in

Benarkah Bahwa Lidah Kita Tidak Bisa Mencecap Rasa Pedas?

Tren konsumsi makanan dengan rasa pedas berlevel kini masih menjadi strategi tersendiri bagi pemilik bisnis kuliner. Ayam, mie, bakso, kripik, seblak, nasi goreng, dan masih banyak lagi. Apalagi ditambah nama-nama produk yang unik, eye catching sampai bawa-bawa nama hantu. Itu menandakan bahwa sambal sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari orang Indonesia. Bahkan, ada rasa yang kurang ketika makanan kita tidak ada sensasi pedas.

Mengapa Orang Suka Makan Pedas?

Tahukah kamu bahwa seperti kebanyakan jenis hewan, manusia pun menggunakan rasa sebagai cara untuk menentukan suatu bahan makanan yang aman untuk dimakan dan yang tidak aman. Selain itu, ketika kita sudah terbiasa dengan rasa tertentu, maka kita cenderung akan lebih menyukainya.

Selain faktor rasa, faktor cuaca dan iklim ternyata juga memengaruhi. Kita tahu bahwa negara kita beriklim tropis. Mengonsumsi makanan yang bercita rasa pedas cenderung membuat berkeringat. Tinggal di daerah yang panas, maka keringat itu memungkinkan kita untuk mendinginkan diri. Itulah yang menjadi alasan mengapa orang Indonesia cenderung suka makan rasa pedas. Tapi jangan lupakan soal tren mencicipi kuliner pedas di kalangan anak muda. Mereka kadang hanya karena ingin menantang diri dan menikmati adrenalin terpacu dan sensasi terbakar. Apakah kamu juga begitu?

( Baca jugaBelum Banyak yang Tahu, Beginilah Cerita di Balik 5 Kuliner Tradisional Indonesia )

Bagaimana Lidah Bisa Merasakan?

Terlepas dari tren kuliner pedas itu, apakah kamu masih ingat bagaimana lidah bisa mengenali berbagai rasa?

Spicy noodles (Sumber: yummy.ph)

“Astaga ini cabe di-mie-in namanya, bukan mie di-cabe-in! Huh hah, rasa pedesnya gila! Bikin lidah kebakaran!!”

Pernah suatu hari menonton video challenge di YouTube di mana hostnya memberi komentar pada mie pedas yang dimakannya. Ada yang sedikit menggelitik. Bukan pada ekspresi atau bentuk makanannya yang memang mengerikan karena lebih banyak cabainya, tapi pada bagaimana dia mengatakan ‘rasa pedas’. Di sekolah dulu, kita pernah diajarkan di mata pelajaran biologi tentang empat rasa yang bisa dikecap oleh lidah, yakni manis, asin, pahit, dan asam. Kemudian ada satu lagi rasa yang dikenali lidah, yaitu umami.

Bagaimana lidah kita bisa mececap rasa? Ternyata di sana ada sel reseptor khusus yang terhubung dengan neuron di otak, masing-masing selaras dengan rasa tertentu. Area lidah yang berbeda bisa mencecap rasa apa saja. Meskipun begitu, beberapa daerah sedikit lebih sensitif terhadap rasa tertentu.

Untuk rasa manis, asin, pahit, dan asam mungkin sudah umum buat kita tanpa dijelaskan lagi. Tapi, apa itu umami? Seringkali kita mendengar istilah ini di tayangan iklan produk penyedap rasa. Sekitar pertengahan abad 19, seorang kimiawan Tokyo Imperial University dan food enthusiast asal Jepang, Kikunae Ikeda, ‘menemukan’ sebuah rasa baru yang kemudian disebut dengan ‘umami’. Secara bahasa, umami berasal dari bahasa Jepang yang artinya ‘gurih’, yaitu saat lidah merasakan nukleotida dan glutamat. Rasa umami yang paling terkenal berasal dari monosodium glutamat (MSG) alias micin!

Spicy chicken (Sumber: Pixabay)

Selain umami sebagai rasa kelima, para ilmuwan Jepang juga meneliti tentang rasa lain yang bisa dikecap oleh lidah. Mereka menyebutnya ‘kokumi’, sebagai cita rasa ke-enam yang dikenali oleh lidah kita. Dalam bahasa Jepang, kata kokumi sendiri memiliki arti ‘kaya’ atau ‘rasa’.

Para peneliti itu menyebutkan bahwa rasa kokumi ini membuat lidah kita mencecap rasa yang begitu ‘kaya’ dan ‘melimpah ruah’, seperti misalnya yang kita rasakan pada bawang putih atau bawang bombay. Jadi seperti apa rasa kokumi? Hmm, agak sulit menjelaskannya. Barangkali sama sulitnya seperti menjelaskan bagaimana kita bisa jatuh cinta menurut sains.

Ternyata, Pedas Itu Bukan Rasa, Tapi Sensasi

Kembali ke soal ‘rasa pedas’ dan apakah pedas itu termasuk rasa yang bisa dikenali oleh lidah? Berbeda dengan rasa lainnya seperti manis, asin, asam, dan pahit yang bisa dirasakan oleh bagian tertentu dari lidah, rasa pedas malah muncul hampir di seluruh lidah, bahkan hingga ke seluruh rongga mulut. Pedas bukanlah rasa yang dapat dicecap oleh lidah, karena pedas merupakan sensasi yang disebabkan oleh zat kimia yang disebut capsaicin, zat yang biasanya terkandung pada tumbuhan seperti cabai.

Capsaicin adalah suatu bahan kimia yang tidak berbau dan ada di dalam biji cabai yang berwarna putih. Ketika biji cabai itu tergigit, maka capsaicin akan memberikan sensasi seperti terbakar atau terasa panas di lidah. Seperti itulah yang kita kenal sebagai ‘rasa pedas’.

Cabai merah (Sumber: Pixabay)

Lalu mengapa saat mengonsumsi makanan pedas seringkali lidah terasa seperti terbakar? Ini ada hubungannya denga papila. Kalau kamu melihat lidahmu di cermin dari jarak dekat, kamu akan melihat bintik-bintik kecil dengan warna kemerahan. Bintik-bintik itulah yang disebut dengan dengan papila. Papila merupakan tonjolan pada permukaan lidah yang berisi ujung-ujung serabut saraf yang fungsinya menerima rangsang pengecapan. Papila juga berfungsi untuk membuat permukaan lidah menjadi tidak rata, supaya lebih mudah untuk membolak-balik makanan di mulut.

Ketika papila tersentuh oleh capsaicin, maka reseptor saraf sensorik yang ‘bertugas’ mendeteksi panas akan menyampaikan ‘informasi’ ke otak bahwa lidah kita telah menerima panas dari zat capsaicin itu. Otak menerima isyarat berupa iritasi atau terbakarnya sel. Mirip seperti iritasi pada kulit yang terkena panas. Itulah yang membuat sensasi pedas itu bisa dirasakan. Sampai di sini kita sudah tahu kalau ternyata pedas itu bukan rasa, tapi sensasi. Sekadar informasi, capsaicin dapat diukur dengan skala Scoville, yaitu skala yang mengukur tingkat kepedasan.

Jadi bagaimana, apakah kamu suka mencicipi kuliner pedas? Btw, lebih pedas mana dibanding omongan tetangga netizen? Ups. He he.

Meskipun suka pedas atau hanya ingin mencoba tantangan, sebaiknya tetap jaga kesehatan ya…

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

Sempat Dikira Penyakit Mental, Inilah Uniknya Kepribadian Introvert

Perayaan Maulud Nabi di Indonesia

Peringatan Maulid Nabi: Menikmati Momen Liburan dengan Wisata Religi dan Budaya