in

Miris, di Indonesia Prasasti Bersejarah ‘Ditaruh’ di Kandang Kambing

Kalau boleh diibaratkan, Indonesia ini bak ‘museum masa klasik’ terbesar. Peninggalan produk budaya lampau yang agung di masanya, seperti prasasti, bertebaran di mana-mana. Kita, para penghuninya sekarang, bahkan acap kali tak sadar akan keberadaan mereka. Sayang, tak semua nasibnya semujur Candi Borobudur atau Candi Prambanan yang telah menjadi ikon nasional juga global.

Ada satu pengalaman paling membekas dari tahun 2013 lalu, saat penulis menjalani kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Dinas Pemuda Olah Raga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Sidoarjo. Di suatu siang yang terik itu, penulis dan anggota kegiatan KKN lainnya melakukan kunjungan ke dua bangunan cagar budaya setempat, Candi Pari dan Sumur, guna melakukan observasi lapang.

( Baca jugaBarapen, Tradisi Turun Temurun yang Mengajarkan tentang Kebersamaan )

Berdiri di wilayah Kecamatan Porong, lokasi kedua peninggalan masa Majapahit yang cuma berselisih 100 meter itu tak semengenaskan ‘wisata andalan’ Sidoarjo, Lumpur Lapindo. Walaupun beberapa bagian fisik candi sudah mengalami kerusakan, tetapi mereka tetap menonjol. Bata merah khas Candi Pari dan Sumur seakan enggan kalah oleh bata ‘zaman kekinian’ yang dicat warna-warni atau genteng rumah-rumah warga. Di sekelilingnya, ada halaman yang cukup luas dihiasi sejumlah vegetasi, sehingga tak tampak terlalu tandus.

Namun ternyata, beberapa warga sekitar seperti tak terlalu menghargai wisata sejarah itu. Atau mungkin, justru saking dekat dan melekatnya, sampai lupa kalau Candi Pari dan Sumur bukan properti pribadi mereka. Tampak sejumlah rumah di dekat kedua candi itu justru memanfaatkan pagar pembatas sebagai jemuran pakaian pribadinya. Ruh Mataram yang agung dalam Candi Pari dan Sumur pun terhiaskan kutang sampai keset masyarakat setempat.

Prasasti Besole, nasibmu, le…

Mirisnya, kondisi ini juga terjadi di warisan budaya lain, bahkan lebih parah. Tulisan Djulianto Susantio yang dimuat di Buletin Cagar Budaya Volume V/2017 menggambarkan melasnya sejumlah cagar budaya tak terapresiasi, contohnya Prasasti Besole.

Kalau saja Prasasti Besole – atau populer dengan nama Prasasti Kandang Kambing – yang berada di Dusun Besole, Desa Darungan, Kecamatan Kademangun, Blitar, bisa menulis kisahnya sendiri tanpa harus diwakilkan Djulianto, barangkali bakal jadi stori memilukan.

Prasasti Besole di antara rongsokan dan kandang kambing (Foto Eko Wahyudi / kompasiana.com)
Prasasti Besole di antara rongsokan dan kandang kambing (Sumber: kompasiana.com/Eko Wahyudi)

Prasasti Besole mendapat alias Prasasti Kandang Kambing bukan tanpa alasan. Lokasinya memang di situ, depan kandang kambing milik warga. Ia tak terawat, terlihat dari aksaranya yang sangat aus. Ia tinggal bersama kambing dan rongsokan, terpapar panas dan hujan ekstrem pun sudah biasa. Dulu, penduduk setempat masih melakukan pemugaran dengan mengapur permukaan prasasti, tetapi rutinitas itu sepertinya sudah luntur dari agenda.

Padahal, batu 157 cm dengan lebar 83 cm beraksara Jawa Kuno itu diperkirakan telah tercipta di abad ke-12, di era Raja Bameswara dari Kerajaan Kadiri. Prasasti yang terpateri angka tahun 1054/1051 Saka (1132/1129 Masehi) tersebut kemungkinan memuat informasi tentang Besole dan sekitarnya, yang diprediksi merupakan wilayah penting di masa Kerajaan Kadiri karena dekat dengan Sungai Brantas yang merupakan jalur transportasi penting di masa lalu.

Prasasti Kedungsingkil nasibnya tak jauh berbeda. Berdiri di lahan salah satu warga di Dusun Kedungsingkil, Desa Karangrejo, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, ia terjepit pepohonan dan bersebelahan dengan kandang sapi. Ada juga Prasasti Sumberejo alias Prasasti Kutu, sisa sejarah yang ada di Kecamatan Maospati, Madiun. Ia dibiarkan begitu saja ‘menjaga’ sawah warga.

Prasasti Sumberejo alias Prasasti Kutu (sumber: bentengmagetan.wordpress.com)
Prasasti Sumberejo alias Prasasti Kutu (Sumber: bentengmagetan.wordpress.com)

Kontribusi semua pihak

Malangnya nasib sejumlah prasasti ini adalah contoh bahwa masyarakat kita masih belum memiliki apresiasi yang tinggi pada warisan leluhur. Kalau cuma membiarkan saja masih mending, faktanya vandalisme pun biasa dialami batu-batu saksi sejarah itu. Bahkan dalam beberapa kasus, ada warga atau pihak tertentu yang memang menolak prasasti-prasasti tersebut dipindahkan sampai ingin memusnahkannya. Alasannya beragam, mulai dari merasa berkewajiban menjaganya sendiri karena diamanatkan oleh keluarga, lokasi berdirinya prasasti yang ‘terlalu strategis’ sehingga dipandang mengganggu pembangunan pabrik atau jalanan, hingga ingin mencari keuntungan pribadi dari produk budaya lampau tersebut.

Poin terakhir bukan alasan yang mengada-ada. Djulianto dalam tulisannya turut menceritakan realita yang memilukan. April 2017 lalu, bata-bata kuno di Situs Kumitir, Trowulan, diambil dan dijual oleh warga. Per bijinya ‘hanya’ Rp 3.000 saja. Kemiskinan yang menjerat warga setempat membuat lapangan kerja terbatas. Mau tak mau, mereka pun harus terus memutar otak untuk hidup dan mendorong mereka melakukan aksi yang patut disayangkan itu.

( Baca jugaMenikmati Wisata Indonesia melalui Megahnya Masjid Raya Sumatera Barat )

Kondisi ini seakan didukung pula dengan pemerintah yang masih abai. Padahal, pelestarian warisan leluhur telah diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Mereka seharusnya berada di bawah tanggung jawab pemerintah provinsi, kota, atau kabupaten, mulai dari perlindungan, pengembangan, juga pemanfaatan.

Kita, generasi muda, mau tidak mau turut mengemban tanggung jawab pelestarian cagar budaya Nusantara. Yang paling sederhana, tentu dengan tidak melakukan vandalisme. Mempromosikan cagar budaya tersebut sebagai salah satu wisata sejarah lokal juga sembari mengedukasi masyarakat untuk menjaganya juga memungkinkan untuk kita tempuh bersama di era digital saat ini, misalnya lewat tulisan di blog atau membuat vlog dan diunggah ke YouTube.

Jika ingin terlibat lebih jauh, kita bisa sigap melakukan pelaporan ke penemuan dan hal-hal kepurbakalaan ke instansi pemerintah setempat atau Balai Pelestarian Cagar Budaya yang berada di bawah Direktorat Jendral Kebudayaan. Boleh juga bergabung dengan komunitas-komunitas peduli cagar budaya, sebut saja Komunitas Dewa Siwa (pecinta SItus dan Watu candi), Komunitas Tapak Jejak Kerajaan, atau Ronggolawe Creative Center.

Mari menjadi tuan rumah ‘museum masa klasik’ yang bijak.

 

(Sumber gambar utama: adakitanews.com)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

Hal-hal yang Perlu Dimengerti oleh Para Single tentang Pernikahan

Belajar dari Rizhaf Setyo, tentang Memaksimalkan Potensi Mahasiswa