan seorang pahlawan, orang yang namanya mencuat sebagai individu yang tangguh dan tak kenal kata mundur. Dalam peran dunia kedua, Jepang patut berbangga pada sosok Hiroo Onoda. Seorang letnan dua yang begitu heroik dan tak mudah menyerah dalam menghalau serangan musuh

Pada tahun 1944, Onoda yang diangkat sebagai letnan ditugaskan untuk jadi intelejen dan memata-matai tentara Amerika di Pulau Lubang Filipina. dia berangkat dengan timnya. Pria yang saat itu berusia 22 tahun tersebut, berangkat dengan penuh semangat dan keyakinan jika dia tak akan pulang dalam keadaan menyerah. Onoda dan segenap timnya bergerilya, masuk hutan di Lubang Filipina dan bertahan hidup sambil sesekali berperang melawan siapapun orang asing yang melihatnya. Ya, seorang gerilyawan memang mesti tagguh dan harus selalu berhasil melindungi diri.

pulau lubang , hiroo onoda
Pulau Lubang Filipina (Sumber gambar: observer.news/history/)

Setahun bergerilya, Jepang jatuh. Hiroshima dan Nagasaki dibombardir. Perang usai. Namun, informasi itu tak pernah sampai ke telinga Onoda dan rekan-rekan di pedalaman. Hingga tim Onoda hanya bersisa empat orang saja.

Militer Amerika yang tahu ada tentara Jepang di dalam hutang, mencoba untuk membujuknya keluar dari hutan dengan menyebarkan selebaran dari pesawat. Selebaran tersebut berisikan informasi jika perang telah usai. Selebaran yang akhirnya sampai pada tangan Onoda itupun tak digubris. Dia dan tiga rekannya percaya jika selebaran itu adalah jebakan. Mereka bersikeras untuk tidak turun gunung. Namun, satu rekan Onoda merasa menyerah, dia akhirnya meninggalkan Onoda dan dua teman lainnya dan turun gunung. Kini, tersisa tiga orang di hutan

Dengan segenap keyakinan, Onoda terus bergerilya, menjarah makanan, membakar sawah atau membunuh warga sekitar. Kisah heroik tiga orang itupun mulai terkuak. 10 tahun di hutan, Kopral Shimada akhirnya tertembak oleh prajurit yang memang dibentuk untuk mencari mereka. Kini, tinggal Onoda dan rekannya Kozuka yang bertahan. Tak terasa, tahun sudah berganti hingga setelah 28 tahun mereka di hutan. Kozuka akhirnya tertembak oleh polisi Filipina, Kozuka  tertangkap sedang membakar sawah warga, dia tertembak dan akhirnya meninggalkan Onoda yang tinggal sendiri bergerilya.

Tak terbersit sama sekali di benak Onoda untuk turun dan menyerah. Sekali amanah diembannya untuk bertahan, dia akan terus bertahan. Di lebih memilih untuk mati ketimbang menyerah. Onoda terus melanjutkan gerilyanya. Meski selebaran yang memberitahukan jika perang sudah usai disebar berulangkali, foto-foto keluarganya juga terus disebar. Tapi, Onoda terus bertahan dan menganggap jika itu muslihat.

Suzuki Sang Petualang

hiro onoda , norio suzuki
Sang petualang, Norio Suzuki (sebelah kiri) (Sumber gambar: Reddit.com)

Hingga akhirnya ada satu orang bernama Norio Suzuki, pemuda yang hidupnya dihabiskan untuk petualangan. Dia tak peduli dengan apapun, dia hanya penasaran dengan dua hal. Pertama keberadaan Yeti, si mahuk misterius yang katanya tinggal di Tibet, dan kedua adalah menemukan Onoda di Lubang. Pria itupun lantas pergi ke Lubang Filipina. Dia tahu jika dia akan menemukan Hiroo Onoda.

Sebelum Suzuki, kekaisaran Jepang sudah menurunkan tentara untuk mencari, namun 3 bulan sudah lewat dan Onoda tak mau muncul. Dan kegigihan serta optimisme Suzuki membuahkan hasil, dia hanya membutuhkan waktu empat hari saja untuk menemukan Onoda di hutan. Suzuki hanya mengandalkan suaranya.

Setiap berjalan dia berteriak “Onoda pulanglah. Kaisar mencemaskanmu” dan Onoda pun mau muncul dan bertemu Suzuki. Mereka banyak bercakap. Dekat dan akhirnya menjadi akrab. Tapi, Onoda tak mau pulang, dia hanya ingin pulang jika atasannya yang menyuruhnya untuk pulang. Suzuki mengiyakan dan pulang ke Jepang untuk kemudian kembali ke Lubang seraya membawa atasan Onoda Mayor Yoshimi yang usianya sudah tak muda lagi

Ketika tahu bahwa perang memang sudah usai. Tangis Onoda pecah dia akhirnya mau untuk pulang. Sebelumnya dia menyerahkan katana yang dia simpan puluhan tahun untuk bertahan hidup di hutan pada pemerintah filipina.

Jepang yang Berbeda

Sudah bisa dipastikan, betapa Hiroo Onoda langsung jadi pusat perhatian masyarakat Jepang bahkan seluruh dunia. Hari-hari Onoda disibukan dengan mondar mandir di televisi. Wawancara yang tiada henti. Energi sang letnan dua yang kemudian kebanjiran pujian oleh seluruh orang Jepang itupun terkuras. Seraya Ondoa merasa tidak berasa benar-benar di Jepang. Nyaris 30 tahun di hutan. Jepang menurutnya kehilangan marwah. Jepang yang menurutnya sebagai negara yang menjunjung tinggi kebudayaan dan adab, sudah tak dapat lagi dia temukan. Mereka justru melihat udaya barat begitu mendominasi. Kebebasan terlihat dimana-mana. Jepang yang dulu sudah tak ada lagi

Ada rasa kecewa dalam hati Onoda. Negaranya yang dia bela mati-matian itu sudah kehilangan marwah. Tak ada lagi Jepang yang dia tahu. Jepang yang begitu hangat. Jepang yang begitu menjunjung tradisi sudah terkikis, yang ada adalah Jepang model baru. Dan Onoda akhirnya tak kerasan tinggal di Jepang. Uang atas penghargaannya dia sumbangkan pada kuil. Dia pun pindah ke Brazil untuk menjadi petani

Akhir Hidup

hiroo onoda , pulau lubang
Hiroo Onoda kembali ke Pulau Lubang, Filipina (Sumber gambar: thetimes.co.uk)

Sebelum membahas akhir kisah Hiroo Onoda, kita mesti tahu apa yang terjadi pada Suzuki. Petualang asal Jepang itu masih percaya jika dia aka bertemu dengan Yeti. Dia pun berangkat ke Nepal, menyusuri Himalaya dan akhirnya meninggal di sana. Tanpa tahu apakah dia benar-benar sudah bertemu Yeti atau belum.

Sementara itu Onoda sempat beberapa kali kembali ke Jepang untuk program kemanusiaan. Dia juga sempat kembali ke Lubang Filipina. Menapak tilasi perjuangannya dan kawan-kawannya. Sampai akhirnya dia meninggal ditahun 2014 karena serangan jantung dan penyakit yang dia derita.

Onoda adalah cermin bahwa dedikasi yang luar biasa dan loyalitas memang mutlak diperlukan. Dia tak bergeming, pada negara dia begitu setia. Pada sebuah janji untuk bertahan dia tunaikan. Berjuang hingga titik darah penghabisan. Banyak nilai baik yang bisa kita dapatin dari sosok Onoda. Jadi, kenapa tidak kita terapkan dalam diri kita. Soal dedikasi, kesetiaan dan kerja keras tanpa akhir.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Hudha Abdul Rohman, Pembicara Ulung dengan Segudang Keahlian

slow living

Mengenal Slow Living Lifestyle untuk Hidup yang Lebih Tenang