in

Body Shaming? Emang Masih Musim Ya?

Hai! Ngrumpi yuk, hehe.

Pernah enggak sih ketika kalian menghadiri reuni SMA atau SD, kemudian teman kalian bilang “Wah, putihan ya sekarang” atau “Kurusan/gendutan ya sekarang!” Atau kalian masih dipanggil dengan khusus yang mengacu pada fisik? Biasanya sih kalau gemuk, akan dipanggil ‘ndut’. Iya kan? Banyak yang menjawab ya, karena apa? Faktanya, mayoritas dari society kita melakukan itu. Dan yang paling banyak mengalami adalah perempuan. Pernah dengar tidak soal hal ini tetapi yang sering di highlight hanya perempuan? Kalau menurut studi, memang kebanyakan yang melakukan scanning head to toe adalah kaum hawa. Natural manusia adalah melihat kurangnya. Berbeda dengan laki-laki, mereka lebih memilih untuk memendam sendiri dengan alasan malu atau memang bukan hal yang krusial baginya.

creativemarket.com
Sumber: creativemarket.com

Ada satu interview video di YouTube yang dalam videonya terdapat anak berusia 7-18 tahun. Rentang usia itu rentan mendapatkan perlakuan tidak baik akan fisiknya. Mereka pernah mendapatkan sindiran, perkataan buruk oleh temannya dan otomatis merasa minder, seperti: oh I’m too chubby, I’m not skinny, I’m really insecure with my own skin, I’m the tallest girl in my class.

Betapa menderitanya ketika semua yang kita lakukan itu salah, tidak ada yang benar ‘menurut mereka’. Apa ‘aku’ hidup pun salah? Terlihat seperti perbudakan oleh beauty standard yang ada.

Coba baca sejarah zaman dahulu mengenai kasus ini. Pernah dengar daerah Fiji Oceania? Di negara tersebut, masyarakatnya memiliki prinsip ‘big is beautiful’, gemuk adalah lambang kekayaan dan kemakmuran. Di Amerika, tahun 1860-1922, Lilian Russel adalah artis yang menjadi beauty center dengan menunjukkan bahwa cantik itu memiliki badan curvy atau lebih dikenal dengan sebutan Gitar Spanyol. Kemudian, tahun-tahun setelahnya berubah total. Tokoh seperti Lesley Lawson mengubah ‘cantik’ itu ketika memiliki badan yang kurus, seluruh perempuan di berbagai belahan dunia pun mengikuti. Tahun 2019 kemarin, balik lagi ke curvy karena munculnya keluarga Kardashian untuk bagian barat. Atau untuk bagian timur, diperlihatkan dari sisi Korea dengan penampilan tubuh kurus, warna kulit putih, mulus, shining, glowing, dan memiliki pori-pori kulit yang sekecil mungkin.

Jadi, dari segi mana yang akan diikuti? Mengapa tidak konsisten, selalu berubah, dan berbeda di setiap bagian? Jawabannya tidak ada. Ya! Beauty standard itu tidak ada sayang.

Cerita nih, pengalaman yang sering banget terjadi kepada gue.“Kalau ketawa, matanya merem ya! Haha, nanti ditinggal temennya pergi lho.” Hafal banget, apa iya gue engga boleh ketawa supaya mereka engga melabeli gue sebagai mata sipit? Seburuk itu kah?

“Siapa juga yang ingin punya mata sipit ketika ketawa! Sebal banget.” Namun, semakin lama semakin dilihat, menyipitnya mata ketika tertawa itu lucu ternyata. Haha, terdengar memuji diri sendiri, tetapi jika hal itu lebih ‘sehat’ dibandingkan dengan umpatan maka, memang sudah seharusnya melakukan itu. Proud of myself.

You’re not alone.

Baca Juga: Terjebak di Lingkungan Teman Toxic, Harus Bagaimana?

Body Image

Mari kenalan dengan body image. Cermati pelan-pelan saja, body image adalah persepsi atau padangan mengenai diri sendiri. Terdapat dua pembagian, negatif dan positif. Body image yang positif yaitu ketika diri sendiri merasa puas akan apa yang dimiliki. Dan yang negatif adalah sebaliknya, merasa ada yang salah serta selalu ingin memperbaiki. Bagus kalau ternyata prinsipnya adalah positif body image. Namun, kalau negatif? Itu akan berpengaruh pada mental health. Get it? Hal itu terjadi karena pikiran kita sendiri. Ketika pikiran sedang tidak sehat, tumbangnya fisik akan dengan mudah terjadi.“Duh kemarin dia bilang gue gendutan, gue ga akan makan deh.” Ya sudah pasti, sakit.

Sudahlah, tidak perlu melakukan diet yang ekstrem, apalagi mengonsumsi suplemen untuk mengurangi berat badan dengan embel-embel kurus dalam waktu singkat. Percayalah, kebanyakan suplemen seperti itu bekerja tidak sesuai dengan ‘normalnya’. Bisa jadi cara kerjanya adalah dengan dibuat selalu buang air besar, yang berarti konsumsi makanan di setiap harinya hanya lewat saja. Ada juga yang lebih seram, di suatu negara terdapat surgery untuk mengatasi berat badan berlebih yaitu dengan mengikat lambung pasiennya, sehingga pasien akan sedikit merasakan lapar.

Sebenarnya, media adalah kontributor terbesar dalam proses penyebaran pengaruh. Pada tahun 1999, peneliti Western mendapatkan hasil dari penelitiannya bahwa masyarakat Fiji yang sudah dibahas pada awal tadi, berubah pikiran akan prinsipnya ‘big is beautiful’ setelah tiga tahun di liput oleh media barat. Kemudian kasus bullying meningkat lima kali lipat.

Terdapat video interview lain yang merupakan hasil wawancara dengan Korean mengenai plastic surgery. Mayoritas pendapat adalah tidak mengapa jika tidak berlebihan. Faktanya? Kepuasan manusia itu berbeda-beda dan tidak ada batasnya. Body obsession, how much it’s too much?

Bahkan dewasa ini, teknologi semakin maju, tanpa surgery pun bisa merubah apa yang diingini. Contohnya filler, dagu kurang lancip bisa diatasi. Contoh lainnya adalah sulam alis, tidak percaya diri dengan alis yang tipis atau ketika memakaikan pensil alis di bilang seperti memakai spidol atau alis Sinchan? Tentu bisa diatasi. Segampang itu untuk bisa melampiaskan ketidakpuasan yang sebenarnya sudah cukup. Your body already perfect.

Lagi-lagi, media sosial ikut menyumbang pengaruhnya. Scrolling, melihat unggahan orang lain atau potret milik sendiri pun bisa menggiring kepada pikiran negatif jikalau juga melakukan perbandingan dengan yang lain.

Pengaruh lain adalah dari beauty industry. Dengan iklan mereka, model untuk promosi produk yang ditampilkan sesuai dalam ‘cantik’ ala society, yang kurus, putih, mulus. Insecure adalah hal yang terjadi setelah melihat iklan tersebut. Kemudian, hal tersebut dimanfaatkan sehingga produknya pun terjual.

Apakah tidak sadar jika dunia di belakang foto dan iklan yang sempurna, terdapat banyak step yang harus dilalui? Editing, fixing, dan selecting. Ada noda sedikit, brush, dan lainnya. Yang dilihat adalah hasil proses rumit dan memang telah dirancang penuh strategi agar boom. Itu semua unrealistic.

You’re not alone.

Tahun 2004, Dove mengadakan art exhibition dengan mengusung tema Real Beauty. Menampilkan 67 photography of women in a world, menunjukkan bahwa ‘cantik’ itu beragam. Tahun 2000-an juga terdapat campaign mengenai body positivity. Kampanye itu diikuti berbagai orang cantik yang unik, sesuai dengan kelebihan masing-masing.

Body Shaming
Sumber: Tyler Feder

Mungkin ada yang berpikir, “Kak, bukannya berat badan yang berlebih itu tidak sehat?” Benar, dalam kampanye itu tidak serta merta mendukung akan badan yang tidak sehat, tidak juga membiarkan yang memiliki berat badan berlebih untuk selalu nyaman dengan kondisi tersebut. Apapun yang berlebih itu hal yang tidak baik, benar? Tidak baik untuk berlebih dalam makan, berlebih dalam tidur atau banyak rebahan. Haha, mari seimbangkan pola keseharian. Memulai menjadi sehat, dengan olahraga. Jalan pagi di depan rumah lima belas menit sehari itu sudah cukup untuk lebih sehat , stay hydrate, makan dengan nutrisi yang cukup, dan tidur teratur. Atau jika ingin lebih seru atau tertarik dengan dancing maka, bisa menjadi salah satu option untuk sehat, melakukan latihan setiap harinya selama satu dua jam pun tidak terasa jika diikutkan rasa senang dalam diri. Dancing dengan segala macamnya, bebas dalam pemilihan jenis aliran, bisa cover, modern, atau tradisional.

Baca Juga: Mengenal Toxic Positivity, Niat Baik yang Berbahaya

Tidak hanya fisik yang dilatih, mental juga. Kurangi scrolling sosial media yang hanya membuat kembali mengumpat akan diri sendiri. Jika tidak suka, unfollow, block atau mute saja hal toxic. Tidak perlu mengikuti kelompok yang suka mengirimkan hate comment. Siapa lagi yang akan menyelamatkan diri kalau bukan diri sendiri? Diri ini berhak untuk mendapatkan kebahagiaan tanpa adanya stigma yang mengekang dan tetap sehat. Jangan bertahan untuk dikuasai orang lain, kuasailah sendiri, kendalikan.

Ubah juga persepsi akan hal-hal yang masih mengganggu kesehariannya. Pipi chubby? Why not? Bukankah dengan itu terlihat lebih awet muda. Memperdalam pemahaman mengenai fisik sendiri, bersyukur akan mata yang masih bisa bisa melihat pemandangan yang indah, hidung yang masih lancar untuk menghirup udara, semua organ masih berfungsi dengan baik. Kalau kata anak zaman sekarang, kurangi insecure banyak bersyucure. Hehe.

Coba deh, berdiri di depan kaca, kalian akan melihat bahwa diri kalian baik-baik saja. Jadi apa lagi yang harus di khawatirkan? Tidak usah gelisah akan hal yang tidak ada. Semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan telah diciptakan spesial oleh Nya. Memiliki keunikan yang sudah dibawa dan akan selalu melekat. Hal itu akan bersinar terang layaknya tujuan awal diciptakan untuk respect each others and always feel special. Love

Report

What do you think?

Participant

Written by ALIEN

Story Maker

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

beli tiket pesawat murah

Beli Tiket Pesawat, Percayakan Traveloka Sebagai Travel Agent Jaman Now

Boleh Melamun Asal Tetap Produktif, Coba Tips Ini!