Sudah banyak yang sadar kalau negeri ini lemah baca. Sudah banyak pula yang giat betul untuk membangkitkan semangat literasi negeri ini. Tapi sudah sampai manakah kita berjalan? Melesat jauh? Mundur? Atau justru jalan di tempat?

Jika kita menengok berita dari suara.com, kita bisa melihat bahwa permasalahan buta huruf seperti sudah menemui titik terang. Meskipun pada laman lainnya seperti pikiran-rakyat.com, tertulis bahwa masih ada 3.4 juta orang di Indonesia yang masih buta huruf. Tetapi hal ini tidak menyurutkan semangat seluruh lapisan masyarakat untuk bergerak mengentaskan permasalahan niraksara di negeri ini.

Baca Juga: Yakin Bahasa Indonesia Kamu Sudah Benar? Yuk Belajar dengan Wikipediawan Ivan Lanin Berikut Ini

Hal itu juga ditunjukkan dari antusiasme berbagai gerakan yang memiliki misi untuk ikut terjun berkontribusi dalam menggiatkan literasi. Beragam stakeholder seperti Kantor Pos Indonesia juga memberi dukungan untuk membebaskan biaya kirim paket buku bagi para pegiat literasi dan pustaka bergerak sampai ke pelosok daerah. Kemudian tidak sedikit pula para penerima beasiswa dari pemerintah yang juga melakukan kegiatan dengan misi serupa untuk membangun perpustakaan sebagai wujud kontribusi mereka kepada negara.

Belum lagi sekolah menulis yang diadakan secara gratis maupun berbayar akhir-akhir ini juga semakin banyak beredar. Mereka membuka tangan untuk merangkul dan membersamai orang-orang yang ingin belajar membaca dan menulis dengan baik dan benar. Dari lingkaran-lingkaran kelompok ini akhirnya muncullah bibit-bibit baru yang semakin gemar dengan buku dan berhasrat untuk menularkannya lagi secara meluas.

Ilustrasi membaca (Sumber: Pexels)

Dari semua itu, sebenarnya Indonesia sudah tidak perlu lagi merasa khawatir yang berlebihan atas permasalahan literasi. Meskipun angka tidak pernah diprediksi, tetapi saya secara pribadi masih yakin bahwa daya baca rakyat negeri ini akan terus meningkat dari hari ke hari.

Terlepas dari semua itu, PR kita memang belum selesai. Masih ada beberapa sisi suka duka yang tidak banyak publik ketahui dalam menjalani misi perbaikan daya literasi kita. Kira-kira apa sajakah itu? Berikut kita simak bersama:

1.Buku dan Simbol Kemewahan

Untuk membeli buku karya kenamaan dari Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Bumi Manusia”, kita harus menyiapkan dana sekitar 135.000 rupiah. Atau Aroma Karsa gubahan Dee Lestari, paling tidak kita harus mengeluarkan uang sebanyak 125.000 rupiah. Uang senilai itu, bagi beberapa kalangan masyarakat bukanlah dana yang sedikit. Saya secara pribadi juga masih memperhitungkan betul jika harus mengeluarkan dana sebanyak itu untuk membeli buku. Apalagi jika saya tidak mampu betul untuk menikmatinya sampai khatam.

Sadar betul ketidakmampuan otak dan dompet yang tidak seberapa, buku-buku berkualitas sering dianggap sebagai sebuah kemewahan. Kalau pun ada yang mampu, tapi tak begitu cinta pada buku, uang senilai itu lebih menarik untuk dibelanjakan pada hal lain. Dan sekali lagi, kita tidak pernah bisa mengatur dan mengintervensi selera orang. Sehingga mau tidak mau kita masih menyejajarkan bahwa membaca merupakan sebuah hobi. Esensinya seperti pengisi waktu luang. Jika diklasifikan anggarannya akan masuk pada kebutuhan tersier.

Jadi ya… jangan heran apabila daya literasi kita seolah masih jalan di tempat jika dibandingkan negara berkembang lainnya.

Buku vs Kindle (Sumber: Pexels)

2. Persaingan Dunia Cetak dan Digital

Sebagai negara dunia ketiga, rakyat Indonesia memang sering dihadapkan pada kondisi-kondisi yang cukup sulit. Kita dan para sesepuh kita dituntut untuk bernegosiasi antara kemajuan teknologi dengan kapasitas diri. Sejarah mencatat bahwa mesin cetak mulai muncul di Eropa pada masa Renaissance, yaitu pada abad ke-16. Mereka yang ada di Eropa sana sudah bisa menikmati Al Kitab sendiri-sendiri, kita sebagai negara jajahan mereka masih tak berdaya karena harus kerja rodi.

Pada abad ke-19 ketika Nusantara mulai menelurkan bibit-bibit intelektualnya hingga akhirnya bisa membawa Indonesia merdeka. Tiga ratus tahun lamanya selisih masa itu, teknologi tentu saja tidak berhenti untuk terus berkembang. Bagai bayi yang baru saja lahir dan berusaha merangkak untuk mengicipi aksara, rakyat Indonesia sudah harus menyesuaikan diri dengan hadirnya radio dan televisi. Selang beberapa dekade berjalan, yaitu hari ini, ketika buku belum benar-benar hadir dalam diri masyarakat, kita sudah harus berhadapan dengan gelombang dunia digital. Akhirnya penerbitan buku, koran-koran cetak, satu per satu mulai gulung tikar. Mereka tergilas tanpa ada banyak orang yang mampu mengarsipkan sebagai bekas untuk napak tilas.

Baca Juga: Membongkar Sisi Duka sebagai Pelaku Pekerjaan Freelance di Indonesia

3. Membaca sebagai Gaya Hidup

Melanjutkan dari poin pertama bahwa buku merupakan sebuah kemewahan, maka tidak sedikit orang yang membeli buku bukan sebagai kebutuhan hidup. Mereka ‘mengonsumsi’ buku bukan karena sisi fungsionalnya, yaitu untuk dibaca, didiskusikan, dan diapresiasi. Lebih dari itu, tidak sedikit masyarakat di sekitar kita yang ‘mengonsumsi’ buku karena tanda yang berelasi dengan buku itu sendiri.

Tentu kita sepakat bahwa buku lebih sering dikaitkan dengan ‘intelektual’, ‘orang yang cerdas”, “priyayi”, dan seterusnya. Hal ini semakin didukung oleh para pelaku bisnis perbukuan yang menggunakan tagline, “Membeli Buku adalah Sebuah Kehormatan” atau “Buku lebih baik daripada Batu”. Akhirnya tidak sedikit publik yang tergiur untuk membeli buku untuk kepentingan gaya hidup. Mereka mampu membeli tapi tak mampu untuk membaca. Mereka mampu berkata bahwa mereka punya buku ini dan itu, tapi hanya sedikit hikmah yang bisa mereka petik dari bacaan yang mereka punya. Meskipun ini bukan sesuatu yang negatif, tetapi hal ini menjadi suatu yang bergeser dari tujuan awal yang semestinya.

Baca Juga: Pentingnya Tradisi Literasi untuk Generasi Milenial

4. Haus akan Informasi yang Sensasional daripada Informatif

Ilustrasi media (Sumber Pixabay)

Masyarakat kita sesungguhnya tidak benar-benar minim minat baca. Terbukti dari warganet Indonesia yang memiliki hasrat ingin tahu berlebih ada hal-hal yang sensasional. Produsen berita hoax terstruktur secara rapi dan mereka berpenghasilan dari sana. Reporter daring dituntut untuk menulis ragam berita dengan judul yang mendebarkan ketika dibaca. Semuanya seolah menjadi stimulan yang apik untuk hasrat masyarakat kita yang gemar diberi narasi daripada informasi.

Akhirnya, daya baca kita yang masih meraba-raba ini menjadi sangat superfisial. Kondisi ini kemudian mudah diakomodir oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dalam menyebarkan informasi. Akibatnya perang antar akun, baik di dunia maya maupun nyata rentan terjadi.

Hal-hal yang telah disebutkan di atas sebenarnya sudah banyak yang menyadari. Saya sendiri juga tidak benar-benar bisa ‘mentas’ dari hal-hal tersebut. Yang penting, masing-masing dari diri kita tetap semangat untuk ‘membanjiri’ diri dengan pijakan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Pun tidak lelah untuk merawat semangat dalam membaca, berdiskusi, menulis dan menularkan kebiasaan tersebut kepada orang-orang terdekat kita.