Traveling ke berbagai tempat, entah di dalam atau di luar negeri seperti menjadi tren gaya hidup yang menarik, apalagi buat anak muda. Bukan hanya untuk bersenang-senang, traveling bisa menciptakan efek positif pada diri dan memberi makna mendalam. Setiap tempat baru yang dikunjungi pun akan memunculkan cerita baru yang berkesan.

Setiap orang punya gaya masing-masing saat melakukan traveling. Mulai dari gaya hemat ala backpacker atau gaya traveling mewah ala selebriti. Masalahnya adalah: setelah menikmati keindahan di tempat wisata itu, apa yang kita lakukan? Barangkali ada benarnya apa yang diungkapkan Alain de Botton dalam ‘Art of Travel’ : “most often we literally destroy the beauty or interest we have come to witness.” Seringkali, kita justru merusak keindahan yang kita saksikan. Jangan-jangan, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan saat traveling. Sudahkah kita menyadarinya?

Pilihan Editor;

Nah, menjadi traveler cerdas adalah sebuah keniscayaan. Di tengah menjamurnya bisnis travel agent, promo tiket murah, pesona tempat-tempat wisata baru, akankah kita hanya menjadi orang yang terus mengikuti tren demi eksistensi di media sosial? Berikut adalah 7 hal yang dilakukan oleh traveler cerdas.

1.Persiapan Sebelum Berangkat

Ilustrasi Bucket List (Sumber: myventurepad.com)

Meskipun terlihat seperti kegiatan bepergian yang semata-mata untuk mencari kesenangan, tapi ternyata traveling lebih dari itu. Butuh ‘skill’ untuk melakukannya. Selain persiapan matang dalam hal perlengkapan, uang tunai, riset waktu terbaik untuk ke tempat-tempat tertentu, serta kesehatan fisik, ada satu lagi modal untuk traveling, yaitu pengetahuan tentang daerah yang akan dikunjungi. Dengan kata lain, traveling juga perlu persiapan mental dan melatih attitude. Mengapa ini penting? Karena saat traveling, kita hanyalah tamu yang harus menjaga perilaku, mempelajari kearifan lokal dan norma setempat. Itu adalah hal mendasar sebagai bentuk rasa hormat kepada tuan rumah di sekitar destinasi traveling itu.

2.Tidak Perlu Mengunggah Foto Boarding Pass di Media Sosial

Ilustrasi Boarding Pass (Sumber: Pexels)

Untuk beberapa orang, mengunggah foto boarding pass menjadi kesenangan tersendiri, tapi tidak semua orang mengerti risikonya. Boarding pass alias tiket masuk pesawat adalah dokumen penting yang sebaiknya tidak perlu diunggah demi keamanan. Di boarding pass ada kode QR dan barcode 2 dimensi yang menyimpan banyak informasi. Kode itu dicetak pada boarding pass, dan ketika orang melihatnya, data tentang dirimu lebih mudah ditemukan, termasuk rencana perjalananmu serta perjalananmu sebelumnya. Pernyataan itu diungkapkan oleh seorang ahli kepada media Business Insider, UK. Ingatlah, di era teknologi internet yang semakin maju saat ini, melindungi privasi dan data diri adalah hal penting untuk diperhatikan.

3.Peduli Lingkungan

Isu tentang lingkungan sepertinya memang tidak terpisahkan dengan dunia traveling. Bukan hanya menjaga lingkungan alam tapi juga bagaimana menjaga kebersihan dan kerapian tempat-tempat yang dikunjungi. Bulan April tahun 2017, beberapa media memberitakan tentang kelakuan turis Indonesia di bandara Haneda, Tokyo, Jepang. Tampaknya, rombongan turis Indonesia itu belum mengerti kalau beberapa tempat makan cepat saji di Jepang mengharuskan pelanggannya untuk membereskan sendiri meja yang telah ditempati. Pemandangan meja yang berserakan setelah rombongan turis itu selesai makan tentu sangat mengganggu. Seorang traveler cerdas tentu memiliki rasa peduli yang tinggi.

4.Berinteraksi dengan Penduduk Lokal

Ilustrasi Pemukiman Penduduk (Sumber: Pexels)

Esensi perjalanan ternyata bukan terletak pada destinasinya, tapi bagaimana memaknai perjalanan itu sendiri. Sesekali pergilah menjauhi kota besar, mendatangi tempat baru, merasakan ‘denyut kehidupan’ sebenarnya dari suatu tempat, dan berinteraksi dengan penduduk lokal untuk lebih memahami bagaimana kehidupan berlangsung. Lebih dari sekadar menikmati pemandangan indah, hal tersebut bisa melatih kita untuk berempati dan berpikiran terbuka (open minded). Pikiran terbuka dan wawasan yang luas tentu tidak mudah menghakimi sesuatu yang berbeda, entah itu pendapat, karakter, keyakinan, budaya, atau nilai-nilai yang dianut orang lain.

5.Berkontribusi Terhadap Perekonomian Lokal

Souvenir Lombok (Sumber: Pixoto)

Kali ini kita bicara tentang destinasi wisata yang agak mainstream. Di sana banyak dijual berbagai produk souvenir lokal. Traveler cerdas berkontribusi terhadap perekonomian lokal. Caranya dalah membeli produk lokal yang dijual. Dengan membeli saja, bagaimana kita bisa berkontribusi? Begini logika sederhananya, ketika kita membeli barang-barang tersebut (katakanlah dari UKM lokal), keuntungan penjual bisa diputar terus. Makin banyak orang yang beli produk dari UKM lokal, maka UKM tidak akan gulung tikar.

6.Memanfaatkan Gadget untuk Hal-hal Penting

Godaan untuk berfoto selfie dengan background yang indah membuat kebanyakan orang akan menggunakan gadgetnya untuk mengambil foto sebanyak mungkin. Bagaimana dengan fasilitas lain yang tak kalah penting seperti aplikasi-aplikasi perjalanan? Berbagai aplikasi tentu lebih mempermudah perjalananmu, entah itu menyimpan kode booking tiket pesawat atau penginapan, mengecek perkiraan cuaca, mencari tempat makan yang lebih murah, dan sebagainya. Dengan sentuhan jari di layar smartphone, sebagai traveler cerdas kamu bisa mendapatkan pengalaman perjalanan yang lebih berkualitas.

7.Memiliki Jurnal Perjalanan

Ilustrasi Jurnal Perjalanan (Sumber: Pexels)

Terkesan sepele, tapi jurnal perjalanan adalah hal penting bagi traveler yang baik. Jurnal perjalanan bukan sekadar catatan basa basi selama jalan-jalan, tapi juga bisa memberi banyak manfaat, antara lain; untuk mencatat anggaran traveling, sebagai bahan evaluasi pada perjalanan berikutnya, dan untuk mengabadikan momen yang bisa dibagikan ke orang lain. Ceritakan kisah perjalananmu ke orang lain agar mereka juga bisa ikut merasakan dan menikmati apa yang kamu alami selama perjalanan.

 

(Sumber gambar utama: Pexels)