in

Dilema Buku Bajakan di Indonesia dan Apa yang Sebaiknya Kita Lakukan?

Siang hari itu di sekitar Jl. Kebangkitan Nasional belakang stadion Sriwedari Solo, terlihat beberapa anak muda menawar harga buku di sebuah kios buku murah. Barangkali mereka mahasiswa baru yang sedang mencari buku kuliah dengan harga miring. Dilihat sekilas, yang dijual di lapak tersebut kebanyakan adalah buku bekas. Itulah mengapa harganya lebih murah.

Kios buku belakang Sriwedari (Sumber: Ublik.id/Restia))

Toko Buku Sriwedari yang terletak tidak jauh dari jalan terbesar di Solo, yakni Jl.Slamet Riyadi itu memang menjadi alternatif tujuan orang-orang yang mencari buku dari berbagai genre. Bagi warga Solo dan sekitarnya, toko buku legendaris tersebut sangat terkenal. Di antara puluhan kios yang menjual berbagai buku, bahkan ada yang sudah berjualan sejak 1989. Di antara tumpukan buku yang tersusun di atas rak kios-kios yang ada, ternyata tidak semuanya ori alias buku asli. Tidak sedikit penjual yang menyediakan versi KW atau buku bajakan di lapak mereka.

Pilihan Editor;

Barangkali sudah banyak yang tahu, beberapa kota Indonesia memang memiliki pusat penjualan buku bekas dan bajakan yang begitu terkenal, khususnya di kalangan mahasiswa. Misalnya toko buku Wilis di Malang, kios Terban di Jogja, Kwitang di Jakarta, Sriwedari di Solo, dan masih banyak lagi. Menariknya, di tengah menjamurnya toko buku online, keberadaan toko buku murah itu tidak lekang oleh waktu. Beberapa orang yang berpengalaman belanja di sana memang merasa bahwa kesempatan menawar ke penjual itu bisa memberi kepuasan tersendiri. Urusan kualitas dan keaslian, nanti dulu.

Beberapa lapak yang tampak ramai (Sumber: Ublik.id/Restia)

Untuk sebagian orang, buku belum menjadi kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi. Selain itu, terlepas dari isu minat baca orang Indonesia yang masih rendah menurut survei beberapa tahun, ada baiknya kita pahami satu hal yang satu ini: pembajakan buku. Mahalnya harga buku sering dijadikan alasan mengapa pembajakan buku begitu marak di negeri ini. Lalu kenapa harga buku cenderung mahal?

Jika harus disebutkan satu persatu, proses produksi sebuah buku sejak dari penulisnya sampai ke tangan pembaca harus melalui tahapan yang panjang. Ada harga yang harus dibayar di setiap tahap, misalnya untuk menutupi biaya operasional penerbit, biaya sewa toko, PPN untuk negara, distribusi buku ke berbagai kota, juga royalti untuk penulisnya. Nah, dengan alur yang cukup panjang itu, melalui perhitungan sedemikian rupa, jadilah kita bisa melihat harga-harga buku yang dipajang di toko.

Fenomena Buku Bajakan

Tren yang berkembang selama ini, buku yang menjadi sasaran pembajakan umumnya adalah buku-buku berlabel best-seller, karena memang banyak dicari orang. Mulai dari buku pelajaran, kamus, buku motivasi populer, novel, dan bahkan buku Iqro’ tak luput dari pembajakan.

Fenomena ini bisa menjadi dilema tersendiri. Buku bajakan memang memang terkesan membantu banyak kalangan, katakanlah para mahasiswa yang membutuhkan buku berkualitas tapi terkendala dana. Atau masyarakat umum yang juga memiliki budget terbatas tapi tetap ingin bisa mendapat akses pengetahuan dengan membaca. Maka, buku-buku bajakan seolah menjadi ‘solusi’ instan karena membeli buku asli dan baru memang harganya relatif lebih mahal.

Kemajuan teknologi pun dianggap berpengaruh terhadap maraknya pembajakan karya orang lain. Dengan adanya versi PDF dan bisa diunduh gratis via online, orang-orang kemudian menjadikannya sebagai alasan pembenaran hal lain. “Bukankah sekarang zamannya paperless? Untuk mengurangi jumlah konsumsi kertas di bumi.” Ya, tidak ada salah dengan ajakan untuk mengurangi konsumsi kertas, yang salah adalah pilihan untuk menikmati hasil karya orang lain itu secara gratis.

(Foto: Pixabay)

Buku Bajakan dan Urusan Mentalitas Masyarakat

Mengapa buku bajakan lebih murah? Karena tidak ada biaya untuk masuk ke toko buku besar, tidak ada pajak, tidak ada royalti penulis, mengurangi biaya produksi, dan tidak keluar biaya distribusi yang luas. Para penjual pun mendapat untung. Lalu untuk pembaca, dengan harga yang murah, jelas mereka juga diuntungkan. Tapi bagaimana dengan penulis dan penerbitnya?

Memang dilematis. Pemerintah selalu berupaya mencerdaskan bangsa, salah satunya dengan memberi akses pada bacaan berkualitas. Tapi bisakah mereka melindungi konsumen dengan menyediakan buku-buku murah tapi berkualitas? Kenyatannya di lapangan, para penerbitlah yang mempunyai ‘kuasa’ untuk masalah perbukuan yang pada titik tertentu, orientasinya adalah untuk bisnis juga.

Di saat bersaamaan, berapa banyak masyarakat yang sadar bahwa pembajakan buku termasuk pelanggaran Undang-undang? Meskipun undang-undang itu tidak pernah benar-benar diperhatikan oleh para pembajak. Lalu mengapa pembajakan di Indonesia tidak mudah untuk diberantas? Selain karena regulasi, ini juga terkait dengan mentalitas masyarakatnya. Saat membeli buku bajakan, memang terasa untung untuk sesaat, padahal sebenarnya ada banyak pihak yang dirugikan. Mereka adalah penerbit, distributor, dan toko-toko buku yang menjual buku asli, dan tentu saja penulisnya yang sudah bersusah payah dalam menghasilkan karya.

Soal kerugian ini bukan hanya tentang faktor ekonomi, tapi juga masalah mental yang terbentuk, berkaitan dengan budaya instan dan minimnya apresiasi pada kerja keras orang lain. Harus diakui, masih ada orang-orang yang hanya berpikir untuk mendapat sesuatu yang diinginkan dengan harga lebih murah, meskipun tindakannya merugikan pihak lain. Setidaknya, ada tiga pihak yang dirugikan karena pembajakan buku, yakni penulis, penerbit, dan negara. Royalti penulis jadi berkurang, penerbit kehilangan pasarnya, dan negara pun tidak memperoleh pajak secara optimal.

Apa Bedanya Buku Asli dan Buku Bajakan?

Setelah mengerti seluk beluk buku bajakan di sekitar kita, tentunya tidak lengkap kalau tidak mencari tahu perbedaannya antara buku asli dan bajakan. Meskipun buku palsu dibuat semirip mungkin dengan buku asli, tapi tetap ada perbedaan yang mencolok apabila dicermati. Cara untuk membedakan buku asli dan bajakan sebenarnya cukup mudah. Coba perhatikan ciri-ciri buku bajakan seperti di bawah ini:

1.Kualitas Kertasnya Kurang Bagus

Warna kertas pada buku bajakan sangat berbeda dari kertas yang ada di buku asli. Tanpa harus membuka plastiknya, kita bisa segera tahu seperti apa buku bajakan itu. Buku non-ori bisa terlihat dari warna covernya yang cenderung berwarna kusam mirip kertas koran. Seperti yang biasa digunakan di fotokopi, kertasnya lebih tipis dan lebih ringan

2.Warna Cover yang Tidak Tajam

Sebelum  membeli buku, coba perhatikan dengan teliti tampilah cover buku tersebut. Jika gambar yang tercetak tidak tajam atau malah blur, bisa dipastikan kalau buku itu bajakan.

3.Tidak Ada Cetakan Timbul di Covernya

Kalau kamu sering jalan-jalan ke toko-toko buku di kotamu, mungkin akan melihat sebuah tren bahwa saat ini, banyak judul buku yang diterbitkan memiliki cover dengan cetakan timbul. Untuk mengecek poin ini, akan lebih gampang kalau kita sudah pernah melihat dan melihat tekstur dari versi asli sebuah buku yang ingin dicari.

4.Jilid Buku Kurang Rapi

Satu lagi ciri buku bajakan yaitu jilid bukunya yang kurang rapi. Bahkan ada yang sisa lemnya masih bisa terlihat. Sebagian besar buku yang tidak asli memang kurang memperhatikan bagian detail ini. Selain tidak rapi, jilidannya pun cepat rusak.

Kiri asli, kanan bajakan (Sumber: rafifamir.com)

Perpustakaan Online Bisa Menjadi ‘Titik Terang’

Meski harga buku masih terbilang mahal untuk banyak orang, bukan berarti kita lantas menjadikan pembajakan sebagai solusinya. Selain merugikan penerbit, negara, dan penulis secara ekonomi, pembajakan juga bisa mempengaruhi semangat berkarya para penulisnya. Melihat adanya kasus pembajakan yang ‘didukung’ oleh perkembangan teknologi, sebenarnya kita justru bisa berpikir alternatif lain. Tentunya alternatif yang jauh lebih murah untuk tetap bisa membaca buku berkualitas yang diinginkan: membaca melalui perpustakaan. Khususnya perpustakaan online yang bisa diakses melalui gadget masing-masing.

Adakah Solusi Lain untuk Mengubah Pola Pikir tentang Buku Bajakan?

Sebagai hasil karya dari penulis untuk pembaca, adanya buku tak lain adalah hasil kerja pikiran manusia yang ingin berbagi sesuatu, khususnya ilmu. Lalu di tengah proses produksinya, kita terlalu banyak didominasi oleh pola pikir materialistik, ketika segala sesuatunya diukur dengan uang. Kenyataannya, buku bajakan pun bisa menghidupi para penjual di lapak-lapak itu.

Coba kita kembalikan lagi ke esenisinya, sebenarnya apa tujuan dibuatnya buku di muka bumi ini? Orang yang menulis hanya ingin agar ilmunya tersebar lebih luas, dan orang yang membaca ingin mengetahui hal baru. Kenyataannya, ada orang yang mempedulikan tampilan, bagaimana buku itu dikemas, ada yang yang cuek saja. Yang penting bisa membaca isinya. Di luar hal teknis tentang mengapa pembajakan berkembang dan bagaimana solusinya, sebenarnya kita tetap bisa mengubah mindset terkait buku bajakan. Jika seruan untuk menghargai kerja keras orang lain itu masih terasa seperti perintah yang omong kosong, coba sekali-kali posisikan diri menjadi penulis yang karyanya dibajak orang. Lalu kalau ada orang yang menawarkan padamu (tentu dia tidak tahu kamu penulisnya), maukah kamu membelinya?

 

Inilah Deretan Wisata Alam hingga Wisata Kuliner Baru Paling Ngehits di Pasuruan!

Untuk Penulis Pemula: Sebaiknya Memilih Idealis atau Mengikuti Selera Pasar?