in

Hentikan Kebiasaan Ini, untuk Memiliki Hidup yang Lebih Baik

Ada kebiasaan yang harus ditinggalkan, bahkan mulai saat ini juga

Hidup yang baik tentu adalah hidup yang seimbang. Meski begitu, ada beberapa hal yang tidak bisa kita buat seimbang. Kalau boleh dikatakan, ada kebiasaan yang harus ditinggalkan. Kalaupun seandainya tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, paling tidak kita memiliki kesadaran untuk meminimalkan kebiasaan tersebut.

Beberapa kebiasaan itu bisa jadi tidak kita sadari, namun terkadang ada yang benar-benar kita sadari bahwa hal itu tidak baik, tapi terlalu susah untuk meninggalkannya. Meski begitu, kita harus menyadari kebiasaan buruk ini sebagai penghalang kesuksesan pribadi. Karena ketika sudah memiliki kesadaran ini, sadar atau tidak, setiap melakukannya lagi, akan timbul perasaan tidak enak di hati.

Hal itu kemudian membuat kita merasa tidak nyaman, dan ingin mengubah kebiasaan itu agar perasaan tidak enak hilang dari hati. Apa saja kebiasaan-kebiasaan buruk yang harus dihentikan mulai saat ini juga?

Menunda hal penting

Sejak dahulu kita tahu bahwa menunda adalah sebuah kebiasaan yang harus dihilangkan. Sebab selain akan membuat tugas terbengkalai, ia bisa jadi membuat kita kehilangan kesempatan emas yang tidak datang setiap saat. Karenanya saat kita sedang menunda-nunda dan tidak punya persiapan apa pun lalu kesempatan emas datang, kita jadi tidak bisa apa-apa dan kehilangannya begitu saja.

Menunda-nunda itu adalah hal yang sangat berbahaya. Bahkan, menunda akan membuat kita jadi terburu-buru mengerjakan sesuatu. Kalau kebablasan, hasil akhirnya jadi kacau dan segalanya menjadi berantakan.

Tentu saja setiap hal perlu dipikirkan matang-matang terlebih dahulu, namun mempersiapkan dengan menunda adalah dua hal yang jauh berbeda. Kadang-kadang ada juga orang yang merasa harus menunda karena butuh mengistirahatkan diri. Pada suatu kondisi, itu memang perlu. Namun lihat lagi, memang kemarin-kemarin sudah melakukan apa sampai harus istirahat? Jangan-jangan ini hanya perasaan malas yang sudah mendarah daging, yang disebabkan malas gerak karena sudah bersantai beberapa hari.

Jadi mari kita evaluasi lagi, kamukah itu yang sedang mencari alasan untuk menunda? Apa pun alasannya, menunda itu tidak baik, terkadang kita harus temukan jalan lain jika merasa jalan ini terlalu susah atau berisiko, atau bahkan buruk untuk diri sendiri.

hidup , menunda
Mengapa masih menunda-nunda?

Pailit meski belum akhir bulan

Sering tiba-tiba uang sudah habis saja meski belum akhir bulan, yang akhirnya malah membuatmu pusing dan mengharuskan pinjam dana ke sana sini? Kebiasaan ini harus diwaspadai, sebab jika tidak lekas ditangani, ditinggalkan, dan diubah, maka akan berdampak untuk masa depanmu.

Jika kebiasaan ini terus kamu pupuk, tidak peduli berapa pemasukanmu, kamu akhirnya tetap akan terlilit hutang dan pailit. Maka yang harus diubah adalah kebiasaan kita mengeluarkan uang.

Jika sebelumnya pengeluaran lebih banyak di gaya, maka mulai hari ini sudahi. Sebab masa depan masih jauh lagi, kita perlu bahan bakar untuk sampai sana. Dan bahan bakar itu berupa tabungan uang bukan tabungan hutang.

Menghabiskan waktu untuk hiburan

Kita semua barangkali tidak akan bisa menanggalkan hal ini. Setelah berpeluh dan berkutat dengan segala aktivitas, tiduran sembari melakukan sesuatu yang menyenangkan, semisal; menonton drama korea, membaca komik, membaca novel, atau menonton YouTube yang menghibur, rasanya adalah satu dari sekian banyak liburan murah yang mudah didapat. Tanpa perlu ke mana-mana, dan tidak mengeluarkan banyak tenaga.

Namun sayangnya kita kemudian lupa akan satu hal, bahwa hiburan haruslah dilakukan sekali waktu, yang jauh lebih penting adalah menghabiskan waktu luang dengan menambah wawasan dan memperdalam skill yang dimiliki.

Jika dibayangkan terasa melelahkan dan membosankan, kamu akan ada pada suatu titik di mana hal ini menjadi sesuatu yang menyenangkan. Membaca buku panduan terasa seru, menonton video pelajaran jauh lebih asyik, dan mempraktikkan ilmu yang dimiliki membuatmu semangat.

Hal itu semata-mata dikarenakan orientasi kita ada di hasil yang akan dinikmati. Bahkan merasa bahwa, ‘Wah, hanya dengan melakukan ini sedikit-sedikit setiap hari, kelak aku mendapat hasil yang luar biasa.’

Ya, investasi memang tidak selalu berupa uang, namun juga upaya meninggalkan rasa malas.

hidup-menunda-4

Terperangkap media sosial

Ada sebuah pepatah bahwa media sosial tidaklah beracun, hanya tergantung bagaimana manusianya saja. Iya benar, pada suatu waktu kita bisa banyak mendapatkan ilmu-ilmu bermanfaat dari sana. Hanya saja semakin banyak akun yang kita ikuti lalu timbul keinginan untuk membuka satu demi satu akun tersebut, maka kita jadi lupa waktu. Tahu-tahu sudah berjam-jam, mau mengerjekan kerjaan sudah malas, akhirnya selonjoran lagi dan buka media sosial lagi.

Tidak perlu meninggalkan media sosial, tapi batasi saja waktu untuk berkunjung ke sana. Itu sudah memberikan dampak yang jauh lebih baik, jika kemudian jam-jam lainnya dipakai untuk memaksimalkan potensi diri.

Menyepelekan kebiasaan terlambat

Kita sendiri pasti sering mendengar istilah ‘maklum, jam karet’. Iya, ini adalah istilah yang digunakan untuk menamai kebiasaan orang-orang tidak tepat waktu. Seolah terlambat adalah hal biasa dan sesuatu yang harus dimaklumi.

Namun tahukah kamu? Di balik janji temu, ada yang berusaha bangun lebih pagi menyiapkan segala keperluan lebih dini, menyelesaikan pekerjaan yang harusnya ditangani nanti di waktu bertemu. Ada sebuah pengorbanan yang dilakukan sebegitunya, tetapi kemudian ketika sampai di tempat janjian kamu belum datang dengan berbagai alasan yang dibuat-buat. Padahal kamu hanya malas gerak dan bangun dari tempat tidur sampai waktu yang mepet sekali.

Ini kebiasaan yang sungguh amat buruk, sebab, selain merugikan dirimu, lebih banyak lagi merugikan orang lain. Kamu tidak menghargai orang. Iya, tolong ingat baik-baik, jam karet bukan sesuatu yang main-main dan bisa kamu sepelekan. Barangkali kamu lupa bahwa ini adalah bentuk tidak menghargai orang lain, tidak menghargai usaha mereka atau menyepelekan.

Membaca pikiran orang

Terkadang kita tidak melakukan sesuatu hanya karena kita merasa paling tahu situasi yang ada. Misalnya, ketika melihat tetangga melintasi pekarangan kita, dengan wajah serius lalu kita berasumsi dia tidak sudi melihat kita. Maka kita tidak akan jadi menyapanya. Padahal ketika asumsi itu ditiadakan, kita jadi menyapa orang itu, orang itu juga akan menyapa kita. Bisa jadi malah kemudian kalian berbicang hangat dan bisa meredam rasa suntuk atau stres di benak tetangga kita tadi.

Jangan biasakan merasa tahu pikiran orang ya, ini tidak baik. Untukmu yang jadi tidak enakan dan untuk dia yang merasa kamu terlalu sensitif.

Mematikan alarm dan tidur lagi

Ini sepertinya sering kita semua lakukan. Padahal semalam jelas-jelas sudah membuat jadwal harian yang mengharuskan bangun di jam sekian, agar pekerjaan dapat terselesaikan. Hanya saja, udara yang dingin ditambah rasa malas membuat kita lupa akan jadwal harian. Dan akhirnya jadi menyesal kemudian.

Sebetulnya kita sudah sadar saat mematikan alarm itu, bahwa segala tugas akan terbengkalai. Saya jadi ingat sebuah kalimat yang menohok, “Kalau kamu belum bisa bangun di sepertiga malam, maka mimpimu belum besar.” Atau mimpi kita tersebut masih ecek-ecek dan tidak jelas.

Jadi, apakah setelah ini kita akan menghentikan kebiasaan buruk ini demi masa depan yang jauh lebih baik? Kira-kira, kebiasaan mana saja yang kalian sering lakukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

perempuan muda , ponsel

[Ruang Fiksi] Tentang Perempuan Muda dan Hidup yang Diimpikan

PD menulis, menerbitkan tulisan sendiri

Agar Lebih PD Menerbitkan Tulisan Sendiri, Lakukan Ini Terlebih Dulu!