Memilih berkarier menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) sering dicap sebagai buruh negara yang tidak bisa merdeka, sulit menjadi idealis, dan tidak bisa berkutik alias tunduk pada kuasa sistem pemerintah yang mematikan nalar kritis. Betulkah?

Sejak 28 September 2018 silam, laman sscn.bkn.go.id menjadi terlihat sangat sibuk trafiknya. Banyak yang sampai mencuri waktu agar dapat momentum yang tepat untuk mengakses laman tersebut. Semua dilakukan demi mendapatkan kecepatan bandwidth untuk mendaftarkan diri sebagai peserta dalam tes CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) tahun ini.

Penerimaan CPNS 2018 (Sumber: gatra.com)

PNS = Pegawai Ngutang Selalu?

Sungguh antusiasme masyarakat untuk menyambut kesempatan bekerja, juga berkarier, sebagai abdi negara tidak bisa dibendung. Bahkan ada kawan saya yang sebegitu bersyukurnya sudah bisa mendapatkan kartu tes. Ia sampai rela begadang demi mendapatkan kartu tes tersebut, dengan spekulasi bahwa tengah malam tidak banyak yang sedang mengakses web sscn. Bayangkan bagaimana rasanya jika ia bisa sungguh-sungguh diterima kalau bisa mendapatkan kartu tesnya saja sudah sebegitu riangnya?

Tapi di sisi lain, ada juga orang yang berpra-anggapan bahwa orang-orang semacam kawan saya tadi adalah anak muda yang merelakan dirinya untuk menjadi buruh negara. Kesadaran mereka dinilai seolah sudah dibius dengan angan-angan stabilitas gaji serta tunjangan yang akan diberikan jika benar-benar bisa menjadi PNS. Bahkan dagelan-nya, banyak menyebut PNS sebagai “Pegawai Ngutang Selalu”.

Bagaimana tidak? Slip gaji PNS dan karyawan BUMN selalu dipermudah untuk mengajukan pinjaman ke lembaga perbankan. Tidak seperti pengusaha swasta, apalagi freelancer alias tenaga lepas.

Belum lagi status dan pengakuan sosial yang dengan sendirinya didapatkan oleh orang-orang yang bisa bekerja dengan “seragam”. Kalau sudah jadi PNS, orang tua pasti lebih tenang dan menganggap anaknya sudah “mapan”.

Siapa yang tidak tergiur?

Ilustrasi PNS vs Wirausaha (Sumber: tebarnews.com)

Oleh sebab segala kenikmatan itu, orang-orang yang anti PNS-PNS club ini sudah memicingkan mata bahwa kubu PNS-holic kelak tidak akan bisa menjadi manusia yang kritis. Tunduk saja dengan apa kata pemerintah. Mudah ikut arus utama. Dan yang pasti, tidak punya idealisme.

Tapi di tulisan ini saya memilih untuk berada di posisi yang liminal. Secara empirik, saya sudah mengumpulkan beragam pendapat terkait PNS ini dari teman-teman seumuran saya, di atas dan bawah saya beberapa tahun. Sehingga saya tidak ingin memihak salah satu, sebab keduanya memiliki celah benar dan keliru yang sama besarnya.

PNS dan Bonus Demografi

Sekarang begini. Negeri ini sudah digadang-gadang akan menghadapi bonus demografi karena jumlah usia produktifnya di tahun 2020 mendatang sangat banyak. Nah, kalau dari sekian juta manusia berusia produktif yang merupakan bibit unggul tidak ada yang berkenan untuk mengabdi kepada negara, lalu kepada siapa lagi kita berharap untuk memperbaiki sistem pemerintahan negeri ini?

Janganlah buru-buru mencela mereka yang mendaftarkan diri sebagai PNS adalah orang-orang pragmatis yang semata-mata mengejar stabilitas finansial. Masih banyak orang yang memiliki prinsip dan tidak seperti apa yang distereotipkan kepada mereka yang memilih jalur PNS ini. Boleh jadi mereka mencoba untuk tes CPNS karena memang ada niat yang mulia untuk ‘memberi warna’ pada sistem yang bergulir. Alih-alih tidak bisa mengubah sistem yang sudah mapan, paling tidak jiwa-jiwa mereka yang kritis tadi bisa sedikit menggoyang kekuasaan arus utama yang terus digelorakan.

Meskipun kita tahu bahwa setelah masuk ke sistem, banyak orang yang terbukti tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa mengritik, tidak lagi idealis, dan semakin pragmatis. Yang penting beres, capeknya ‘terbayar’, keluarga di rumah tidak lapar. Selesai. Tapi ya sudahlah, hargai niat awal mereka. Sebab tidak sedikit mereka yang di kemudian hari mulai tidak nyaman, karena tidak bisa bekerja sesuai hati nurani *katanya. Akhirnya mereka memilih ‘pensiun dini’ dan menjadi ‘manusia merdeka’.

Kutipan Pram tentang PNS (Sumber: https://www.kompasiana.com/shomamarifat/)

Layaknya manusia yang baru saja ‘berhijrah’, manusia merdeka yang (mohon maaf) karbitan ini pasti dengan mudah senyum sinis kepada mereka yang berambisi menjadi PNS dan merasa nyaman-nyaman saja menjalaninya. Mereka mulai melakoni peluang-peluang bisnis dan pekerjaan yang kata mereka lebih membuat mereka nyaman bisa berdikari. Ya walaupun sesekali mereka harus terpaksa abai ketika pemasukan setiap bulannya tak lagi stabil, sulit untuk memiliki properti karena tak punya slip gaji, harus selalu siap dengan kenaikan harga komoditas, dan siap tak acuh ketika dilabeli sebagai orang yang sok idealis.

Padahal kalau kedua belah pihak ini bisa melakoni peran secara harmonis, pasti negeri ini akan lebih berkembang ke arah yang lebih baik. Saya sendiri membayangkan apabila, baik yang menjadi abdi negara maupun mereka yang memilih hidup berdikari ini, melakoni perannya masing-masing dengan damai.

Misal: ketika sistem pemerintahan mulai melenceng dari kepentingan publik, maka mereka yang merdeka tadi dengan sigap memberi saran dan kritik untuk perbaikan para asisten negara tadi. Relasi yang terjalin pun bisa dibangun secara dialogis, dua arah, tanpa perlu merasa lebih berkuasa atas salah satu pihak.

Sebab menurut hemat saya, keputusan menjadi PNS bukanlah sesuatu yang hina. Pun memilih untuk idealis dengan tidak larut dalam arus utama juga merupakan sesuatu yang mulia. Saya sendiri melihat isu ini ibarat pilihan politik yang tak perlu diumbar secara radikal hingga menjadi perang argumen yang tak berkesudahan. Saling menjelekkan pilihan masing-masing itulah yang tidak bisa saya terima. Bukankah kita seharusnya bisa saling mendukung pilihan masing-masing individu, sambil saling mengingatkan agar tidak terlalu bersikap berlebihan atas pilihannya?

 

(Sumber gambar utama:  sscn.bkn.go.id )