in

[Ruang Fiksi] Dari Pena untuk Pemimpin

Narasi yang Membacakan Dirinya Sendiri

(I)…Aku Pena, Menulis Syair Ketidakpastian

Bagaimana jika ternyata negeri kita ini, sesekali tak ubahnya syair ketidakpastian. Boleh jadi ia mengajari aku untuk dengan sungguh-sungguh, segera berkhidmad pada hari yang menghadiahi kita sebuah momen untuk saling menjadi retorika: Kau pelayan, dan aku poros kedaulatan!

 

(II)…Narasi Bosan dari Orang yang Menengadahkan Tangan di Seberang Jalan

Aku pena berjelma narasi bosan, sejenak ingin berbagi nestapa kepadamu, yang layar kaca sebut pemimpin

Adalah tangan-tangan tengadah di trotoar dan sudut kota, terpaksa merapal doa: bilamana kami punya pekerjaan selain meminta… Lalu bagaimana jika kami terpaksa menjadi nyeri paling distorsi: bukankah kami harusnya dipelihara oleh (pemilik kepentingan) negara?

Sedang, peduli apa, ada tanya dalam petak dan tepi jalan juga terik paling picik: oh ya, buat apa pula di seberang itu ada baliho raksasa? Jangan-jangan itu cara baru untuk menjadi peminta-minta?! Ialah aku, narasi bosan pada dinding kota. Bermukim di tangan tengadah yang hingga pemilu ke berapa entah!

Beruntungnya, Tuhan masih Maha Pemurah. Jadi, pengemis dan anak terlantar dipelihara oleh…(si)apa!?

Ah, Sejatinya  kita      bersama narasi         ini menuju     ke mana. Aku     tidak    mau     lama-lama mendengar resital kepura-puraan, tak jua histeria kuasa. Kecuali narasi yang mengantar kita pada ranah tanpa pola yang mengilusikan harapan dan ngilu.

Kemudian  narasi  bosan     bicara  harapan, akankah  mengalamatkan  harapan pada mereka itu, adalah absurditas? Atau memang pena mengigau euforia antah berantah. Entah!

 

(III)…Kau, Pialang Masa Depan

Masa depan kabarnya barisan rahasia, peluh, dan gamang. Tapi ia juga retorika, suluh, dan nyalang. Tidak lupa dengkur si miskin-pandir. Sesudah itu abstraksi mimpi berlomba menikam sejarah! Padamu yang kusebut pemimpin: Adakah masa depan yang katanya megah itu?

Masih sesekali tentang mimpi generasi repetisi yang menggelepar dalam naungan. Katamu, ya katamu dulu, tak akan sekadar urun angan. Dan kita…adalah mufakat, juga kepatuhan, bukan pidato keprihatinan

Aku tidak mengalun rapsodi tentang para dewa, atau epigraf langit dan huru hara. Padamu pemilik perjamuan dan rendezvous kepatuhan sang sudra, kepatuhan macam apa yang kau butuhkan? Barangkali deklarasi patuh atas penggadaian remah asa si jelata.

Bukan disposisi pemindahan nestapa. Sebab kau pialang masa depan, dan kami, pena juga keniscayaan menyerpih kelana. Masih berperang dengan kebodohan. Mencoba jual detik dan menit, leburkan euforia pada ode ladang gembala hingga ke sajak dinding kota. Berduyun untuk membeli masa depan. Kalau ada.

 

(IV)…Satire Itu (semoga bukan) Negeri Kami

Kemarin kulihat layar kaca sinis menguar kabar: di sana ada yang menggelegak. Bersimpuh dalam liturgi, kemudian tumbang. Baru tahu aku, di luar juga ada ritme profetik, lantas dihalau bengis. Belum saatnya kita bicara Suara Langit! katanya.

Lihat ini sejenak, sebagaimana dahulu Soe Hok-Gie bilang:

…di Istana, Sang paduka yang mulia tengah bersenda gurau dengan isteri-isterinya. Dan dua ratus meter dari Istana, si miskin tengah makan kulit mangga…

Aih, semoga satire itu bukan tanah dan air kami. Sungguhpun traktat melankolia sebelum pesta para raja berlomba melibas jemu, pun kelakar paling keji berebut momen rapsodi,

Masih buatmu, yang kami namai pemimpin, Bagaimana jika ternyata babad sunyi abadikan bekas langkahmu di kampung kami. Dan di antara sebayang pelayaran menghiruk membahana, kita berlabuh di elegansi berbeda, Bilamana satire pun dengan sungguh-sungguh ingin berkhidmad pada hari yang menghadiahi kita sebuah momen untuk sekali lagi saling menjadi: Kau pelayan, dan aku poros kedaulatan?

 

(V)...Narasi Pena yang Membaca Dirinya Sendiri

Aku solilokui pena, berkelakar tentang orang-orang yang—semoga tidak—mengebiri janji. Cukup akui saja, kau siap menimang kepentingan di pangkuan, pun memanggul riuh hegemoni keterbukaan.

Narasi pena masih membacakan dirinya sendiri. Tentang pialang yang melanglang petala harap. Jika aku pena berjelma kembali, jadi anak ujung negeri, yakni tapal batas yang mengartikan elegansi sebagai sosokmu.

Kau, yang masih kusebut pemimpin.

Sebagaimana gradasi waktu yang melingkupi pemilu itu. Sejujurnya, peduli apa ujung pena pada larik yang mendeklamasikan hikayat bunga bangsa milik kita.

Sementara dalam kilau riang tiap desir yang lapang, oleh karena mu yang puas (t)urun (t)angan.

Katanya celah di depan segera benderang, dan kuasa itu tak lagi memuakkan. Kecuali cerita tentang kulminasi harap, di tiap jeda langkah berderap. Aku pena, membacakan guratan resah sendiri. Sambil menerka hiruk pikuk dan kesudahan: kau, pialang masa depan yang meredih di sela-sela bekas luka pahlawan kita.

Sebagaimana narasi paling nisbi, tapi perkenankan pena membaca dirinya sendiri untuk terus memimpin riwayat penuh elegansi. Lantas tempat dudukmu kukuh merindu doa; demi euforia yang dipungut repih puisi jelata. Sampai kelak di sana, kicau sekawanan punai di bawah mega, menjadi bunyi dari petala haru hingga akhirnya khatulistiwa memungut senja oleh resonansi bersamamu.

 

Ditulis di Kota Malang. Sebelum pemilu

Maret, 2014

One Comment

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tips Manajemen Waktu yang Efektif agar Sibukmu Lebih Bermakna

pemain , drama Korea

Ketagihan Nonton Drama Korea? Ternyata Ini Alasannya