Menjalani kesibukan sebagai mahasiswa S2, desainer grafis, enterpreneur, sekaligus penulis kreatif yang aktif di jalur dakwah tentu menjadi sebuah tantangan besar. Tapi salah satu sahabat Ublik yang satu ini berhasil menjalaninya. Dialah Rizki Ageng Mardikawati, mahasiswa S2 Pendidikan Fisika UNY yang sebentar lagi akan menyelesaikan studinya. Sebagai inspirasi menjadi produktif dan bekerja dengan hati, simak wawancari bersama anak muda kelahiran Pacitan, 17 Agustus 1992 ini.

Baca juga: Evi Lestari: “Kuliah di Negeri Panda Membuat Saya Membuka Mata”

Rizki ‘kan suka menulis ya, desain grafis iya, bahasa Inggris jago, bisnis jalan, organisasi, dan tentunya dakwah. Nah, kuliahnya pendidikan Fisika. Kalau harus milih, mana sih yang paling menggambarkan dirimu?

“Ah, berlebihan mujinya, hehe. Padahal aku biasa aja kok. Kalau diminta milih mana yang paling nggambarin diriku, ehmm, pertanyaan yang sulit karena mereka itu udah jadi ‘es campur’ dalam kehidupan aku yang saling berkaitan. Satu sama lain berhubungan dan insyaAllah (diusahakan) saling menumbuhkan.”

“Bahkan nih ya, bisa jadi satu takdir yang awalnya dianggap nggak aku banget justru membawa aku ke takdir lainnya, yang masyaAllah ternyata aku banget. Allah so baik banget kan ya, suka terharu dibikinNya :’) Misal, dengan kuliah di Pendidikan Fisika UNY, aku jadi kenal komunitas nulis, desain, bisnis, dakwah, dsb dsb-nya itu. Dulu aku ngebayangin kalo satu aja ada yang berubah dari apa yang kujalani dulu, mungkin kehidupan sekarang nggak akan seperti ini. Like mata rantai gitu. Tapi kepaksanya disuruh milih, apa ya? Jadi pembelajar sih, itu.”

Rizki dalam sebuah kegiatan di UNY (Sumber: Ublik.id/Rizki)

Baca jugaHardika: “Tidak Banyak yang Tahu, Beginilah Realita Kuliah di Luar Negeri”

Ngomong-ngomong siapa sosok inspirator yang selalu bikin semangat?

“Allah dan Rasulullah dong, pasti. Mungkin terdengar klise dan biasa, but aku merasakan jika tanpa motivasi utama ini, kita bakalan gampang goyah dan mengeluh. Lalu kedua orangtua, yang tentu saja pengorbanannya jangan ditanya, memberi sebanyak-banyaknya tanpa balas meminta. Keluarga terdekat, juga ada sosok teman-teman juga yang ngasih energi positif yang bisa kuambil.”

Rizki udah bikin studio desain ya?

“Alhamdulillah sudah, tapi ya masih kecil-kecilan dan di kosan aja, in searching partner gitu ceritanya. Uhuuy. Nama studionya ‘Pelangi Inspirasi’, terus ganti nama jadi ‘Tomodachi’. Eh sekarang (ganti lagi) jadi @fatihhulya.muslimstore. Btw, Fatih sama Hulya itu nama anak-anak aku, kalau besok ‘Pak Suami’ kasih acc. Wkwk.”

Boleh tahu, Rizki sekarang lagi ngejalanin bisnis apa aja sih?

“Sekarang lagi ikhtiar bersama teman-teman akhwat empat orang, ngejalanin bisnis yang bikin custom book & daily book yang bisa request sampulnya. Berdirinya bisnis ini baru tahun kemarin, awal 2017 dan alhamdulillah masih on fire sampai sekarang. Lagi ada promo graduation nih, coba kepoin instagram @qum.planner” *iklan tipis-tipis

“Kalau pribadi, yang in searching partner, yang fatihhulya tadi, masih menerima jasa desain, cetak banner stiker, dll, dan jualan buku-buku islami. Buku-buku ini aku memasok dari seorang ummahat yang jadi agen gitu sih. Niatnya selain biar dapat tambahan (penghasilan), yang utama itu pengen bantuin teman-teman kampus biar gampang cari referensi islami. Jualan buku karya sendiri juga, kalau lagi ada yang mau beli, hehe.”

“Terus dengan dua teman akhwat dan dua teman ikhwan yang sama-sama dari FMIPA dulu, nyoba bikin produsen gamis dan jilbab, namanya @ziyada.id. Murni baru belajar, jadi yang beli emang baru kalangan sendiri. Oh iya, di @qum.planner, aku bagian manajerial, keuangan, sama produksi sih, yang desain adik kelasku. Kalau @ziyada.id baru aku yang desain dan jadi admin.”

“Sama ini satu lagi. Ngisi training-training nulis sama ekskul-ekskul gitu. Tapi ini bisnis bukan ya? Hehe. Mohon doanya ya.”

Custom book tampak depan (Sumber: Ublik.id/Rizki)

Apa kesulitan dan tantangan yang dihadapi untuk menjalankan semua aktivitas itu?

“Kesulitan? Hmm, membagi waktu kali ya. Terkadang dalam sehari kan harus membagi diri menjadi berbagai aktivitas. Kadang merasa kurang maksimal, tapi kudu tetap dijalani. Soalnya kalau nggak, ntar dzalim kan? Tapi bersyukur atas semua itu, jadi meminimalisir ancaman waktu luang.”

“Kenapa aku bilang waktu luang itu mengancam? Karena sering mikir yang aneh-aneh kan. Nah pas sibuk, pasti nggak kepikiran blas dong buat yang aneh-aneh, nggak ada waktu. Hehe, kalau nyampe rumah sudah langsung tidoor, kelelahan. Benar kata Umar bin Khattab, kedua tangan ini diciptakan untuk bekerja, kalau ia nggak disibukkan dengan perkara kebaikan, pasti ia sedang bergelimang dalam kemaksiatan. Jleb banget kan…”

“Eh tapi ya nggak saklek kok ini, kadang juga selow dan receeeh banget. Hehe. Kadang sedih itu kalau ada yang minta tolong terus nggak bisa bantuin, ada teman main malah dianggurin, dsb. Tapi ini lagi proses belajar sih, biar lebih bijak lagi membagi waktu dan memilah-milah prioritasnya. Doain ya ❤”

Menjadi pembicara di acara Sparkling Ladies (Sumber: Instagram floweria_sy)

Tentang idealisme dalam berkarya, apa pendapat Rizki?

“Idealisme berkarya? Let it flow sih kalau aku. Orang-orang bilang karya-karyaku datar, terlalu ‘lurus’, dan gak bisa ‘nakal’. Hehe tapi ya mau bagaimana lagi, thats me. Padahal aslinya belum mau belajar mengolah ide yang ‘begituan’.” (karya yang nakal, -red)

“Selama ini tema karyaku ya seputar permasalahan kehidupan dan nggak neko-neko, lebih ke motivasi gitu. Soalnya menurutku, dunia ini udah terlalu negatif, tolong dong jangan bikin karya yang malah bikin dunia negatif, eh maksa ini :p .”

Pernah nggak sih, membayangkan 10 tahun ke depan, dirimu akan jadi seperti apa?

“Ehmm, 10 tahun ke depan kayak apa, udah aku tulis di cerpen aku di buku pertama lho. Dasar, #otakdagang :P. Ya emang sekarang aku lebih dikenalnya sebagai ‘tukang dodolan’ sih, wkwk.”

“Tapi Allahu a’lam besok kayak gimana. Yang kebayang itu, aku tetep jadi seorang guru, yang juga pengusaha. Jadi tetep ngajarin ilmu, baik Fisika apa yang lain ke anak-anak. Di rumah aku besok ada perpus, plus toko buku. Ada cafe kecil, buat diskusi. Kalau sore dipakai TPA, pagi dipakai kajian.”

“Ada gerai butik juga di situ. Pokoknya pengen bikin lapangan kerja di rumah aku. Semoga dapet suami yang bercita-bercita sama, hoho. *aamiin. Intinya bisnis dan keinginan diri tercapai, tapi juga mewujudkan apa yang ortu mau. Ibu bapak pengin salah satu anaknya jadi guru apa dosen gitu. Pengajarlah intinya. Tapi tetep, aku jadi madrasah pertama buat anak-anakku dan berusaha selalu ada buat mereka, jadi tempat pertama mereka bertanya banyak hal, jadi tempat pertama mereka cerita. Dan tentu, penyejuk hati bagi suami. Ceilah..❤”

“Pengennya tetep dakwah bareng-bareng, menghidupkan forum-forum ilmu dan kajian, bikin penerbitan percetakan sendiri… Waaa banyak pengennya ya. Itu aja sih, itupun kalau masih dikasih umur sama Allah. Doain aku yaa.”