Seperti halnya kehidupan manusia, bahasa juga terus berkembang di tengah masyarakat penuturnya. Menurut Harimurti Kridalaksana, bahasa adalah sistem bunyi bermakna yang dipergunakan untuk komunikasi oleh kelompok manusia. Selain bahasa Indonesia dan 600an lebih bahasa daerah, orang Indonesia juga menggunakan berkomunikasi bahasa Inggris. Sebagai bahasa internasional, bahasa Inggris digunakan oleh orang-orang di seluruh dunia, tentu dengan tingkat penguasaan yang berbeda-beda.

Di sekitar kita mungkin ada teman-teman yang kalau berbicara, sering mencampur kosa kata antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Meskipun teman-teman kita itu sedang berbicara dengan sesama orang Indonesia juga, mereka suka menyelipkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Uniknya, kata-kata yang dipakai itu, meskipun sekilas terdengar keren, kadang tidak pada tempatnya.

Baca Juga: Drama Tik tok yang ‘Copas’ Bigo Live dan Telegram, Bagaimana Kelanjutannya?

Sebagian orang mempelajari bahasa Inggris karena kebutuhan untuk tujuan studi atau untuk kebutuhan pekerjaan. Sebagian yang lain berbicara dengan bahasa campuran karena, entah mengapa, gaya ngomong yang seperti itu terkesan lebih oke.

Tulisan-tulisan orang yang aktif di media sosial juga tak jarang dibuat dengan bahasa Inggris. Dengan atau tanpa penguasaan kosa kata dan pemahaman pada tata bahasanya, semua orang bisa dengan mudah mengekspresikan diri dengan tulisan pendek berbahasa Inggris.

Coba lihat di Instagram. Walau tak ada inspirasi menyusun kalimat, quote-pun jadi. Mudah saja, karena akun penyedia kutipan-kutipan inspiratif bermunculan setiap waktu dan mudah sekali diakses. Nah, bagi yang menganggap bahasa Inggris adalah  yang sesuatu yang sexy, foto-fotonya di media sosial kurang lengkap rasanya kalau belum dihiasi dengan caption yang menarik perhatian. Dengan bahasa Inggris tentunya.

Bahasa Inggris Ala ala ‘Anak Jaksel’

Bahasa Anak Jaksel (Jakarta Selatan)
Ilustrasi Bahasa Anak Jaksel (Twitter.com)

Belakangan ramai sekali perbincangan di linimasa tentang gaya bicara sok Inggris ala anak Jaksel (Jakarta Selatan). Seperti ini misalnya;

“Anaknya kek confuse gimana ya, which is suka skeptical gitu deh.”

“Ini emang related sih, yang emang match sama reality.”

“Gue tuh udah do everything, literally buat dia.”

Sebagai ibukota negara, Jakarta adalah tempat di mana kita bisa bertemu orang-orang dengan latar belakang berbeda. Tidak hanya orang-orang satu negara yang berkumpul, bahkan ada juga pertemuan orang dari bangsa-bangsa yang berbeda. Karena itulah, masyarakatnya relatif lebih heterogen dan berpengaruh ke bagaimana cara orang-orang di sana berbicara. Anak-anak mudanya kemudian cenderung banyak bicara dengan bahasa campuran Indonesia-Inggris, entah itu karena pengaruh globalisasi, faktor keterbukaan budaya, kebiasaan, bahkan alasan yang terkait dengan status sosial.

Apa keterkaitan antara gaya bahasa dan faktor status sosial? Jakarta Selatan dipandang sebagai lingkungan yang kosmopolit, tempat di mana kelas menengah ke atas tinggal. Anak-anak muda yang tumbuh di sana pun dipandang lebih banyak terhubung dengan ‘hal-hal internasional’ seperti sekolah internasional, media berbahasa Inggris, juga kesempatan traveling ke luar negeri. Karena bahasa mencerminkan kondisi sebuah kelompok sosial dan segala perubahan di dalamnya, maka jadilah ‘anak-anak Jaksel’ dengan segala keunikannya. Bagaimanapun, ini tidak bisa menggenalisir, hanyalah bicara tentang tren.

Entah bagaimana awalnya, tapi setelah itu setiap ada orang yang bicaranya mencampur kosa kata Indonesia-Inggris, langsung disebut-sebut seperti anak Jaksel. Apa ya tujuannya? Hmm. Eh buat apa sih mikir tujuan, seperti skripsi saja. :p

Apa Kata Ivan Lanin tentang Bahasa Inggris Anak Jaksel?

Wikipediawan Ivan Lanin
Ivan Lanin (Sumber: inovasee.com)

Gaya berbahasa yang disematkan kepada ‘anak Jaksel’ sebenarnya sudah berlangsung lama. Tapi kemudian kembali ramai dan menjadi bahasan di mana-mana karena pengaruh media sosial. Hal itu pun ditanggapi oleh Wikipediawan pencinta bahasa Indonesia, Ivan Lanin. Menurutnya, fenomena berbahasa ala ala anak Jaksel itu sudah lama muncul di kalangan anak muda. Hanya saja belakangan ini, kebiasaan bertutur bahasa yang seperti ‘gado-gado’ itu dikaitkan ke anak Jaksel.

Baca Juga: Yakin Bahasa Indonesiamu Sudah Benar? Yuk Belajar dengan Wikipediawan Ivan Lanin Berikut Ini

Kecenderungan untuk mencampuraduk bahasa itu dikenal dengan code-mixing atau code-switching dalam kajian linguistik.  Code-switching adalah situasi di mana seseorang yang menuturkan suatu bahasa sambil mencampur dengan bahasa lain karena tidak menemukan padanan kata yang pas dalam bahasa Indonesia. Ivan Lanin yang dikenal giat menyuarakan ajakan untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar itu juga berpendapat bahwa code-mixing ala anak Jaksel mengandung pengulangan yang tidak efektif dan cenderung mubazir dalam berkomunikasi.

Barangkali karena cara orang-orang dalam menyusun kalimat atau memilih kosa kata menunjukkan tingkat keteraturan dalam berpikir. Para pakar linguistik pun berkata bahwa saat orang menggunakan bahasa Inggris yang campur aduk itu sebenarnya merupakan ciri otak yang semrawut. Nah, kalau urusan bahwa mereka justru merasa lebih smart saat bicara bilingual seperti itu, tentunya itu urusan lain. Dan bukan suatu masalah besar juga. Apalagi kalau dalam situasi yang tidak formal, yang penting orang lain tetap paham apa yang dimaksud.

Ada Saatnya Kita Perlu untuk Jadi Sok Inggris

Di luar Jaksel pun tidak sedikit kita temukan orang-orang yang bicara dengan bahasa campuran. Jadi bagaimana menurutmu tentang orang yang sok Inggris? Lebih spesifik: tentang orang yang berkomentar;

“Ngapain sok Inggris? Kalau mau pakai bahasa Inggris ya cukup di sekolah.”

“Kita kan lagi di Indonesia, mending ngomong bahasa daerah aja.”

“Eh itu si A orang Bandung tapi bahasa Inggrisnya lebih lancar ketimbang bahasa Indo, kayak gak nasionalis.”

“Gak usah kakehan guaya rek. Wong Kediri ae kok keminggris!”

Dan seterusnya. Ngomong-ngomong, buat yang belum tahu artinya, keminggris adalah sebuah kata dalam bahasa Jawa yang berarti sok Inggris. Intinya mereka menganjurkan berbahasa sesuai konteksnya, tidak perlu sok Inggris kalau tidak dibutuhkan.

Baca Juga: Odong-Odong Sang Penyelamat Lagu Anak Indonesia

Tapi pernahkah kamu sadari bahwa mereka yang sok Inggris itu, paling tidak, kemampuan Bahasa Inggrisnya selangkah lebih maju daripada yang tidak sok Inggris karena memang tidak serius mempelajarinya. Jadi kita ambil positifnya saja. Tentunya sudah tidak perlu banyak dijelaskan lagi soal betapa pentingnya kemampuan bahasa Inggris yang baik di zaman now, eh maksudnya di zaman sekarang.

Untuk tujuan yang lebih serius, agar bisa mengakses ilmu pengetahuan terbaru di berbagai bidang, bahasa Inggris menjadi pintu masuknya. Dengan kemampuan menggunakan bahasa Inggris jugalah kita bisa menyampaikan gagasan yang bisa didengar oleh bangsa lain di seluruh dunia.

Ketika #RIPEnglish Jadi Bahan Lelucon

Masih tentang urusan bahasa Inggris kita, sebenarnya tidak perlu serius-serius amat. Ngomong-ngomong pernahkah kamu baca menu-menu di warung makan yang salah ejaan seperti ini? Sayur soap, friend fries, eeg rool, sampai milksex? Atau mungkin kesalahan fatal lainnya yang kita jumpai di pinggir jalan: Terima Kost Putra ‘Free Wife’, Jual beli henpun, atau Penjahit Jin!

Alhasil, bermunculan meme-meme kocak dengan tagar #RIPEnglish karena bahasa Inggris yang typo di mana-mana.  Bahasa Inggris yang disulap jadi versi Indonesia itu, mungkin menandakan kurangnya minat belajar masyarakat pada bahasa asing. Tanpa harus buru-buru menyalahkan, setidaknya kita bisa menjadikannya bahan lelucon. Meskipun sebenarnya tidak lucu-lucu amat.

Yang paling penting sih cukup untuk menghibur dan dibawa santai saja. Don’t rich people difficult… Jangan kaya orang susah. :p

4 KOMENTAR

  1. Dede sendiri life between anak Jaksel yang bahasanya dicampur aduk, kadang ada juga temen Dede Rinne yang jawab pertanyaan yang literally pertanyaan itu Bahasa Indonesia, unik sih, tapi kita juga musti tau kapan Jaksel Language digunain

  2. Menurut saya baik2 aja kalo orang ngomong campur English-indonesia, seenggaknya orang itu melek akan pentingnya berbahasa internasional daripada mereka yg ga ngerti dan ga ada usaha sama sekali. Bahkan sebenernya lebih bagus lagi kalo vocab yg dipake ga cuma segelintir kata aja macam ‘literally’, ‘which is ‘, dll, tp ditambah sama kata2 yg lebih bervariasi.

  3. Sekarang era global communication, which is english is a must. I mean, kalo netijen julit nyinyir “sok keminggris” heyy come on, elu yang bego kaga mau develop diri lu. Lu yang harus follow the world, bukan sebaliknya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.