in

[Ruang Fiksi] Aksara yang Berhenti Sejenak di Persinggahan

Ratusan aksara penuh tanda tanya, di suatu ruang gelap di kepalaku

MEMANDANG PETA DUNIA

Sesekali kita memandang peta dunia, yang tertempel di dinding kamar masing-masing. Lalu berjuntailah ratusan aksara penuh tanda tanya. Dari suatu ruang gelap di kepalaku. Yang entah apa namanya. Nanti, kalau boleh akan kutanyakan padamu.

Aku anak seberang. Berkamuflase diri jadi metafora. Belum paham sekali isi dunia

Sementara itu…

Letup semesta menggulung petala rindu. Ya, masih rindu yang sama, yang harus diserahkan pada pemiliknya. Lihat itu, peta dunia menganiaya gelap terang mimpimu.

Dirimu bocah kecil itu. Menyelinap petala langit. Ingin pamit melanglang buana, izin sejenak lihat angkasa raya, pergi kelilingi dunia. Jadi bagaimana menurutmu: boleh aku ikut?

(Wonogiri, 6 Februari 2013)

puisi , bangku

PUISI DI PERSINGGAHAN

Di bangku tua itu, sudah lama kita tidak dipersaksikan kembali. Pada sekawanan makhluk langit, yang berkenalan dengan aroma rumput di atas bumi. Pun tak ada keterasingan yang kerap kau tawarkan pada angin.

Kemudian keheningan menjadi demikian riuh di kepala kita masing-masing. Dan pada tepian waktu yang lain, di sana hanya tinggal garis tepi antara ingatan pias, juga denyut asing di antara persinggahan jejak kaki, yang kau pasti belum pernah tahu bekas langkahnya.

Di persinggahan, pada suatu ujung siang yang hambar itu, dan dari segala rupa perkara, sesekali kita bicara soal logika dan kalimat tanya: adakah yang bergerak lebih cepat dari kecepatan cahaya?

Dan dari persinggahan itu, dirimu bercerita dan lebih banyak bertanya. Bukan lagi sekadar tentang anak muda yang gelisah tentang hari-hari di depannya. Atau soal hitungan-hitungan aneh dalam buku-buku tua di sekolah. Pada pagi itu di atas meja kita, kau bertanya tentang: mengapa perjalanan pulang terasa lebih sebentar daripada perjalanan pergi? Tentu tanpa menghitung seberapa lama kamu singgah.

Dan pada akhirnya, di antara remah-remah pembatas keberdayaan, yang katanya terpusat dari tempurung kepala kita, serta merta luruh sendirinya pada penghujung terik siang. Aku tak merebut lagi ingatan-ingatan serupa ilusi waktu. Atau megejar makhluk liar di atas bumi yang barangkali mati, tak lama lagi.

…………………………………..

21.09

(Wonogiri, Agustus 2012)

 

 

AKU TINGGAL DI KERTAS

Beri aku angin, dan aku tak bisa menahan kesiurnya. Persaksikan aku pada lembar-lembar peristiwa. Dan segala tentang deret aksara, yang lebih dari sejuta eksotika.

Beri aku kertas dan pena, lalu aku akan hidup di dalamnya bersama aksara penuh nyawa. Pada tiap yang putih, lembar kertas menjemukan, aku hidup demikian lama. Sesekali meracau retorika, logika, dan olah rasa.

Bahkan resonansi bilangan, angka, dan teorema hinggap di kepala. Semua adalah tentang bait yang berkelakar jadi pagar kata-kata.

Ya, barangkali aku adalah kertas yang berkelindan pada segala pena yang menulis aksara. Yang meski mengigau di keabadian, sesekali aku masih ada di kertas. Pada ilustrasi bias dan perihal lain yang tak terbatas.

Aku tinggal di atas kertas, pada segala ingatan tentang aksara dan keabadian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

belanja, penggunaan kartu kredit

Memilih Berhenti Menggunakan Kartu Kredit atau Bangkrut?

pendidikan di Indonesia , sekolah

Benarkah Pendidikan di Indonesia Ranking Terbawah di Dunia?