in

Difabel dan Stereotip, Bagaimana Sikap Kita Seharusnya?

Difabel harus hidup dengan stereotip tertentu (Sumber gambar: Josh Appel on Unsplash)

Kawan Ublik, tahukah kalian selama ini penyandang disabilitas hidup dengan stereotip? Benar, bukan hanya kaum difabel saja yang diberi label tertentu. Dasarnya manusia memang hobi menebak isi hanya berdasarkan sampul. Bisa saja kamu sendiri diberi label oleh orang-orang sekitar meski kenyataannya kamu bukan yang mereka pikirkan.

Banyak faktor mengapa orang bisa memiliki disabilitas. Selain karena bawaan sejak lahir, orang yang hidup di daerah rawan konflik berpotensi terganggu kesehatan fisik dan mentalnya. Perang yang sewaktu-waktu muncul dapat menghilangkan salah satu atau beberapa anggota tubuh sekaligus, termasuk juga menimbulkan trauma. Penyakit seperti lepra dan stroke juga bisa membuat penderitanya menjadi difabel. Bencana alam pun termasuk salah satu faktornya.

Ilustrasi daerah rawan konflik, difabel dan stereotip
Daerah rawan konflik dapat menambah jumlah difabel (Sumber gambar: Stijn Swinnen on Unsplash)

Stereotip yang melekat pada orang dengan disabilitas salah satunya ditimbulkan oleh media. Media memiliki pengaruh yang amat kuat pada cara berpikir kita. Selama ini difabel digambarkan sebagai orang yang tidak mampu, bergantung pada orang lain seumur hidupnya, patut dikasihani, menjadi objek sumbangan, dan lain sebagainya. Difabel biasanya kerap dipandang rendah dan rentan didiskriminasi. Padahal nih, mereka tidak suka lho dipandang begitu!

Jika kamu pernah meremehkan kemampuan seseorang hanya berdasarkan dia memiliki kelengkapan dan kesehatan fisik atau mental saja, Difabel dan Stereotip, Bagaimana Sikap Kita Seharusnya?, supaya pemahaman Kawan Ublik semakin bertambah.Yuk, simak sampai akhir!

1.Difabel Tidak Butuh Pekerjaan

Duh, siapa bilang difabel tidak butuh pekerjaan? Mereka juga mampu lho jadi karyawan atau pebisnis seperti kalian. Hak mendapatkan pekerjaan tertuang dalam Undang-undang No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang disahkan DPR pada 17 Maret 2016. Dengan adanya kebijakan tersebut diharapkan akan menjamin hak-hak difabel terpenuhi, mulai dari hak hidup, hak mendapat pekerjaan, pendidikan, dan aksesibilitas.

Hak mendapat pekerjaan, difabel dan stereotip
Difabel juga memiliki hak untuk mendapatkan pekerjaan (Sumber gambar: rawpixel on Unsplash)

Pada kenyataannya penyandang disabilitas sulit mendapatkan pekerjaan sebab kebanyakan orang tidak mau mempekerjakan mereka dan tidak memiliki pengertian menyeluruh. Umumnya mereka menyamaratakan kaum difabel, padahal layaknya kita, difabel juga memiliki karakteristik berbeda. Karena kesulitan menemukan tempat pelatihan dan pekerjaan bagi difabel, akhirnya mereka jadi tidak bisa berkembang.

2.”Kalau Ketemu, Menghindar Saja deh!”

Pernah tidak pas bertemu dengan penyandang disabilitas di tempat umum, Kawan Ublik malah pura-pura enggak melihat? Alasannya beragam. Ada yang takut menyakiti mereka lah, ada yang takut berkomunikasi dengan mereka sebab akan dipandangi orang lain, ada pula yang merasa berbicara dengan mereka akan sangat merepotkan.

Padahal apa yang dilakukan itu sangat menyakitkan hati, lho. Membuat mereka merasa menjadi makhluk yang harus dihindari. Bagaimana kalau ternyata mereka sedang butuh bantuan sehingga ingin bertanya sesuatu tetapi orang yang dituju malah menghindar? Diperlakukan seperti itu di tempat umum bisa membuat mereka takut keluar rumah.

3.Difabel Itu Lucu (?)

Siapa pernah mengolok-olok orang yang memiliki disabilitas? Semoga tidak ada yang begitu, yah. Menganggap mereka sebagai lelucon bukan saja hal yang buruk tetapi juga bentuk perundungan.

Ada banyak film atau acara TV yang menjadikan disabilitas sebagai bahan lucu-lucuan. Salah satunya kartun lawas yaitu Mr. Magoo yang mengalami gangguan penglihatan. Dia selalu berjalan asal-asalan dan meminum sesuatu yang tidak semestinya diminum seperti mengira botol sambal sebagai botol minuman.

Mr. Magoo, difabel dan stereotip
Mr. Magoo. tokoh kartun yang memiliki gangguan penglihatan (Sumber gambar: nydailynews.com)

Contoh lainnya yaitu karakter yang memiliki gangguan bicara berupa gagap seperti Ken dalam A Fish Called Wanda atau Jim Trott dalam Vicar of Dibley. Disabilitas mereka dimunculkan sebagai lelucon sehingga muncul persepsi begitulah orang-orang difabel. Mereka dianggap kikuk dan tidak mampu menghadapi situasi di sekitar mereka.

4.Difabel Itu Lugu dan Polos

Dianggap lugu, difabel dan stereotip
Difabel sering dianggap lugu dan polos bagai anak-anak (Sumber gambar: Senjuti Kundu on Unsplash)

Pasti di antara kita pernah deh berpikir penyandang disabilitas itu semuanya lugu dan polos seperti anak-anak. Mereka memandang dunia layaknya bagaimana anak kecil melihatnya. Makanya tuh di film-film kebanyakan ada interaksi tokoh difabel dengan anak-anak. Mereka dianggap akan selalu seperti itu, tidak butuh pekerjaan, pasangan, apalagi punya anak sendiri. Contoh klasiknya terdapat dalam film Forrest Gump, I Am Sam dan Rain Man.

5.Mereka Cocok Jadi Musuh Si Pahlawan

Baru sadar ya kalau rata-rata musuh superhero atau tokoh pahlawan dalam film itu penyandang disabilitas? Coba kita ingat kembali musuh James Bond. Musuh yang digambarkan sebagai difabel itu diberi karakter berupa penuh dendam sebab dunia mengabaikannya. Mereka ingin membalas dendam dengan cara mereka sendiri dan mengalahkan si tokoh pahlawan.

6.Difabel Tidak Butuh Tempat Parkir

Ada tempat-tempat umum yang menyediakan tempat parkir khusus untuk kaum difabel. Tapi ternyata mereka tidak dapat menggunakannya sebab orang non-disabilitas seenaknya memarkir kendaraan mereka di sana, dengan anggapan enggak akan ada yang parkir di situ.

Duh, padahal ‘kan itu tempat khusus untuk mereka. Mereka berhak mendapatkan fasilitas yang aksesibel. Sebagai orang yang mengerti arti tandanya, maka sebaiknya kita mencari tempat parkir lain.

Sudah tahu ‘kan hal-hal yang tampaknya kecil dan kerap kita abaikan ternyata bentuk stereotip kebanyakan orang pada penyandang disabilitas? Sebagai sesama manusia, semua orang memiliki hak yang sama dan harus saling menghormati. Setuju, Kawan Ublik?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

ruang fiksi ublik Harapan Tidak Pernah Meninggalkan Kita

[Ruang Fiksi] Harapan Tidak Pernah Meninggalkan Kita

mie instan, indomie goreng

Saat Mie Instan Indomie Go International sampai ke Eropa dan Afrika