Barangkali kita semua sepakat bahwa bencana alam, dalam bentuk apapun, adalah kejadian yang tidak diharapkan untuk terjadi. Meskipun kenyataannya berbeda. Dari sudut pandang ilmiah, wilayah Indonesia berpotensi terjadi gempa bumi karena posisinya yang berada pada pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu Eurasia, Indoaustralia, dan Pasifik.

Lombok dan sekitarnya (Sumber: BBC)

Di saat luka bangsa ini belum pulih sepenuhnya akibat musibah gempa bumi di Lombok pada tanggal 5 Agustus 2018, musibah lain terjadi di Palu dan sekitarnya. Artikel ini ditulis sebelum terjadinya gempa bumi dan tsunami di Palu. Bukan hanya memberikan dampak kerusakan bangunan fisik, musibah gempa bumi ini juga diikuti dengan trauma psikologis pada para korban. Menurut berbagai sumber, korban gempa Lombok belum sepenuhnya pulih dari trauma. Apalagi saat mendengar kabar tentang gempa bumi di daerah lainnya seperti Palu. Itu membuat mereka khawatir kalau gempa kembali terjadi.

Baca juga:

Mumpung Masih Muda, Inilah 8 Alasan Kenapa Kamu Butuh Traveling
Mbah Sadiman, Sang Pahlawan Lingkungan Hidup dari Kabupaten Wonogiri
6 Lokasi Wisata Binatang Langka di Indonesia, Tertarik Mengunjunginya?

Trauma psikologis adalah pengalaman individu atau kondisi yang sedang dialami, di mana individu tersebut merasa kewalahan secara emosional, kognitif, dan fisik sehingga kemampuan untuk mengatasi kondisinya terganggu (Sidran Institute for Traumatic Stress Education & Advocacy). Saat seseorang yang memiliki sanak saudara di daerah yang terkena bencana alam itu menyaksikan liputan berita terkait bencana alam di televisi, mereka juga bisa terkena dampak psikologis secara tidak langsung.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, setelah terjadinya bencana dengan tingkat kerusakan yang lebih parah, apakah lantas bantuan-bantuan ke Lombok jadi berkurang? Seperti halnya proporsi pemberitaan di televisi. Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, bencana di Palu (dan sekitarnya) tidak membuat konsentrasi pemerintah terpecah. Saat ini tim BNPB masih ada yang bertugas di Lombok dan mereka tetap bersiaga.

Pertemuan beberapa tokoh masyarakat (Sumber: Ublik.id/Yopa)

Atas nama kemanusiaan, bantuan dari berbagai lembaga dan juga para relawan berdatangan. Bukan hanya keperluan logistik, obat-obatan, pakaian, tenda pengungsian, serta alat dan bahan untuk membangun kembali hunian, dukungan psikologis pasca bencana juga sangat dibutuhkan. Ada saatnya, korban gempa merasa tiba-tiba seperti sedang terjadi gempa kembali, padahal situasi sedang berlangsung normal. Tidak sedikit orang tua atau anak-anak yang mendadak panik, jantung berdegup kencang, gemetar, atau berteriak.

Beberapa waktu lalu, redaksi Ublik.id sempat menggali informasi pada kawan-kawan di NTB. Salah satu yang bersedia memberikan informasi adalah Khasemy Rafsanjani (25) dan Yopa Gusti Putra (25), yang menceritakan bagaimana proses trauma healing di Lombok, khususnya pada anak-anak.

Yopa bersama anak-anak (Sumber: Ublik.id/Yopa)

Sejauh mana perbaikan yang dilakukan di Lombok?

Menurut informasi dari Khasemy yang tergabung dalam Solah Community, sejauh ini perbaikan fisik (bangunan) para pengungsi sudah mulai masif dilakulan, pun juga pemulihan mental orang-orangnya. “Untuk pembangunan fisik sendiri banyak pihak yang sudah membuat hunian sementara (huntara) untuk para korban. Setidaknya huntara ini bisa dimanfaatkan para korban dengan kenyamanan yang lebih (dibanding tenda).”

Apa yang paling dibutuhkan saat ini?

Ketika ditanya tentang apa saja yang sebenarnya dibutuhkan oleh saudara-saudara kita yang tinggal di daerah yang terkena dampak musibah gempa bumi itu, Khasemy dan Yopa mengatakan bahwa mereka membutuhkan hunian sementara berskala keluarga dan juga sumur-sumur untuk keperluan air bersih.

Pengajian anak-anak (Sumber: Ublik.id/Yopa)

Pemulihan Mental, khususnya pada Anak-anak

Melihat saudara kita terkena musibah, tentunya ada empati dan jiwa-jiwa yang terpanggil untuk membantu dengan cara apapun yang bisa dilakukan. Karena bencana alam bukan hanya menyebabkan kerusakan fisik tapi juga trauma, barangkali banyak dari kita yang bertanya-tanya “Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mengatasi trauma pada korban?”

“Untuk pemulihan mental sendiri, dari komunitas-komunitas yang berdatangan memiliki inisiatif yang tinggi untuk membantu mengalihkan pikiran mereka, terutama anak-anak. Dengan metodenya yg dimiliki mereka membantu para korban dengan baik,” demikian menurut penuturan dari alumni FISIP Universitas Brawijaya itu “Hanya saja di beberapa tempat, bantuan pemulihan (trauma), terutama daerah pedalaman masih belum banyak, mereka dijenguk aja sudah seneng kok mba, hehe. Hibur anak-anak mereka, orangtuanya auto seneng juga.”

Anak-anak Lombok kembali ke sekolah (Sumber: Ublik.id/Yopa)

Apakah orang-orang Indonesia sudah peka untuk membantu saudaranya yang terkena bencana?

“Saya rasa sudah mulai peka ya mba. Apalagi dengan efek media sosial saat ini. Dari beberapa komunitas yg saya ikuti ketika open donasi, rata-rata mendapat respon yang positif dari masyarakat. Dan responnya cepat. Ini pengalaman saya ya mba, setiap orang beda beda soalnya..hehe.”

Lalu bagaimana dengan wisata Lombok pasca bencana?

“Sudah mulai banyak turis yang datang. Kebetulan saya dapat info dari keluarga yang bekerja di dinas pariwisata, wisatawan (luar negeri, khususnya) sudah banyak yang ke Lombok. Bahkan sekitar seminggu atau 2 minggu pasca gempa 7.0 sudah mulai berdatangan.”

Terkait aksi tanggap bencana, sejumlah lembaga nasional juga sudah terjun langsung dan bergerak untuk membantu, misalnya ACT (Aksi Cepat Tanggap), Baznas, Laznas, PKS, Muhammadiyah, NU, dll. Dari musibah gempa bumi dan tsunami ini, sudah semestinya kita belajar dari bencana. Berbagai bencana yang terjadi, seharusnya menambah kesadaran seluruh pihak, termasuk masyarakat, untuk bisa semakin siap siaga dalam hal menghadapi terjadinya bencana dan memaksimalkan fungsi peringatan dini, agar risiko bencana bisa berkurang.

 

(Sumber gambar utama: Yopa Gusti Putra)