in ,

Bullying Selalu Terjadi Dengan Pola yang Sama, Bagaimana Menghentikannya?

Mencegah Bullying

Sahabat Ublik, pernahkah kalian menjadi korban bullying, pelaku, atau seseorang yang melihat aksi perundungan itu? Kalau jawabanmu adalah iya, maka semoga artikel ini dapat membantu untuk mengatasi permasalahanmu. Sebab bullying selalu terjadi dengan pola yang sama.

Saya melihat, banyak sekali kasus bullying sejak SD. Namun pasti polanya selalu sama dan berulang-ulang. Saya pun hampir selalu menjadi calon korban bullying yang empuk di tingkat SD dan beberapa kali tanpa sadar juga kembali terjadi di masa sekolah menengah atas.

Jadi begini, seseorang yang menjadi korban selalu mempunyai karakteristik khusus yang menarik minat pelaku. Seolah di atas kepalanya ada tulisan ‘Korban yang sempurna’. Hal itu tidak semata-mata karena kita melakukan kesalahan, justru dengan diam saja, pelaku sudah merasa tertarik.

Karakteristik yang saya lihat itu adalah:

Pertama, Terlihat Lemah

Pola Bullying dan bagaimana cara menghentikannya

Anak-anak yang terlihat lemah, dengan wajah melas dan ditambah suara yang ragu-ragu ketika berbincang. Acap kali seperti magnet yang menarik pelaku, mengapa? Karena pelaku bully ingin melampiaskan kekesalannya tanpa mau diinterupsi, ia tidak suka jika korban memberontak. Maka semakin lemah akan menjadi mainan yang semakin menyenangkan.

Baca Juga: Ketika Orang Cerdas menjadi Pelaku Bullying, Apa Partisipasi Kita?

Apa lagi ketika melihat korban bergeming dan hanya pasrah saja seolah memang ditakdirkan untuk menjadi korban. Ketika sudah menjadi korban dan melawan balik. Rasanya akan percuma saja jika hanya setengah-setengah. Maksudnya di sini, jika kita tidak berontak sampai tuntas maka pelaku merasa bahwa korbannya sedang menggeliat saja. Dan butuh dininabobokan kembali agar menjadi korban yang diam seperti sedia kala.

Kedua, Berbeda

Indonesia memang negara dengan perbedaan yang kental. Dari Sabang sampai Merauke, dari tetangga dengan tetangganya. Pasti selalu memiliki perbedaan yang menonjol. Namun sayangnya, menjadi berbeda terkadang menimbulkan kecemburuan sosial, sehingga menumbuhkan hasrat pelaku untuk melakukan perundungan.

Karakteristik korban Bullying

Ketiga, Tidak Mudah Bergaul

Kalau kita melihat tayangan-tayangan televisi tentang anak-anak remaja, yang menjadi korban bully biasanya selalu anak-anak yang tidak mudah bergaul.  Dan itu bukan bualan semata, saya sendiri melihat bagaimana anak-anak tidak mudah bergaul ini menjadi korban bully. Meski hanya diasingkan dan sesekali banyak yang melihatnya dengan pandangan tidak enak ketika sekali bersuara.

Meski sepele, hal itu amat sangat membuat hati korban ciut dan menjadi tidak percaya diri. Serta merasa curiga pada siapa saja karena merasa semua orang sama saja. Hasilnya dia semakin menyendiri dan dikucilkan.

Baca Juga: Agar Kamu Tidak Lagi Merasa Minder dan Mengerdilkan Diri

Saya sendiri merasa bahwa anak yang tidak mudah bergaul ini, mudah sekali meledak-ledak emosinya ketika kita salah sedikit padanya. Sebab itu caranya membentengi diri sendiri dari perasaan takut akan perundungan. Polanya semakin rumit sejak pertama saat si anak memilih untuk menarik diri dari lingkungan dan tidak mengubah pandangan orang-orang akan dirinya yang terlihat aneh.

Korban Bullying

Bullying bisa menjadi hal yang sangat berbahaya bagi korbannya. Meski hanya sekadar perkataan atau tatapan yang meremehkan. Apa lagi ketika sudah masuk ke ranah kontak fisik. Korban bisa menjadi orang yang menarik diri dari lingkungannya dan tidak bisa keluar dari kungkungan perasaan takut itu selamanya. Bisa jadi dia juga merasa minder dan tidak berani melakukan hal-hal yang ia inginkan karena rasa takut. Parahnya, korban bisa tidak tahan dengan perasaan yang menyiksanya sehingga memilih untuk mengakhiri nyawanya sendiri.

Hal ini terjadi karena korban sudah membuat konsep diri tentang dirinya sendiri secara salah, dari kacamata pelaku bully saja.

Wiley (J.F Calhoun dan J.R Acocella, psikologi tentang penyesuaian dan kecemasan), mengatakan bahwa: sumber pokok dari konsep diri didapatkan dari interaksi terhadap orang lain, diri tampak seperti cermin.  Membayangkan pandangan mereka terhadap diri kita, penampilan, penilaian tersebut menjadi diri kita.

Walau, bagai pelaku, ia tidak bermaksud demikian. Namun kita tidak tahu, bahwa hal negatif sekecil apa pun, pada korban bullying, akan menimbulkan dampak yang mengerikan karena diperparah oleh respon kita.

Lalu, bagaimana caranya menghentikan bullying atau perundungan?

Pertama, Sebelum terjadi ada baiknya kita menolak untuk menjadi korban bully.

Memang tidak mudah, tapi saya pernah mempraktekannya sendiri. Saya adalah murid pindahan dan tidak punya teman, lalu kemudian datang dan mengobrak-abrik banyak sekali padangan yang salah dalam belajar di kelas. Termasuk mempraktekan untuk tidak mencontek saat sedang ulangan atau sejenisnya.

Hal itu menimbulkan rasa benci dari teman-teman baru saya, sehingga mereka mencoba untuk memprovokasi teman-teman lain agar tidak berteman dengan saya. Namun, saya tidak peduli, mmeski dipandang sinis dan tidak ditemani. Akhirnya meski butuh waktu yang lama, mereka berhenti sendiri. Memang

Pun saya juga sadar, setelah saya, ada banyak lagi korban-korban yang lain. Maka saya tidak mau menghabiskan waktu dengan orang-orang beracun semacam itu untuk meminta kompromi dari mereka. Saya lebih memilih menghindar dan mencari teman yang lain, misalnya kakak kelas atau adik kelas.

Baca Juga : Terjebak di Lingkungan Teman Toxic, Harus Bagaimana?

Kedua, Beri perhatian yang tulus untuk korban.

Maksudnya adalah, jangan hanya penasaran dengan cerita mengapa ia bisa menjadi korban. Tapi coba tanyakan dari hati ke hati, beri dukungan moral. Kalau dia adalah teman sebayamu, maka temani dia. Karena korban bully jarang sekali punya teman, karena yang lain takut juga terkena bully jika berteman dengannya.

Lakukan secara terus-menerus, dukungan-dukungan itu yang kemudian meningkatkan rasa percaya dirinya. Serta membuatnya percaya pada diri sendiri bahwa ia berhak untuk bebas dari tindak perundungan itu.

Baca Juga: Belajar Mencegah Bullying dari Film Musikal Langit Biru

Jangan jadi seseorang yang hanya penasaran pada ceritanya lantas memberikan tanggapan seolah itu bukan hal yang perlu dibesar-besarkan. Atau berkata pada korban, bahwa ia hanya terlalu terbawa perasaan.

Ketiga, Lakukan sesuatu saat melihat kejadian perundungan.

Ketika kita melihat siswa sedang merundung temannya, jangan katakan bahwa hal itu adalah lumrah. Karena mereka masih anak-anak, menjadi alasan untuk membenarkan. Karena bully tidak tergantung pada umur, dan trauma juga tidak selaras dengan usia. Sekecil apa pun, trauma akan menghantui seumur hidup.

Anak-anak yang suka mem-bully, tidak akan pernah jera jika tidak dihukum. Karena mereka merasa tidak ada yang menyalahkannya karena telah melakukan hal itu. Semakin dini kita menghentikan pelaku atas tindak perundungannya, kita justru menyelamatkannya agar tidak menjadi sebuah habit yang buruk di kemudian hari.

Kalau kamu takut, panggil saja orang dewasa lain untuk membantu.

Bullying Terjadi Dengan Pola yang Sama, Bagaimana Menghentikannya?

Keempat, Ini untukmu yang menjadi korban.

Ketika kamu tidak menolak sejak pertama kali. Maka kamu tidak akan pernah bisa menolak sampai kapan pun. Karena di matanya, kamu sudah terperangkap sebagai seorang korban. Kamu harus pecaya dengan diri sendiri, bahwa kamu layak untuk hidup normal seperti yang lainnya.

Tak perlu mengubah kepribadian untuk disukai orang lain. Kita juga tidak perlu susah payah menyenangkan semua orang untuk tidak menjadi korban bully. Kita cukup menjadi seseorang yang memegang hak atas diri kita sepenuhnya. Jangan sampai ada orang lain yang bisa mengaturmu sekehendak mereka.

You deserve better.

Percayalah, masih ada orang-orang tulus di luar sana. Yang akan menemukanmu dan ditemukan olehmu untuk menjadi teman yang sejati. Kamu tidak akan pernah sendirian, saat berani membuka diri untuk menerima kehadiran orang lain.

Lawanlah, jangan setengah-setengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Awas! Social Cost yang Dapat Menggerogoti Isi Dompetmu

Cara ampuh mengubah kebiasaan buruk

7 Langkah Ampuh Menghilangkan Kebiasaan Buruk yang Membandel