Jujur saja, pasti kamu pernah melakukan ini sebelum tidur: membuka gadget untuk sekadar melihat-lihat perkembangan di halaman media sosial. Atau bahkan kamu melakukannya ketika bangun pagi. Membuka gadget terlebih dahulu ketimbang segera bergegas ke kamar kecil. Mungkin ini terlihat seperti hal sepele, tapi ternyata bisa menyimpan risiko jika dilakukan terus menerus.

Ilustrasi (Sumber: Pixabay)

Para ahli dari Royal Society of Public Health (RSPH), sebuah lembaga independen di bidang kesehatan masyarakat di Inggris pernah melakukan survei terkait aktivitas masyarakat dengan media sosial. Survei tersebut melibatkan sebanyak 1.479 remaja dan orang dewasa muda berusia 14-24 tahun dalam kurun waktu antara bulan Februari hingga Mei 2017.

Bagaimana hasilnya? Instagram disebut sebagai media sosial yang paling banyak berkontribusi untuk meningkatkan kecemasan, depresi, dan ‘wabah’ FOMO (fear of missing out). Apakah yang dimaksud FOMO itu? FOMO adalah situasi di mana orang-orang merasa takut ketinggalan berita terbaru atau istilahnya yang kekinian: mereka takut tidak update.

Baca Juga: Nissa Sabyan dan Sederet Artis Dadakan dari YouTube, Gimana Nasibnya?

FOMO ini kemudian dianggap sebagai salah satu penyakit yang menjangkiti orang-orang yang tidak bisa lepas dari media sosial setiap harinya. Karena seseorang merasa takut kalau ketinggalan informasi terbaru di dunia maya, sehingga FOMO menyebabkan seseorang selalu gelisah, takut ketinggalan tren, merasa terkucilkan, dan kurang percaya diri jika tidak terhubung atau mengikuti tren, khususnya yang berkembang di media sosial.

Ilustrasi (Sumber: Pixabay)

Media Sosial Pada Awalnya

Media sosial pada awalnya memang sebuah alat untuk menunjang kehidupan manusia untuk menghibur, menghubungkan teman lama, atau berbagi hal-hal menarik. Seiring perkembangan media sosial, banyak orang yang menilai orang hanya dari tampilan media sosialnya, lalu mereka cenderung membandingkan nilai positif tertentu yang ada pada diri sendiri dengan orang lain yang terlihat lebih baik darinya. Apakah kamu juga pernah begitu?

Baca juga: Belajar Melestarikan Budaya Daerah melalui Media Kekinian ala YouTuber

Media sosial bisa menjadi ‘panggung’ bagi setiap orang. Apapun yang ingin mereka tampilkan, semua bisa dilakukan. Pernahkah kamu merasakan saat membuka media sosial sepertinya banyak teman kita yang selalu mendapatkan apa-apa yang kita belum miliki? Mereka liburan ke tempat indah dan terkenal, nongkrong di tempat-tempat yang nge-hits, membeli barang mahal, dan sebagainya. Lalu pikiran skeptis dan nyinyir itu muncul begitu saja: Memangnya mereka punya uang dari mana sampai bisa melakukan semua itu? Atau jika itu terjadi pada teman yang kita kenal dengan baik, mungkin kita akan berpikiran: sepertinya pekerjaannya sama dengan kita, lalu lagi-lagi kita bertanya: mengapa mereka terlihat hedon di media sosial? Dan bermacam bentuk nyinyir lainnya.

Kita tahu, seringkali orang mengunggah foto hanya untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Ketika ada kesempatan, mereka mengunggah beberapa foto dalam sehari, entah itu tentang makanan, pakaian ala-ala ootd (outfit of the day), tips liburan, review produk, dan juga kegiatan mereka hari itu. Ketika banyak yang memberi feedback positif, tentu mereka senang. Begitu pun sebaliknya.

Di sisi lain, apa yang bisa disaksikan melalui media sosial itu bisa sangat mempengaruhi kecemasan dan ketidakpuasan dalam diri seseorang, terutama anak muda yang masih proses membentuk identitas dirinya. Disadari atau tidak, semakin banyak melihat media sosial, kita merasa jadi orang yang kurang bahagia karena kehidupan orang lain di luar sana terlihat lebih baik, padahal realitanya tidak banyak yang tahu.

Baiklah, seperti apapun gaya hidup orang sebenarnya dan mengapa harus pamer di media sosial, sebenarnya, apa yang kita saksikan di media sosial merupakan cerminan dari citra yang ingin mereka bangun. Ketika orang melakukan posting di media sosial artinya mereka ingin orang lain melihat hal itu. Apapun profesinya, manusia memiliki kebutuhan untuk menilai dirinya sendiri. Semua orang ingin mendapat pengakuan, khususnya pengakuan positif dalam kehidupan sosial, misalnya dalam hal penampilan, pencapaian, atau kemampuan dalam bidang tertentu. Nah, untuk mendapatkannya kita dapat memenuhinya dengan cara membandingkan antara diri kita dengan orang lain, khususnya orang lain di sekitar kita.

Fenomena seperti itu bisa dijelaskan dalam teori perbadingan sosial yang disebutkan oleh Leon Festinger pada tahun 1954. Membandingkan dengan orang yang lebih dari kita dalam bidang tertentu memang dapat memberi inspirasi agar menjadi lebih baik. Hal ini disebut dengan upward comparison. Meskipun begitu, tidak jarang jika itu dapat menjadi beban tersendiri.

Sebaliknya, kita pun bisa membandingkan hal-hal negatif pada orang yang dalam hal tertentu dinilai tidak lebih baik dari kita. Memang karena kita terlalu peduli dengan status sosial diri sendiri, terkadang melihat orang lain lebih menderita itu membuat kita lebih percaya diri. Hal ini disebut dengan downward comparison. Di  era yang mana kesuksesan sering diukur dari banyaknya followers di media sosial, bagi sebagian orang, upaya agar terlihat eksis bisa jadi ditempuh melalui berbagai cara. Kadang ada yang tidak memperhatikan etika dan justru merugikan diri sendiri misalnya; mencari sensasi, menyebar info kontroversi, atau melakukan hal di luar aturan dan norma.

Ilustrasi keramaian (Sumber: Pixabay)

Seperti Pisau Bermata Dua

Kita tahu bahwa media sosial pada hari ini menyediakan ruang yang begitu luas untuk berbagi banyak informasi, berinteraksi dengan banyak orang, membuat orang lebih eksis, dan menciptakan peluang-peluang baru. Meskipun kita bisa mendapat manfaat yang begitu banyak dari perkembangan media sosial, tapi media sosial juga seperti pisau bermata dua. Akan jadi hal positif atau negatif dan seberapa besar ia akan memberi manfaat itu tergantung yang menggunakannya.

Tidak ada yang mengharuskan bahwa kita harus terkenal, khususnya di media sosial. Tidak juga ada ukuran bahwa tingkat kualitas seseorang berbanding lurus dengan seberapa banyak orang yang mengenalnya. Hanya saja, popularitas menjadi penting bagi orang-orang tertentu. Tidak hanya untuk personal branding tapi juga untuk kepentingan marketing digital, jika mereka adalah pebisnis online.

Kembali ke tujuan awal diciptakannya media sosial sebagai penghubung antara orang-orang yang terpisah jarak atau teman lama tidak bertemu. Alangkah baiknya jika kita tidak sampai mengalami ketergantungan atau menjadikan dunia maya itu sebagai prioritas. Coba lebih bijak menggunakan media sosial, karena bagaimana pun kehidupan sejati ada di dunia nyata.

 

(Sumber gambar utama: Pixabay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.