Sebenarnya tulisan ini sudah ingin saya buat sejak Bulan Sya’ban kemarin. Saya begitu tergelitik melihat geliat setiap supermarket juga minimarket yang seolah-olah ikut berbenah diri menyambut bulan puasa Ramadhan. Lorong-lorong untuk lalu lalang para pembeli mendadak sesak dengan tumpukan dus berisi sirup, kurma, dan beragam makanan kaleng lainnya.

Belum lagi restoran, rumah makan, dan hotel yang turut berlomba-lomba untuk memberikan penawaran khusus untuk paket sahur dan berbuka. Tidak sedikit yang memberi promo untuk memfasilitasi para customer yang ingin mengadakan acara buka bersama. Masyarakat seolah disuguhi beragam pilihan, yang sebenarnya memiliki inti yang seragam: jualan di Bulan Ramadhan.

Macam-macam takjil (Sumber: betabicara.com)

Saya baru sadar kalau kebiasaan ini sudah terpola dan terus berulang setiap tahunnya. Masyarakat juga sepertinya mengamini kalau bulan puasa identik dengan hal-hal semacam itu. Media juga seolah turut andil dalam meramaikan lini masa dengan mengucapkan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa” sambil mempromosikan produk-produk yang (seolah-olah) perlu dikonsumsi selama bulan puasa. Akhirnya saya sendiri menjadi bertanya dalam hati, “kok bisa ya gitu ya?”

Pilihan Editor;

Mungkin teman-teman sudah sering membaca artikel yang secara persuasif mengingatkan kita semua untuk berhati-hati agar tidak terpleset dalam gaya hidup yang keliru selama menjalani ibadah di Bulan Ramadhan. Kebanyakan dari artikel tersebut biasanya dibingkai melalui wacana agama berikut dengan ayat dan haditsnya. Nah, di sini saya ingin mengupas fenomena tersebut dengan konsep teori sosial.

Penasaran? Ayo kita kupas pelan-pelan dan mengurainya dengan contoh kasus yang sederhana.

Jadi begini teman-teman, ada tokoh dalam ilmu sosiologi bernama Max Weber yang menulis bahwa ada salah satu bagian dari diri manusia yang bisa diobok-obok oleh pelaku bisnis untuk melancarkan roda penjualan produknya. Bagian tersebut adalah hasrat. Jadi, ada sistem di luar tubuh manusia yang akhirnya mendorong setiap individu untuk memiliki hasrat yang kemudian berubah wujud menjadi kebutuhan-kebutuhan yang akhirnya harus dipenuhi melalui praktik konsumsi.

(Foto: Pixabay)

Kalau kita pikir-pikir lagi, masyarakat tradisional dulu lebih melakukan praktik konsumsi berdasarkan kebutuhan. Sekarang yang terjadi pada masyarakat modern, bahkan postmodern, konsep tentang “kebutuhan” sudah mengalami pergeseran makna.

Contohnya: ketika seseorang lapar dan perlu makan, maka kebutuhan alaminya merupakan makanan dan minuman sesuai porsi dan takaran nutrisi yang diperlukan manusia. Tetapi jika pemenuhan lapar itu sudah dipoles dengan “makan makanan apa?” dan “mau makan di mana?” maka kebutuhan orang tersebut sudah tidak lagi berada di tataran alamiahnya. Ada “hasrat” yang mendorong kebutuhan seseorang menjadi terpoles sedemikian rupa sehingga untuk makan saja budget yang dikeluarkan menjadi jauh melebihi kadar esensinya.

Itulah juga yang terjadi ketika Bulan Ramadhan tahun demi tahunnya. Hajatan untuk acara buka bersama misalnya. Kalau kita sadar, perut kita tidak cukup-cukup amat untuk menampung makanan segala rupa berikut es-es dan kudapan yang disajikan oleh restoran. Mereka boleh mengatakan kepada calon pembeli bahwa hanya dengan membayar 65000 rupiah, setiap orang bisa memilih makanan apa saja yang dihidangkan, all you can eat istilahnya. Tapi coba, kalau kita tahu diri, satu gelas teh hangat dan sepotong tahu bakso saja sudah bisa bikin perut kenyang mendadak saat berbuka.

Tapi masa iya sih anak muda kekinian, tinggal di perkotaan, sudah punya gaji dan tunjangan, buka bersamanya cuma di angkringan kaki lima dengan teh anget dan gorengan?

Pasti ada rasa ‘gimana gitu’ kan ya? Apa lagi kalau dokumentasi acaranya nggak bisa diunggah di media sosial karena tempatnya kurang artsy untuk difoto, juga pencahayaannya yang kurang oke.

Padahal sepanjang acara buka bersama bukan tidak mungkin menjadi sesuatu yang berjalan tanpa esensi. Sebagian besar datang, cipika-cipiki, tanya basa-basi, sibuk dengan gadget masing-masing, untuk kemudian foto-foto dan diunggah ke media sosial. Pose mereka terlihat akrab dan sangat intim. Suasana buka puasa menjadi terlihat menyenangkan dan penuh kerinduan. Padahal setelah pulang, mereka kembali dengan keasingan diri masing-masing. Akhirnya yang terlihat di dunia virtual menjadi sesuatu yang jauh dari kenyataan. Persis seperti teorinya Baudrillard yang menggambarkan bahwa media merupakan ruang untuk menampilkan segala sesuatu yang hiperrealitas.

Anak Muda di sebuah kafe berkonsep kekinian (Sumber: cirebonradio.com)

Itu juga yang terjadi di pasar-pasar baik tradisional maupun modern di sekitar kita. Ungkapan “berbukalah dengan yang manis” yang terus saja direproduksi selama Bulan Ramadhan. Hal ini seolah membenarkan kita untuk makan dan minum yang manis-manis tanpa mawas diri kalau gula darah juga perlu dikontrol. Sebenarnya ungkapan di atas memang tidak sepenuhnya problematis. Sayangnya jika ungkapan tersebut menjadi alat untuk mendorong hasrat masyarakat mengonsumsi sirup dan kue-kue secara berlebihan, yang ada bukan tenaga menjadi pulih saat berbuka puasa, tapi ancaman diabetes siap menghadang kita di usia muda.

Ya, begitulah teman-teman kiranya tulisan ini saya buat dengan sedikit pengamatan berbumbu teori tipis-tipis. Saya bukannya mau jadi sok tau untuk berceramah. Saya juga tidak bermaksud untuk mengajak para pembaca sekalian menghindari acara buka bersama dan memboikot produk sirup, kue, dan sejenisnya. Lebih dari itu, saya hanya ingin mengajak teman-teman semua untuk bisa lebih peka dengan diri sendiri. Sehingga kita bisa membedakan mana yang benar-benar kebutuhan alamiah dan mana yang kebutuhan yang diada-adakan karena dorongan hasrat.

Supaya apa? Supaya kalau kita ditakdirkan untuk berpenghasilan lebih, kita tidak terus memiliki gaya hidup, eh maksud saya, kebutuhan hidup yang juga (ber)lebih(an).

Begitu. Kurang lebihnya mohon maaf. Selamat berpuasa semuanya.

 

(Sumber gambar utama: Pixabay)