in ,

[Ruang Fiksi] Harapan Tidak Pernah Meninggalkan Kita

Suara kereta memekakkan telinga, angin berhembus kencang di sekitar kereta yang melaju. Seorang perempuan berjalan di antara kedua rel, di tengah-tengah. Pandangannya kosong, jalannya limbung. Sesekali matanya menoleh ke kanan kiri. Menatap kaca-kaca kereta, yang mana di sana ada banyak wajah yang berekspresi. Dia paling suka mencari dengan wajah yang sama sepertinya. Murung, sedih, tak memiliki gairah hidup.

Pun sama seperti hari minggu sebelumnya. Gadis kecil duduk di atas sandalnya. Kira-kira berumur dua belas tahun. Dengan lutut ditekuk dan kepala menunduk.

Ketika kereta lewat sekali lagi, mata perempuan itu tak sengaja melihat senyuman riang gadis kecil sembari melihat kaca-kaca kereta.

Dia mencari wajah yang bagaimana?

Tiba-tiba ia penasaran. Alih-alih mencari wajah yang sama dengan miliknya. Ia menerka wajah seperti apa yang dicari gadis kecil itu.

Dengan bibir yang tersenyum ketika mendengar suara kereta meski masih di kejauhan. Lalu tertunduk lesu kembali. Tetap duduk di tempat yang sama sampai matahari tenggelam. Lalu pulang dengan lunglai.

Minggu berikutnya, perempuan itu kembali. Dan gadis kecil itu ada di sana, kali ini berdiri. Wajahnya lebih bersih, ia juga mengenakan gaun putih.

Sang perempuan mendekat, perlahan-lahan. Sembari memikirkan kata apa yang paling tepat untuk menyapa seorang gadis kecil.

“Hai. Kamu sendiri?” Akhirnya kata itu yang keluar meski setelahnya ia harus tersenyum kikuk. Pertanyaan yang tak perlu dijawab setelah berminggu-minggu saling diam tanpa sapa.

“Kakak juga sendiri.” Perempuan itu mengangguk. Lalu berdiri di dekat gadis kecil. Dengan pose yang sama.

“Kakak, menunggu seseorang?”
Perempuan itu menggeleng.

“Baguslah, Kak. Semoga seumur hidup, Kakak tidak perlu menunggu.” Gadis kecil itu tersenyum, tulus. Dilihat dari dekat bibir itu tampak pucat. Mungkin karena kedinginan. Udara sore menusuk tulang, memang.

Aku memang tak menunggu, tetapi ditinggalkan.

“Kamu menunggu seseorang?” Gadis kecil mengangguk. Lalu kepalanya menoleh ke kanan, arah di mana suara kereta terdengar. Senyum riang kembali terukir di wajahnya. Matanya jeli melihat kaca-kaca kereta yang melesat cepat. Setelah kereta pergi, dan tak berhenti di stasiun milik mereka. Setetes air mata turun membasahi pipi gadis itu. Lalu diusapnya cepat.

Ruang Fiksi Ublik Harapan Tidak Pernah Meninggalkan Kita
Sumber gambar – Pinterest

“Siapa?”

“Ibuku.”

“Sejak kapan dia pergi?”

“Dua tahun yang lalu. Sejak aku butuh uang untuk berobat. Ibu bilang dia akan kembali setelah mendapatkan uang.”

“Kenapa menunggu di sini? Memang dia tidak mengabarimu?” Perempuan itu mengernyit, tak mengerti kenapa keluarganya membiarkan gadis kecil ini sendirian di tengah-tengah kedua rel kereta sampai petang.

“Ibu tak pernah mengabari.”

“Mungkin dia tidak ingin pulang,” kata perempuan itu lirih, inginnya berkata untuk dirinya sendiri. Mengingat dia punya luka yang sama, ditinggalkan.

“Ibu akan pulang dan aku mempercayainya.”

“Kenapa?”

“Karena dia ibuku, yang melahirkanku. Dia tidak berbohong.”

Perempuan itu termenung sejenak. Mereka saling diam. Membiarkan angin sore mengibas rambut mereka berdua. Gaun putih gadis kecil melambai. Ketika kereta lewat sekali lagi perempuan itu tidak mencari-cari wajah di balik kaca-kaca yang hanya bisa ditangkapnya sedetik, sebelum di dua detik kemudian melesat.

“Dua tahun kamu menunggu? Kenapa? Kamu tidak merasa kalau ditinggalkan?”
Gadis kecil itu menoleh dan mendongak, menatap wajah sang perempuan dengan senyum.

“Hanya ini caraku hidup, Kak. Semua orang harus bertahan untuk hidup hari demi hari. Begitu juga aku.”

Hari semakin gelap, perempuan itu mengajak gadis kecil meninggalkan stasiun. Lalu mengucapkan selamat tinggal untuk bertemu minggu depan.

Minggu kembali datang, sang perempuan bergegas menuju stasiun. Langkahnya lebar-lebar, lalu memelan ketika tak menemui siapapun di sana.

Kemana?

Dia menunggu, mengabaikam kereta yang lewat satu per satu. Baru kali ini, sejak ratusan minggu berlalu. Baru kali ini dia menginginkan sesuatu. Bertemu anak kecil itu. Mengajaknya berbincang perihal luka. Luka yang membuatnya tidak ingin hidup justru adalah luka yang ingin diobati gadis itu dengan menghadapinya. Gadis itu bertahan di tengah luka dan dalamketidaktahuan mengapa harus dirinya yang terluka.

Sang perempuan merasa … ucapan gadis itu adalah obat yang ia cari.

Namun, berminggu-minggu kemudian. Gadis kecil itu tidak datang. Meninggalkan perempuan itu penuh tanya. Sekaligus rindu.
Karena biasanya, seseorang ada di sebelahnya. Menemani melihat kereta meski tanpa sapa. Akhir-akhir ini dia hanya sendirian. Tempat ini sudah tidak sama, dia jadi merasa sesak di sini. Tak sebebas sebelumnya.

Sebuah kereta lewat, berhenti di stasiunnya. Matanya menangkap satu demi satu manusia yang turun. Lalu seorang wanita berusia empat puluh tahunan turun dengan wajah kuyu dan mata sembab. Langkahnya terseok-seok, sesekali hampir jatuh karena limbung.

Seorang lelaki bertumbuh besar menyenggol bahunya hingga ia terjatuh. Namun wanita itu tak mau dibantu berdiri. Semua manusia hanya melewatinya setelah sekilas menonton.

Sang perempuan mendekat, setelah kereta pergi dan manusia menghilang.

“Ayo bangun, Bu.” Ia mengulurkan tangan. Wanita itu mendongak, matanya mengingatkan sang perempuan pada gadis kecil yang hilang rimbanya.

“Terimakasih,” ucap wanita itu setelah menerima uluran tangan sang perempuan. Mereka lantas duduk di bangku tunggu.

“Kamu menunggu seseorang?” Tanya wanita itu. Sang perempuan menggeleng.

“Lantas apa yang kamu tunggu? Semua orang sudah meninggalkan stasiun.” Perempuan itu menggeleng, enggan menjawab.

“Memang, kita hidup untuk ditinggalkan.” Perempuan menoleh, wanita tersenyum namun matanya berkaca-kaca.

“Anak gadisku meninggal, tepat setelah dua tahun kepergianku mencari nafkah untuk obatnya yang mahal.”

Mata sang perempuan membeliak, gadis kecil itukah?

“Aku meninggalkannya untuk mencari nafkah. Tapi justru aku membunuhnya karena rindu.” Wanita itu menunduk, terisak. Meski dengan susah payah ia tahan di depan orang baru.

“Aku membunuhnya.” Kali ini isakannya makin keras. Sang perempuan merengkuh bahu wanita yang adalah ibu dari gadis kecil itu.

“Tidak, Bu. Selama ini, dia selalu berjuang bertahan hidup.”

“Kau mengenalnya?”

Sang perempuan mengangguk. “Setiap minggu sore, dia menunggu di sana.” Tunjuk perempuan itu pada tempat di mana biasanya dia dan gadis kecil itu saling menemani tanpa sapa.

“Terakhir dia bilang padaku, menunggu adalah caranya hidup. Dia tidak meninggal karena rindu. Justru dia bertahan hidup.”
Wanita itu memeluk sang perempuan, menangis hebat dalam pelukan. Lalu berpisah tanpa mengucap sampai jumpa. Sebab mereka tak mau memberi harapan hingga harus menunggu.

Dari anak dan ibu itu, sang perempuan menyadari.

Bahwa harapan tak pernah meninggalkan manusia. Meski manusia tak percaya bahwa ada harapan di balik kesakitan. Harapan tetap ada.

Seperti ibu dan anak itu. Sang ibu berharap anak gadisnya hidup dan sehat. Sang anak berharap ibunya lekas pulang dan melepas rindu.

Sampai meninggal. Harapan itu tetap ada dan terwujud. Meski tak bertemu di dunia. Setidaknya, gadis kecil itu akan dibisiki oleh Tuhan.

Harapanmu, telah terwujud, sayang. Tidurlah yang nyenyak. Tugasmu hanya berusaha. Jika kau percaya, takdir manis-Ku akan bekerja.

3 Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

makanan khas papua

5 Makanan Khas Papua Selain Papeda yang Mesti Kamu Coba

Difabel dan stereotip

Difabel dan Stereotip, Bagaimana Sikap Kita Seharusnya?