Dengan siapa biasanya kamu banyak menghabiskan waktu? Beberapa di antaranya adalah orang-orang terdekat yang berpikir positif, dan kepadanya kamu bisa berbagi cerita. Sebagian di antaranya adalah partner yang hebat untuk mengerjakan hal-hal bermanfaat. Tapi, tidak dipungkiri, ada juga sebagian lainnya yang masih suka mengeluhkan kehidupannya yang sebenarnya baik-baik saja.

Seperti yang dikatakan motivator legendaris Jim Rohn (1930 – 2009), “Kamu adalah rata-rata dari lima orang yang paling banyak menghabiskan waktu bersamamu.” Apa artinya? Ini mungkin jarang kita pikirkan, bahwa ternyata orang di sekeliling kita bisa membentuk diri kita sedemikian rupa. Bukan berarti harus pilih-pilih teman sampai membatasi diri, namun penting untuk kita pahami bahwa menghabiskan waktu dengan orang yang bersikap positif, selain jadi lebih bahagia, juga berdampak positif untuk kesehatan. Dalam artikel ini, akan kita bahas alasan-alasan mengapa kita harus sering berinteraksi dengan orang-orang yang berpikir positif. Apa saja?

Baca Juga: Generasi Milenial Rentan Gangguan Kesehatan Mental, Fakta atau Mitos?

1.Mereka Adalah Support System yang Baik

Support system (Sumber: Pixabay)

Ada orang-orang yang meskipun tanpa diminta, mereka mau memberi dukungan kepada orang lain. Misalnya dukungan kepada teman. Ia tahu bahwa temannya yang sedang berjuang itu akan lebih termotivasi saat diberi dukungan, melalui hal sederhana sekalipun.

Mereka yang memiliki sikap positif, tentu saja, akan menjadi support system yang baik bagi orang lain yang memang membutuhkan. Itu juga menjadi cara mereka untuk meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik. Orang yang bersikap dan berpikir positif itu bisa memberikan waktunya untuk orang lain. Dengan cara begitulah, ia mampu membangun energi dalam dirinya.

2.Lebih Mampu Mengatasi Stres

Stress n relax (Sumber: Pixabay)

Masalah yang dihadapi setiap orang mungkin berbeda-beda. Saat ada hal yang berpotensi memicu stres, orang yang berpikir positif akan tetap tenang, dan sikap tenangnya itu bisa menular ke orang lain di dekatnya.

Orang-orang dengan pikiran positif cenderung memiliki tingkat imunitas atau kekebalan tubuh yang tinggi, tingkat depresi yang rendah, dan juga mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Tidak hanya mengatasi stres dan tingkat kekebalan tinggi, menjadi orang dengan pikiran positif juga berpengaruh pada kesejahteraan secara umum, termasuk peningkatan usia harapan hidup (tentu terlepas dari faktor takdir).

3.Memiliki Pandangan yang Berbeda

Pandangan matanya (Sumber: Pixabay)

Ada saatnya sesorang menghadapi situasi yang baru dan belum pernah dialami sebelumnya. Orang yang berpikir positif mampu bersikap terbuka pada cara-cara baru dalam menyikapi sesuatu atau ketika mengekspresikan diri. Mengapa orang perlu melakukan sesuatu yang berbeda? Mengapa perlu memiliki pandangan yang berbeda? Tentu saja agar hasil yang diwujudkan juga berbeda. Untuk menentukan pilihan sikap saat menghadapi situasi sulit, bukankah sebenarnya sederhana saja:  Lebih baik menggunakan energi untuk memikirkan solusi.

Baca Juga: Bagaimana Cara Mengoptimalkan Bonus Demografi untuk Pembangunan Bangsa?

4.Tetap Percaya Diri Sambil Terus Memperbaiki Kesalahan

Mistake (Sumber: Pixabay)

Orang yang berpikiran positif juga bisa dilihat dari bagaimana dia bereaksi terhadap kesalahan. Ada orang yang cenderung menghabiskan banyak waktu mengkhawatirkan hal yang belum terjadi, hanya karena takut membuat kesalahan. Karena banyak hal yang penuh ketidakpastian, bukankah setiap orang bisa memilih: seberapa berani mengambil risiko kesalahan.

Uniknya, saat kita merasa bebas tanpa beban pada kemungkinan kesalahan yang terjadi, justru menciptakan kondisi yang lebih sedikit terjadi kesalahan terjadi, lebih menyenangkan, dan lebih produktif. Orang-orang positif tahu bagaimana untuk tetap percaya diri sambil terus memperbaiki kesalahan.

5.Tidak Terganggu dengan Omongan Orang

Ada jutaan orang baik yang ikut membenci politikus, mengeluhkan ketidakdilan, atau memikirkan hal-hal yang seringkali bukan urusan mereka. Bagaimanapun, setiap orang punya penilaian pada sesuatu di luar dirinya, termasuk orang lain. Ada saja orang yang cenderung senang mengomentari urusan orang. Entah itu pujian atau kritikan, kita tidak bisa membendungnya. Sikap positif akan mendorong untuk terbuka saja denga kemungkinan-kemungkinan. Kalau kita senang mendengarkan suara-suara positif dari luar, maka mau tidak mau kita juga harus siap mendengarkan suara-suara negatif mereka.

Setiap orang akan menanggapi setiap hal dan peristiwa sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing. Kita tidak akan pernah rugi dengan perilaku orang kepada kita. Dan setiap sudut pandang pastilah berbeda satu sama lainnya. Yang pasti kita tidak boleh memaksa orang lain membuat sesuatu sama dengan keinginan kita.

Baca Juga: Inilah Sosok Mahasiswa Kreatif Penggagas Kampung Warna-Warni Jodipan di Kota Malang

6.Bisa Menikmati Kesibukan Tanpa Keluhan

Di zaman sekarang, orang-orang bekerja seringkali dituntut untuk bisa berbuat lebih banyak dengan waktu singkat, dan dengan target yang tidak ringan. Bukankah dalam banyak situasi, segala sesuatu sangat relatif? Tergantung dari bagaimana reaksi kita. Untuk membiasakan diri tidak mudah mengeluh dalam kesibukan, coba carilah hal positif di sekitar.

Setiap pekerjaan yang kita tekuni tentunya membawa tantangan masing-masing. Pilihan ada pada diri kita sendiri. Sama-sama sibuk, mengeluh akan buang-buang energi. Mengapa tidak mengkondisikan diri bahagia?

7.Karena Energi Positif Itu Menular

Keep on smiling (Sumber: Pixabay)

Dalam berbagai situasi, mendengarkan terlalu banyak keluhan tidak baik bagi otak. Trevor Blake, seorang pengusaha dan penulis Three Simple Steps: A Map to Success in Business and Life, dia menjelaskan bagaimana neuroscientist telah belajar mengukur aktivitas otak ketika dihadapkan dengan berbagai rangsangan, termasuk keluhan yang berkepanjangan.

Selain berinteraksi dengan orang yang berpikir positif, kita sendiri juga perlu mengkondisikan diri untuk bersikap dan berpikir positif. Kita tahu kalau energi positif itu menular. Tapi jangan lupa kalau energi negatif juga menular. Pertanyaannya, kita mau menularkan yang mana?