Bicara soal etnis China di Jawa, maka Lasem adalah pusatnya. Kini, Lasem atau Lao Sam dikenal juga sebagai ‘China kecil’ yang merawat perpaduan budaya China dan Jawa. Ada banyak sumber yang menerangkan sejarah dari daerah Lasem yang berada di kabupaten Rembang ini.

Pada abad ke-14 sampai 15, Lasem menjadi salah satu tempat berkembangnya para imigran dari Tiongkok, selain di Semarang (Sampotoalang) dan Ujung Galuh (Surabaya). Datangnya armada besar Laksamana Cheng Ho sebagai duta politik Kaisar China ke Jawa pada masa Dinasti Ming, mereka memperoleh legitimasi untuk melakukan aktivitas perniagaannya dan kemudian banyak yang tinggal dan menetap di daerah pesisir utara Pulau Jawa. Mereka ingin membina ‘hubungan bilateral’ dengan kerajaan Majapahit terutama dalam bidang kebudayaan dan perdagangan.

Pilihan Editor;

Tentunya dalam beberapa kondisi, Lasem zaman dahulu dan sekarang tidaklah sama persis. Lasem kini adalah slah satu kecamatan di Kabupaten Rembang, sekitar  12 km ke arah timur dari ibukota kabupaten Rembang. Letaknya yang dilewati oleh jalur pantura, menjadikan kota ini sebagai tempat yang strategis dalam bidang perdagangan dan jasa.

Meskipun demikian, perkampungan Tionghoa masih sangat banyak tersebar di Lasem. Gang-gang rumah penduduk di Lasem dibatasi dinding tinggi dengan pintu berbahan kayu tebal dengan aksara China atau tulisan Han Zi. Penduduk perumahan yang dibangun dengan gaya arsitektur China itu rata-rata adalah produsen batik.

Lasem dan Potensi Wisatanya

Sleep Buddha (Sumber: liburankeren.com)

Selain terkenal dengan sejarah, budaya, dan pluralisme warganya, Lasem juga punya potensi wisata. Patung Buddha terbaring ini terletak di Vihara Ratanavana. Tempat-tempat yang wajib dikunjungi di Lasem antara lain; Tiongkok kecil heritage, Pantai Binangun, dan patung Buddha terbaring di Vihara Ratanavana. Seperti di Thailand, di Lasem juga terdapat patung Buddha terbaring yang berlapis emas. Pantai Binangun pun memiliki sejarah yang unik soal penamaannya. Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa nama pantai ini diambil dari nama Laksamana Bi Nang Un, sang nahkoda ekspedisi pelayaran Laksamana Cheng Ho dari China. Selain itu di Lasem ada juga toko-toko souvenir batik, tempat belajar budaya Tionghoa dan Jawa di Lasem, sampai homestay.

Perpaduan China dan Jawa dalam Motif Batik Lasem

Menurut sejumlah catatan sejarah, para pendatang dari negeri tirai bambu tiba ke Lasem pada abad ke 15, saat zaman penjajahan Belanda. Setelah mereka berbaur dengan penduduk setempat yang beretnis Jawa, kemudian lahirlah satu motif batik yang khas Lasem. Batik Lasem dikenal sebagai salah satu batik tulis yang memiliki tingkat kerumitan yang cukup tinggi. Tidak heran kemudian kalau harga batik tulis Lasem bisa dibilang lebih mahal. Seringkali batik Lasem diburu oleh para kolektor dan kelas menengah atas. Harga batik Lasem sendiri mulai dari ratusan ribu rupiah, sampai puluhan juta rupiah.

Batik lasem motif naga (Sumber: rumahukm.com)

Belajar Toleransi dari Lasem

Perpaduan budaya China dan Jawa di Lasem tidak hanya berhenti pada sepotong kain batik tulis. Dalam kehidupan sehari-hari pun demikian. Nilai-nilai toleransi antar etnis dan agama begitu kental di daerah yang dijuluki ‘China kecil’ atau ‘Tiongkok kecil’ itu. Dalam kehidupan negara Indonesia yang plural, isu toleransi tak habis-habisnya dibahas. Beberapa situasi memungkinkan sentimen dan stereotip terhadap kaum minoritas yang semakin menguat. Benturan-benturan kepentingan masyarakat bisa jadi sebab terjadinya kon¬flik, entah kecil maupun besar skalanya. Tapi, di Lasem kita melihat bentuk toleransi yang sebenarnya.

Toleransi antar etnis dan agama di Lasem sudah terjadi sejak dahulu. Ibaratnya, generasi yang ada sekarang ini hanya meneruskan saja. Hubungan sosial yang harmonis antar etnis dan agam itulah yang membuat Lasem tidak terkena imbas kerusuhan rasial seperti halnya yang terjadi di daerah lain, khususnya di Jawa Tengah pada tahun 1998.

Lasem juga dikenal sebagai kota santri. Salah satu pesantren yang terkenal di sana adalah Pondok Pesantren Kauman Lasem, Desa Karangturi. Nilai-nilai budaya Tionghoa juga melekat pada arsitektur pondok pesantren di kawasan ini. Bahkan, pos keamanan pesantren yang berada di bagian depan dibentuk dan dicat serupa bangunan kelenteng. Di beberapa bagian juga ditemukan lampion hingga huruf-huruf Cina.

Bagian depan pesantren dengan lampion (Sumber: youtube.com)

Di daerah Pecinan Lasem juga berdiri kokoh sebuah Masjid Agung Rembang. Sekadar informasi, di dalam kompleks masjid terdapat makam tokoh Tionghoa penyebar agama Islam di Lasem. Makam tersebut sering didatangi peziarah dari berbagai kota. Pembina Pondok Pesantren Kauman, H.M. Zaim Ahmad Ma’shoem atau yang akrab disapa Gus Zaim mengatakan bahwa nilai toleransi itu bukan suatu tugas atau kewajiban yang mesti dilakukan, tapi menjadi sebuah tata kehidupan dalam diri sendiri.

 

(Sumber gambar utama: wisatarembang.com)