Indonesia memiliki sejumlah hari penting. Hari-hari yang memang senantiasa kita peringati setiap tahunnya sebagai bentuk refleksi. Mulai dari Hari Kesaktian Pancasila, Hari Sumpah Pemuda juga Hari Pahlawan. Khusus Hari Pahlawan, tentu sudah barang tentu kita ketahui. Hari ini adalah hari di mana kita mengingat kembali segala bentuk jasa perjuangan para pahlawan yang telah jatuh bangun, mengorbankan jiwa raga serta harta dan benda untuk berdirinya negara yang kemudian kita sebut dengan Indonesia.

Hari Pahlawan memang tak akan pernah lepas dari perjuangan arek-arek Suroboyo menumpas pasukan sekutu yang sekonyong-konyong ingin menguasai Surabaya dan Indonesia kembali. Hal itu kemudian dipukul oleh orang-orang Surabaya. Meski kalah secara persenjataan, Semangatnya orang-orang Indonesia ini yang kemudian menginisiasi pemerintah menetapkan 10 November sebagai hari pahlawan.

Pilihan Editor;

Awal Penetapan

Hari Pahlawan memang sudah ditetapkan pada tanggal 10 November. Seperti yang sudah disinggung di atas, Hari Pahlawan ditetapkan sebagai bentuk apresiasi kepada para pejuang terutama mereka yang bertempur di Surabaya. Bung Tomo adalah sosok paling sentral di balik pertarungan hebat di Surabaya ini. Dengan pekikan takbir, dia ‘membakar’ semangat rakyat Surabaya untuk turun gelanggang, bertemu secara langsung dengan pasukan Inggris yang sehari sebelumnya  sudah mempropagandakan akan menguasai Surabaya. Mereka menyebar kertas-kertas yang isinya menyuruh orang Surabaya untuk takluk dan tunduk pada mereka.

Bung Tomo (Sumber: suaramuhammadiyah.id)

Tentu orang Indonesia bukan orang yang gampang menyerah. Mereka menolak takluk. Ancaman itu mereka ubah sebagai ladang perjuangan. Pertempuran pun berlangsung dengan sangat sengit. Membuat para tentara sekutu kocar kacir. Puncaknya adalah perobekan bendera Belanda di hotel Yamato.

Adalah Sudirman, Hariyono dan Kusno. Tiga orang yang punya andil penting dalam sejarah perobekan bendera triwarna Belanda. Warna biru dicerabut dari sana dan membiarkan bendera menyisakan warna merah dan putih. Warna kebesaran Republik Indonesia. Pekikan Merdeka! pun menggema di mana-mana. Tanda jika kita sudah membuat sebuah sejarah baru. Merobek bendera penguasa yang ratusan tahun menjajah Indonesia. Sejak peristiwa itu, kita selalu mengingat hari tersebut sebagai hari perlawana,. Hari Pahlawan. Bukan hanya untuk masyarakat Surabaya, tapi untuk semua mereka yang berjuang.

Presiden Soekarno kemudian mengeluarkan Penetapan Pemerintah 1946 No.9/Um  yang isinya menetapkan jika tanggal 10 November menjadi Hari Raya Pahlawan. Ya, memang sangat menarik di mana hari tersebut disebut sebagai hari raya. Meski begitu kita menyebutnya kini sebagai Hari Pahlawan. Dan penetapan ini juga tak dilanjut menjadi sebagai hari libur nasional.

Presiden Beri Gelar Pahlawan untuk 6 Orang Ini

Seperti biasa, setiap tahun presiden memberi gelar pahlawan kepada para mereka yang sudah mencurahkan pikiran serta tenaganya untuk Indonesia. Memang banyak sekali mereka yang bertempur, tapi tidak semuanya dapat gelar pahlawan nasional. Ada pertimbangan-pertimbangan khusus yang akhirnya membuat Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) di Kementerian Sosial mengajukan beberapa nama ke presiden dan akhirnya menetapkan enam orang sebagai pahlawan nasional. Hal itu juga kemudian diturunkan dengan Keppres Nomor 123/TK/Tahun 2018 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Presiden memberikan gelar pahlawan nasional (Sumber: detikNews)

Keenam nama tersebut adalah Abdurrahman Baswedan tokoh dari Provinsi DI Yogyakarta, IR. H. Pangeran Mohammad Noor tokoh dari Kalimantan Selatan, Agung Hajjah Andi Depu tokoh dari Sulawesi Barat, Depati Amir tokoh dari Bangka Belitung, Kasman Singodimedjo tokoh dari Jawa Tengah, dan Brigjen KH Syam’un tokoh dari Banten. Para ahli waris kemudian menerima penghargaan itu di istana negara pada 8 November lalu.

Di antara enam nama tadi, memang nama A.R Baswedan yang kemudian menjadi sorotan publik. Bagaimana tidak, A.R Baswedan adalah kakek dari Gubernur Jakarta Anies Baswedan. Nama ini dipilih bukan tanpa alasan. Karena perjuanganya mencurahkan pikiran demi kemerdekaan Indonesia betul-betul patut diacungi jempol. Abdurrahman adalah ketua Partai Arab Indonesia yang anggotanya adalah orang-orang keturunan Arab yang tinggal di Indonesia. Partai itu kemudian dibubarkan seiring kemerdekaan Indonesia didapatkan.

Abdurrahman beranggapan bahwa dirinya sudah selesai mengantarkan Indonesia merdeka dan tidak berniat meneruskan kepartaiannya. Abdurrahman pun ditunjuk sebagai Menteri Muda Penerangan pada zaman Orde Baru. Abdurrahman Baswedan juga jadi salah satu delegator Indonesia yang berangkat ke Mesir demi mendapat kedaulatan dari negara lain. Dan A.R Baswedan pun berhasil, bersama H. Agus Salim, keduanya mengantongi surat yang isinya pengakuan kenegaraan dari Mesir.

Siapapun Bisa Jadi Pahlawan

Siapapun memang bisa jadi pahlawan. Setidaknya bagi lingkungan kita sendiri. Dengan kita bisa merubah sudut pandang masyarakat sekitar saja, kita sudah bisa disebut pahlawan. Apalagi jika perubahan itu benar-benar berdampak positif bagi banyak orang. Kini, menjadi pahlawan tak harus bertempur atau mengangkat senjata.

Banyak cara supaya kamu bisa dikenal sebagai pahlawan. Cara termudahnya adalah dengan tidak menyebarkan info yang belum diketahui sumbernya kepada orang lain. Kamu sudah jadi pahlawan, karena setidaknya kamu sudah menyelamatkan sudut pandang orang. Jadi, jangan pikir panjang, mari jadi pahlawan untuk Indonesia yang lebih baik.

 

(Sumber gambar utama: detikNews)