Tak puas rasanya jika bulan ini tidak membahas tentang peraih tempat tertinggi di Google Play Store sebagai “Aplikasi G*bl*k”. Aplikasi asal China itu sudah berhasil ‘mengubah’ kegiatan anak muda Indonesia yang biasanya mainan Mobile Legend, berubah jadi lebih eksis dengan video yang dirasa bisa mengasah kreativitas penggunanya.

Tik Tok sendiri merupakan aplikasi yang dibuat oleh perusahaan pembuat teknologi yang sangat canggih di negaranya sana, namanya adalah ByteDance. Dengan mengandalkan teknologi yang berbasis Artificial Intelligence, aplikasi Tik Tok bisa ‘mengerti’ segala keinginan yang dilakukan penggunanya, meskipun hanya melalui sebuah gerakan.

Pilihan Editor;

Saking canggihnya aplikasi yang satu ini, BYTEMOD PTE LTD sebagai pengembang aplikasi Tik Tok bahkan mengklaim aplikasinya itu bisa melakukan pengenalan wajah dengan kecepatan tinggi yang akan disugestikan dengan berbagai ekspresi pada wajah. Jadi aplikasi Tik Tok saking canggihnya bisa mendeteksi ekspresi imut, keren, konyol, dan bahkan malu-maluin juga bisa dideteksi oleh Tik Tok.

Kenapa Tik Tok di Indonesia jadi ‘Aplikasi Goblok’?

Gambar: dokumen pribadi

Dengan begitu canggihnya aplikasi Tik Tok itu, membuat orang Indonesia menjadi terlena dan banyak yang menginstall aplikasi itu, terutama para pengguna Android. Tapi yang cukup mengejutkan, ketika mengetik kata kunci ‘Aplikasi Goblok’ di PlayStore, Tik Tok bisa berada di posisi teratas. Ternyata itu semua berasal dari testimoni para pengguna yang menurutnya aplikasi tersebut banyak konten yang tidak pantas atau bisa disebut ‘kurang pintar’. Banyak konten yang seperti menyalahgunakan fitur canggih dari Tik Tok yang sebenarnya bisa digunakan lebih bijak lagi.

Muncul Drama Tik Tok

Drama Tik Tok
sumber: inilah.com

Berawal dari berbagai lagu yang terkenal akibat banyaknya video Tik Tok yang beredar, itu membuat semakin banyak orang yang membuat konten di Tik Tok. Dan bukannya kualitas konten semakin baik, justru banyak orang yang menyalahgunakan aplikasi tersebut. Seperti membuat konten vulgar, konten asusila, dan banyak konten negatif lainnya yang sebenarnya tidak pantas menjadi konsumsi publik.

Karena banyaknya orang ‘anti Tik Tok’ mengeluhkan tentang konten negatif tersebut, sehingga muncul berbagai petisi tentang pemblokiran aplikasi asal China tersebut. Dan karena buktinya begitu kompleks, petisi itu langsung ditanggapi oleh pemerintah dan dengan cepat tanpa basa-basi, pemerintah melalui Kemkominfo langsung memblokir beberapa DNS milik Tik Tok sehingga tidak bisa diakses menggunakan internet yang ada di Indonesia.

Karena pasar Tik Tok di Indonesia begitu tinggi, Bytemod sebagai pengembang aplikasi Tik Tok, langsung gercep terbang ke Indonesia menemui Kominfo dan intinya meminta aplikasi Tik Tok di unblock di Indonesia. Setelah berunding dengan beberapa perjanjian, Kominfo secara gercep juga langsung membuka blokiran pada Tik Tok sehingga aplikasi itu bisa kembali diakses di Indonesia.

Drama serupa pernah terjadi

Drama yang menyangkut Tik Tok sekarang ternyata juga pernah dilakukan oleh Kominfo pada beberapa waktu yang lalu. Yang menjadi fokus juga hampir sama, adalah aplikasi mobile yang dianggap di dalamnya memiliki konten negatif dan membahayakan.

Kejadian pemblokiran yang sempat fenomenal adalah ketika aplikasi live streaming, Bigo Live diblokir oleh Kominfo. Saat itu Bigo Live yang sedang naik daun memang diketahui memiliki beberapa konten negatif berupa konten yang cukup vulgar. Namun kejadiannya sama seperti Tik Tok sekarang, perusahaan pemilik Bigo Live menemui Kominfo di Indonesia, dan akhirnya Bigo Live tidak jadi diblokir namun dengan berbagai perjanjian.

Tidak hanya Bigo Live, selang beberapa bulan setelahnya, juga sempat viral ketika Telegram diblokir oleh Kominfo. Hal itu karena Telegram terbukti disalahgunakan oleh teroris yang dikhawatirkan akan mengancam negara. Dan sama seperti Bigo, kala itu perwakilan dari Telegram langsung datang ke Indonesia, dan ini tidak main-main, karena yang datang adalah CEO Telegram yang berasal dari Russia. Dengan beberapa perjanjian, akhirnya Telegram tidak jadi diblokir.

Tidak ada yang salah dari pemblokiran yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Namun ini menjadi bukti bahwa Indonesia masih banyak orang Indonesia yang tidak mengerti apa sebenarnya kegunaan aplikasi yang mereka gunakan di smartphone masing-masing. Untuk itu, jadilah orang yang cerdas agar tidak menimbulkan drama lagi terkait pemblokiran.