Halo generasi milenial Indonesia. Apa kabarnya, nih? Semoga tetap bahagia, produktif, dan tidak termakan hoax yang bisa menimbulkan perasaan negatif, ya.
Tanpa sadar, berita bohong yang biasa disebut hoaks (hoax dalam bahasa Inggris) itu memang bisa membuat kita merasakan hal yang tak perlu dirasakan, lho. Ya iyalah, namanya juga berita palsu. Entah berita bahagia, menyedihkan, menakutkan, mengkhawatirkan, kalau ternyata tidak benar tentu semuanya akan terasa sia-sia.
Apalagi jika kita sebagai generasi milenial yang setiap hari mengandalkan media sosial sebagai sumber berita, rasanya terlampau sering membaca hoax yang dibagikan dari satu tempat ke tempat lainnya. Beberapa dari kita kemudian akan meneruskan berita yang tidak valid itu ke grup kelas atau komunitas yang ada di WhatsApp, Line, Telegram, Twitter, dan berbagai media sosial lain. Atau malah mengunggah hoaks tersebut di akun pribadi. Tak lupa mengekspresikan perasaan dengan menuliskannya di keterangan foto yang sanggup memrovokasi orang lain.
Padahal setelah diusut, berita itu tak pernah terjadi. Waduh, berarti kita termakan umpan si pembuat hoaks dong? Iya kalau ketahuan, kita paling tidak bisa menghapusnya dan merasa malu atau membantu klarifikasi. Tapi kalau tidak, bisa saja kita terus melakukannya dan itu merugikan pihak-pihak terkait yang tidak bersalah.

Baca Juga : Sejarah Media Sosial dan Hal-hal yang Jarang Kita Sadari di Internet

Tidak mau ‘kan menjadi generasi milenial yang seharusnya bisa lebih cerdas menggunakan media sosial tetapi malah jadi budak hoax? Tak apalah kalau di awal kita seperti itu. Namun sudah saatnya kawan-kawan semua mengetahui cara untuk menghindarinya dan tidak ikut menyebarkannya. Mau tahu? Simak kelanjutan artikel ini sampai habis, ya.
Hati-Hati Hoax (Sumber gambar: alinea.id)

1. Menjadi Kritis dan Selektif Itu Perlu

Eh, kamu dapat berita ini dari mana?
Jangan takut bertanya seperti itu pada orang yang menyebarkan berita. Sebab, sebagai orang yang membaca berita tersebut, kamu berhak untuk tahu apakah beritanya dikeluarkan oleh pihak yang dapat dipercaya.
Perhatikan apakah sumber berita dikeluarkan oleh situs berita atau lembaga ternama. Untuk berita, kamu jangan langsung percaya jika mendapatkannya dari alamat blog. Itu sangat rentan dengan hoaks. Kamu bisa buka situs yang dijalankan oleh perusahaan media cetak. Sekarang banyak sekali koran atau majalah yang juga merambah ke dunia digital seperti kompas.com, detik.com, tempo.co dan lain-lain. Nah, selain itu kamu juga bisa cek di media alternatif yang memang fokus menyebarkan berita aktual, valid , dan menampilkan sudut pandang lain seperti  tirto.id, mojok.co, idntimes.com, dan lain-lain. Kalau mau cari berita internasional yang sudah pasti benar kamu bisa cek di theguardian.com, nytimes.com, atau aljazeera.com.
Kamu juga perlu hati-hati ketika berita yang sampai di genggamanmu menyebut-nyebut nama orang populer, nama orang yang tak pernah kau dengar sebelumnya dengan embel-embel gelar yang bejibun sehingga terkesan sangat pintar dan meyakinkan, atau lembaga besar seperti Dinas Kesehatan, Polri, TNI, termasuk juga NASA. Wah, jangan langsung percaya, kawan. Bisa saja tokoh yang kau dengar itu adalah karakter fiktif yang sengaja dibuat oleh orang tak bertanggung jawab. Kalaupun orangnya nyata, bisa saja ia tak pernah berkata demikian.
Ingatlah selalu untuk mengecek kebenaran berita dengan menyambangi sumbernya. Bila tercantum sumber saja bisa jadi hoaks apalagi yang tidak ada sumber sama sekali.

2. Waspadai Efek Bandwagon

Siapa yang punya mental pengikut? Sedikit-sedikit ikut kata orang. Sulit punya pendapat sendiri karena sepertinya semua orang setuju saja tuh dengan isi berita tersebut.
Nah, di dalam sebuah video milik akun Hujan Tanda Tanya di YouTube, dijelaskan oleh Kak Rousyan bahwa salah satu alasan mengapa orang cerdas pun bisa kena hoaks adalah karena bandwagon effect. Ha? Apaan tuh efek bandwagon? Jadi, efek bandwagon itu adalah efek ikut-ikutan. Misalnya saat teman-teman kita sedang membicarakan suatu hoaks tanpa tahu kebenarannya, meski kita awalnya ragu tetapi karena mereka semua percaya maka kita pun ikut percaya.
Lihat kan betapa bahayanya efek bandwagon ini. Jika hoaks tersebut menyentil sisi sensitif dari suatu golongan tertentu dan membuat mereka mengamuk lalu menghakimi pihak yang bersalah karena efek ikut-ikutan tadi, pasti akan rugi.

Baca Juga : Ingin Eksis di Media Sosial? Nanti Dulu, Hati-hati ‘Wabah’ FOMO

3. Bahayanya “Aku Percaya Kamu Kok”

Eh, jangan salah paham. Ini bukan artikel tentang dunia percintaan di antara dua orang, lho.
Konsep “aku percaya kamu” juga terjalin di antara kita dengan orang-orang terdekat kita. Contoh sederhananya nih, adikmu pulang ke rumah sambil menangis. Dia mengaku dipukul temannya di sekolah. Secara naluri kamu pasti langsung merasa marah dan membela adikmu. Padahal belum tentu adikmu seratus persen tak bersalah. Tetapi karena kamu kakaknya dan sangat menyayangi adikmu, kamu menjadi bias dalam melihat persoalan yang ada.
Begitu juga sikap kita dalam menghadapi hoaks yang kita dengar dari orang-orang terkasih. Misalnya keluarga, teman sepermainan, komunitas yang kita cintai, dan lain sebagainya. Kita langsung percaya tanpa mau melihat dari sudut pandang orang lain yang berseberangan dengan kita.
Jangan mau dibohongi berita palsu (Sumber gambar: pixabay)

4. Berteori Itu Menyenangkan Tapi…

Sudah tahu kalau menurut teori yang beredar Michael Jackson belum mati? Ini buktinya!
Lalu kita pun menonton video konspirasi tersebut sampai habis. Setelahnya kita akan dilingkupi tanda tanya apakah teori-teori tersebut benar adanya. Bisa saja kita melupakannya dalam beberapa menit kemudian. Tetapi ada juga yang terobsesi untuk mencari fakta-fakta lebih lanjut guna mendukung teori yang dipercayai. Tak mengapa, itu sah-sah saja. Rasa ingin tahu yang besar membuat kita semakin maju.
Yang perlu kamu ingat adalah jangan sampai teori yang belum valid itu kamu sebarkan hanya karena kamu yakin benar. Sebab ada banyak hal yang perlu kamu perhatikan yaitu perlunya mencari hal-hal yang bisa mematahkan teori kamu. Kenapa? Untuk menghindari bias yang dapat mengacaukan pikiranmu sendiri.

5. Banyak Membaca

Banyak membaca itu penting. Kalau ada hoax yang ternyata mengandung berita yang bertentangan dengan ilmu yang kamu dapatkan dari buku atau jurnal, pasti dengan sendirinya kamu tidak akan termakan berita tersebut. Kamu justru bisa mengedukasi orang di sekitarmu agar mereka tidak memercayainya mentah-mentah.
Jangan percaya hoaks (Sumber gambar: merdeka.com)
Intinya, jangan langsung menelan berita yang tidak jelas sumbernya. Sebagai kaum milenial yang cerdas, kita wajib memilih dan memilah konsumsi berita sehari-hari sebelum menyebarkannya. Ingat, jangan mau jadi budak hoax, ya.