in

Inilah yang Sebenarnya Dibutuhkan oleh Generasi Milenial

Disadari atau tidak, kita sedang memasuki dunia yang semakin mengglobal di mana segala sesuatu terus berubah. Kita pun bisa melihat perbedaan yang jelas antar generasi. Kelompok orang yang lahir dalam periode waktu yang berbeda memiliki standar, nilai moral, dan sikap yang berbeda pula.

Generasi milenial, yakni mereka yang lahir antara tahun 1980 – 2000, saat ini membuat ‘jejak besar’ mereka dalam sejarah. Bukan rahasia lagi bahwa generasi milenial adalah generasi yang terdidik dan lebih melek teknologi (tech-savvy) dibanding generasi sebelumnya.

Saat Dunia Ada di Genggamannya

Untuk menyelesaikan berbagai tugas sehari-hari, mereka memiliki ‘asisten’ yang selalu setia kapanpun diminta. Asisten itu ada di genggaman tangannya. Tak lain adalah smartphone yang bisa diandalkan mulai dari urusan komunikasi, memilih tempat makan, membuat keputusan tentang hal-hal yang ingin mereka beli, termasuk informasi tentang pekerjaan baru yang akan tergantikan oleh robot atau mesin.

Dengan segala kemudahan yang diperoleh itu, alih-alih efisien, generasi ini sering dicap malas.  Barangkali bukan malas, hanya karena memang mereka telah dilatih menghadapi era baru, dan itu membuat milenial lebih cenderung mencari cara yang lebih mudah dan lebih praktis dalam melakukan sesuatu.

Kemampuan untuk Menyesuaikan dengan Tantangan Hidup

Untuk menyesuaikan diri dengan tantangan hidup, ada beberapa hal yang membutuhkan cara pandang yang baru. Tentu saja generasi milenial belajar dari generasi sebelumnya, entah itu untuk urusan asuransi kesehatan, jaminan sosial, kepemilikan rumah, perencanaan biaya kuliah, dan sebagainya.

Tentang apa yang diinginkan generasi milenial, kita bisa melihat ke sebuah studi yang dilakukan oleh Goldman Sachs. Berikut adalah beberapa hal penting dari hasil studi ini. Mereka cenderung berorientasi pada kesehatan, pembayaran yang lebih murah, dan tentu saja media sosial. Sebaliknya, milenial tidak terlalu menginginkan rumah, mobil, dan televisi.

Lalu Bagaimana Gaya Bekerja Mereka?

Bagi banyak orang di dunia, tidak ada alasan untuk tidak menghargai kerja keras. Tapi, di balik filosofi kerja keras itu, banyak generasi milenial kemudian berjuang dengan ide-ide baru. Bukan soal kerja keras yang penting, tapi bekerja dengan cara yang lebih pintar (work smart) dan berinvestasi pada penghasilan pasif (passive income).

Misal kamu adalah termasuk generasi milenial yang sedang membaca tulisan ini, apa kamu sepakat pada hal ini? Setiap hari, kita seperti tertantang untuk membuktikan bahwa kita sadar betul apa yang sedang kita lakukan. Agar kita tahu di mana kita berdiri, dan ke mana akan menuju. Kenyataannya, banyak dari kita yang terjebak rutinitas setelah beberapa waktu bekerja.

Sementara itu, di luar sana dunia sedang bergerak dengan kecepatan yang mungkin tidak kita ketahui dengan pasti. Aliran informasi membombardir setiap waktu. Pembaruan media sosial dari teman-teman, iklan-iklan, info diskon, dan hal menarik lainnya ikut memicu generasi milenial untuk eksis di lingkungannya.

Tapi apakah itu semua penting? Apakah kita sudah menggali potensi secara maksimal? Apakah passion yang kita miliki bisa memberikan peran penting bagi masyarakat? Untuk memahami potensi diri, sering kali kita butuh bercermin kepada orang lain yang bisa memberikan feedback atas performa diri kita. Kita bisa belajar dari generasi sebelumnya. Atau bisa juga menemukan seseorang sebagai mentor, trainer, coach, atau konsultan.

Pentingnya Training Pengembangan SDM untuk Generasi Milenial

Hardika saat mengisi talkshow beasiswa (Sumber: Instagram.com/jetc.id)

Mengingat pentingnya mengembangkan kompetensi anak bangsa, khususnya generasi muda, tiga orang alumni dari UNY ini mendirikan JETC (Jawara Edu Training and Consulting), yakni sebuah perusahaan rintisan (startup) yang menghubungkan antara para trainer dan klien (user) yang membutuhkan jasa training dan konsultasi.

JETC (baca: Jetsi) menyediakan trainer dan konsultan pendidikan yang berasal dari kalangan muda profesional dan telah berpengalaman lebih dari 5 tahun di bidangnya dalam skala nasional maupun internasional. Mereka adalah pemuda berprestasi yang merupakan lulusan kampus-kampus terbaik. Mereka adalah Janu Muhammad (M.Sc in Human Geography, University of Birmingham), Edy Purwanto (MA in Sociology, UGM), dan Hardika Dwi Hermawan (M.Sc.ITE, University of Hongkong).

Berangkat dari cita-cita mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, JETC menawarkan jasa training dan konsultasi untuk pengembangan sumber daya manusia untuk lingkup sekolah SMP, SMA, mahasiswa, perusahaan, dan/atau masyarakat umum yang membutuhkan. Adapun jasa yang ditawarkan oleh JETC adalah; Tamu Pembicara, Training Kepenulisan Ilmiah, Strategi Masuk Perguruan Tinggi, Konsultasi Manajemen Organisasi, Analisis Pemberdayaan Sosial, pelatihan pembuatan media digital (edu apps), dan konsultasi pendidikan lainnya.

Janu saat menghadiri The Conference of Indonesia Diaspora Youth 2018 (Sumber: Instagram.com/jetc.id)

Salah satu project yang sedang berlangsung adalah kolaborasi Ublik.id X Jetc.id pada kelas online bertajuk UBLIK JAWARA. Di kelas itu peserta bisa berdiskusi online tentang Goal Setting & Achievement Motivation, Improve Your Leadership Skill, dan Mewujudkan Impian Studi di Luar Negeri. 

Untuk informasi dan jalinan kemitraan, silakan menghubungi narahubung di WA 0856-4355-9585 atau di akun Instagram @jetc.id . Mari kita cerdaskan kehidupan bangsa bersama Jetsi, “Melejitkan Jawara Indonesia!”

( Sumber gambar utama:  Instagram.com/hardikadh )

Ditulis oleh Redaksi

Tim Redaksi Ublik yang kece2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

tips traveling aman

12 Tips Traveling yang Aman Saat Kamu Harus Pergi Sendirian

Sebelum Berburu Diskon, Tahukah Kamu Tentang yang Satu Ini?