in

Hal-hal yang Masih Sering Disalahpahami di Indonesia

Sudah Saatnya Mengubah Kepercayaan yang Bikin Salah Paham

Yang masih sering bikin orang Indonesia salah paham

Sahabat Ublik, adakah di sekitar kalian sebuah mitos atau kepercayaan tak berdasar atau bikin salah paham yang masih ‘dilestarikan’ sampai hari ini? Barangkali hal itu terdengar tidak masuk akal, tapi karena banyak yang mempercayainya, antara benar dan tidaknya jadi terlihat samar-samar. Bahkan ada yang menganggap bahwa mitos itu benar, dan melakukannya juga.

Sudah tahu kan kalau mengubah kebiasan itu susahnya seperti mencoba sesuatu pertama kali? Maka, kalian harus baca artikel ini sampai habis agar tidak terjebak lebih jauh dan lebih lama dalam kebiasaan yang salah ini.

1.Makanan Jatuh ke Lantai? Ambil Lagi, Asal Belum 5 Menit

belum 5 menit salah paham
Belum 5 menit, sehatkah? (Sumber: YouTube Kok Bisa)

Kalian pasti tidak asing dengan kebiasaan yang sangat populer ini. Entah siapa dulu yang memulainya. Konon katanya mitos ini bermula dari sebuah kerajaan bernama Mongol. Raja di sana memerintahkan rakyatnya untuk makan makanan yang jatuh ke lantai sebelum 12 sampai 20 jam. Mau tidak mau hal tersebut terpaksa dilakukan demi menghemat persediaan makanan. Kemudian waktu jatuh di lantai dikurangi sampai 5 menit.

Tetapi, asal usul ini masih menuai pro dan kontra. Pasalnya ada pendapat lain yang mengatakan bahwa asal usul belum 5 menit ini datang dari sebuah iklan pembersih lantai di Indonesia yang tayang pada tahun 1992 sampai 2000. Produk tersebut menjelaskan betapa ampuhnya produk tersebut untuk membunuh kuman di lantai. Dengan adegan bintang iklannya menjatuhkan sebuah anggur ke lantai sambil mengatakan “mumpung belum lima menit”. Hal itu membuat masyarakat kemudian percaya bahwa makanan yang jatuh ke lantai belum sampai lima menit masih boleh dimakan. Wah, bahaya juga efek iklan ya, masih lestari sampai hari ini.

Tapi menurut Profesor Paul Dawson dari Camlon University mengatakan bahwa perpindahan bakteri ke makanan tidak tergantung seberapa lama waktu jatuhnya, namun pada banyak atau tidaknya bakteri di lantai. Sedangkan kita tahu bahwa banyak sekali bakteri, bahkan di tubuh kita. Ada makanan yang jatuh dan dalam hitungan detik langsung terkontaminasi dengan bakteri! Jadi ungkapan “mumpung belum lima menit” hanyalah mitos belaka.

2.Membungkus Makanan dengan Kertas Koran atau Plastik Hitam

kertas koran
Ilustrasi kertas koran sebagai bungkus gorengan (Sumber gambar: Shutterstock)

Beberapa orang masih tidak acuh pada peringatan bahwa kertas koran dan plastik hitam daur ulang itu berbahaya. Tinta pada koran jika terkena panas akan mengeluarkan senyawa yang berbahaya. Lagi pula, kita tidak tahu sebelumnya kertas itu sudah terkena apa saja sampai jadi kering kembali.

Plastik hitam terbuat dari bekas daur ulang plastik lama. Kita juga tidak tahu, apakah plastik itu bekas kotoran atau plastik buangan dari rumah sakit yang mengandung virus maupun bakteri. Masih maukah kamu menggunakan keduanya untuk membungkus makananmu?

Direktur Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya BPOM, Mustofa mengatakan, “Terkadang makanannya sudah aman, tetapi wadah yang digunakan untuk makan atau membungkus makanan itu sendiri ternyata yang mengandung bahan berbahaya.”

3.”Buang sampah sembarangan? Tidak apa-apa kok, daripada petugas kebersihan nggak punya kerjaan”

sampah makanan salah paham
Meja bekas makan turis Indonesia di Jepang. (Sumber gambar: Facebook Tyas Palar)

Di beberapa restoran ada peringatan bahwa pembeli harus membuang sampah makanan kita sendiri. Bahkan bagi siapa pun yang meninggalkan sampah di mejanya akan terlihat aneh dan tidak punya etika.

Tetapi bagi orang Indonesia yang lebih akrab dengan warung makan yang pelayannya membersihkan meja makan, hal seperti ini seolah jadi kebiasaan yang terus-menerus dipraktikkan pada yang bukan tempatnya.

Apalagi kita ketahui kebiasaan membuang sampah sembarangan juga sudah seperti penyakit. Kita bisa lihat saat ini dalam berita yang disiarkan di televisi atau media sosial, bahwa pantai dan sungai kita sudah tercemari sampah yang luar biasa banyak. Jangan jauh-jauh, di sekitar kita bisa lihat sembilan dari sepuluh orang yang dengan tidak bersalahnya membuang sampah di sembarang tempat.

Padahal ini bumi kita, kita yang tempati dan kita yang akan mendapatkan efek apapun dari perlakuan kita terhadap bumi. Lagi pula, petugas kebersihan punya banyak kerjaan kok. Misalnya membersihkan daun-daun yang berguguran atau rumput di jalan yang akan lebat jika tidak dicabuti. Sebagai makhluk berakal sudah sewajarnya kan menjaga yang dititipkan kepada kita? Yaitu bumi ini.

4.Pendidikan Tidak Menjamin Masa Depan?

Banyak sekali orang tua yang beranggapan bahwa pendidikan tinggi tidak menjamin masa depan. Apalagi dengan membandingkan anak tetangga sebelah yang kuliah jurusan A kemudian kerja di bidang yang jauh sekali dari jurusan sekolahnya.

Atau, untuk perempuan: Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya di rumah juga menjadi ibu rumah tangga? Padahal, kelak perempuan akan melahirkan penerus bangsa ke dunia. Darinya pelajaran pertama yang akan selalu membekas di benak seorang anak. Yang membersamai terbentuknya karakter anak tersebut.

5.Di SMA, Jurusan IPA adalah Jurusan Orang Pintar

jurusan sma salah paham
IPA vs. IPS?(Sumber gambar: Ibnulinggasakti.wordpress.com)

Seorang ahli ekonometrika juga peraih Nobel, Prof. Robert Engle mengatakan bahwa pola pikir siswa sekolah saat ini masih terjebak pada pemahaman sempit mengenai pilihan ilmu pengetahuan yang ingin dipelajari. Mereka masih banyak membandingkan jurusan mana yang lebih pintar dan lebih bergengsi tentunya.

Berawal dari orangtua yang menanamkan pada anak-anak mereka dengan memaksa anak untuk masuk jurusan IPA. Mereka bilang dengan begitu akan terlihat lebih pintar dan lebih eksklusif.

Padahal kecerdasan sendiri tidak bisa diukur dengan masuk jurusan tertentu. Setiap anak tentu punya minat dan bakat yang berbeda-beda. Justru memaksa anak untuk masuk ke jurusan yang tidak sesuai akan membuat bakatnya tidak berkembang.

Karena tidak ada dokter yang lebih pintar dari seorang ahli ekonomi. Dan tidak ada ahli ekonomi yang lebih pintar dari dokter. Keduanya pintar dan amat sangat dibutuhkan dalam bidang masing-masing.

Banyak juga yang mengatakan bahwa hal itu dilihat dari pelajaran IPA dan IPS yang jauh berbeda. Katanya IPA lebih banyak hitungan daripada hafalan dibanding IPS. Padahal kita semua tahu bahwa kedua pelajaran ini ditemukan di kedua jurusan. Dan kita tahu, bahwa menghafal dan menghitung punya peran sama pentingnya. Kita tidak akan bisa menghitung jika tidak ingat rumusnya.

Jadi berhenti membandingkan mana yang lebih pintar dan lebih unggul. Sebab negara juga butuh orang dengan bakat dan bidang yang berbeda. Jangan bersedih.

6.Main Gadget = Buang Waktu

Orang tua masih suka beranggapan bahwa kamu main terus dan buang-buang waktu hanya karena pegang gawai? Rasa-rasanya kamu harus beritahu ini pada mereka. Bahwa, sekarang ini kita bisa belajar banyak lewat internet daripada buku yang kita punyai. Sekarang semua bisa dilakukan lewat gawai. Berjualan, belajar, mengerjakan tugas, menulis, sampai membaca Al Quran.

7.Salah Paham soal Pemilu

salah paham pemilu
Salah paham dengan pemilu (Sumber gambar: Satujam.com)

Peduli dengan sesuatu itu baik, termasuk pemilu. Apalagi mendukung berlangsungnya pemilu agar tidak ada yang menyia-nyiakan hak suaranya. Presiden barangkali bisa membuat negara jauh lebih baik. Namun, kamu perlu tahu presiden tidak akan mendengarkan curhatanmu seperti temanmu mendengarkan. Jadi untuk apa mengorbankan pertemanan, hanya karena beda pilihan?

Dan juga, ingat satu hal: siapapun yang jadi presiden nanti, tanggung jawab menafkahi dirimu sendiri atau keluarga tetap di tanganmu. Presiden tidak akan membukakan jalan untukmu menjemput impian, karena kenal kamu saja tidak.

Siapapun presidennya nanti, tidak akan mengubah hidupmu. Barangkali negara ataupun kota akan tersistem lebih baik. Tapi kalau hidupmu tetap begitu-begitu saja, semua tidak akan berubah. Siapa lagi yang akan disalahkan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

sedotan plastik , miniatur sepeda

Pemuda Karawang Mengekspor Miniatur Sepeda ke Amerika dan Eropa

jalanan

[Ruang Fiksi] Sajak dari Jalanan dan Cerita di Baliknya