in

[Ruang Fiksi] Kemerdekaan Ini Milik Siapa?

Untukmu yang masih terus bertanya, kemerdekaan ini milik siapa?

KEMERDEKAAN INI MILIK SIAPA?

 

Kemarin ketika tak ada hiperbola selain hari kemerdekaan, para pejuang masih bertaruh apa saja di atas medannya.

Begitu rona merah seperti menebarkan api di langit yang putih, sesudah itu semua hampir menjerit, pertempuran yang tak seimbang akan memusnahkan semua.

Tapi tidak apa. Demi merdeka, jiwa-raga rela dikorbankan. Nyalang dan nyawa terpanggang tak jadi apa.  Lantas ketakutan, getir, anyir darah dan lelah tentu saja terabaikan

Tapi, “Itu bodoh. Jangan mati dulu. Kau harus terus hidup untuk melihat apa yang akan terjadi setelah ini. Untuk apa berjuang kalau hanya untuk mati? Aku masih akan jadi bentangan luas yang kau pijaki.” Begitu kira-kira kalau tanah ini dapat berbicara, pada mereka yang berjuang sekuat tenaga.

Baiknya kita tanya saja pada langit yang sebentar lagi ikut mencatat nama pejuang kita yang baru saja menyumbang nyawanya. Mungkin dalam tiap awan pekat, oleh zaman perang yang menjadi cerita sejarah dan dihapal oleh anak cucu, bisa saja kita termangu pada hujan yang pada hari itu menjadi peluru. Lantas bolehkah kami bertanya, kemerdekaan ini sejatinya tentang merebut apa?

Sudahlah, kita tiba pada tujuh puluh empat tahun sesudahnya. Pilih saja wajah khatulistiwa kita pada bayangan pada langit di atas luas samudera, atau pada aliran sungai keruh yang membelah ibukota: ada anak-anak yang mengemis setelah menonton upacara hari merdeka, ada lalu lalang dan kesenjangan tak terkira di kontestasi jalanan. Atau kita masih terus bertanya, kemerdekaan ini milik siapa?

Kota Malang, 2013

 

kemerdekaan , tugu pahlawan

DI ATAS AKSARA MERDEKA

 

Tatkala semua bersikeras akan kemajuan. Kami anak-anak merdeka kenalkan diri pada dunia. Tak pernah terpejam dalam panggung pertempuran. Gerilya di hutan angkara. Melintas persada luka.

Kami belum mampu menyambung jiwa. Yang berceloteh dengan caranya. Kala lautan lumpur di timur memancar ketakutan yang mengabur. Api di ujung utara habisi kehidupan sesama. Ah, ada yang lebih membahana: ledakan gas dari dapur ibu kami.

Tapi kami jiwa-jiwa merdeka. Tak akan menimbun ladang kecewa. Sedang di sebelah kami ada wujud lain tangisan bangsa. Kami masih bisa bersyukur atas aksara merdeka. Dalam segala sajak patriotik pelebur dahaga. Menyiram tanah yang merindu sejarah. Di bawah mentari ke tujuh belas.

Tatkala sebagian berlepas tangan pada pemberontakan. Pada negeri merdeka ini. Kami hidup tanpa curiga: masih tegakkah merah putih di halaman istana? Sebab katanya, ada saat di mana aliran darah terakhir kami adalah harga murah.

Kalaupun zaman ini ada gerbang pembuka, aksara merdeka tak menjadi pengampun menit-menit bejat, rakyat atau wakilnya yang terhormat.

Di hadapan jalan pengarah kebebasan. Kami bisa merdeka tanpa pura-pura. Tanpa dikelabuhi. Tanpa dibuat terlena.

Ketika semua berseteru akibat kepentingan. Kami hanya bermimpi tentang tepi jalanan yang tenang, yang tak ada penyusup di garis pejalan, entahlah, di atas aksara merdeka, kami tetap ada untuk membela.

Kab. Wonogiri, 17 Agustus 2010 Pukul 09.44 wib (Menjelang upacara kemerdekaan)

 

kemerdekaan , bendera indonesia

UNTUKMU INDONESIAKU

 

Untukmu Indonesiaku, ada yang bilang bahwa untuk mencintaimu berarti membaca narasi ketidakpastian. Ada lagi yang bilang bahwa dari Sabang sampai Merauke adalah kedamaian yang kau janjikan pada hijaumu.

Ribuan pulau dihamparkan seluruh penjuru angin. Dari luar sana anak bangsamu terus bergerak. Atau setidaknya menitip rindu pada aliran sungaimu. Untukmu Indonesiaku, bila untuk mengenalmu, berarti kami harus meninggalkanmu beberapa saat, tak mengapa, nanti akan kucoba.

Dan ini aku, bersama anak-anak dari seberang pulau yang meleburkan harap ke dalam sajak katulistiwa. Bekerja, berlarian, untuk menziarahi masa depan, melintasi ladang gembala hingga ke dinding kota.

Biarpun orang berkata apa saja tentangmu, kau tetaplah tanah air, tempat kami beradu dengan nasib yang kadang getir. Biarpun terik tanah rantau dan jalanan meradang. Pada langit kala itu kau bilang selamat berjuang, sampai saatnya kami berpulang.

Kota Solo, Agustus 2019

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

orang , kegagalan

Setelah Mengalami Kegagalan, Saatnya Mendesain Ulang Kehidupan

liburan, no telp big bird

Paling Tidak Sekali Seumur Hidup Coba Rencanakan Liburan Impianmu