in

Kenangan Angkatan 2020: Suka Duka Lulus di Masa Pandemi

Angkatan 2020: “Lulus tepat waktu, di waktu yang tidak tepat…”

Dampak penyebarluasan Coronavirus Disease (COVID-19) sempat dirasakan oleh para pelajar angkatan 2020. Pasalnya, lulusan tahun 2020 sempat menjadi sorotan sejak putusan peniadaan Ujian Nasional (UN) dan larangan mengadakan perayaan serta perpisahan diberlakukan.

Paparan COVID-19 yang kian meluas menjadi alasan utama ditiadakannya UN. Putusan tersebut dicanangkan setelah Presiden Joko Widodo dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim mengadakan rapat terbatas melalui telekonferensi.

Tidak bisa dimungkiri, kisah kelulusan angkatan 2020 akan dikenang selamanya. Suka, duka, haru, pilu bercampur jadi satu.

Apakah kamu salah satu pelajar angkatan 2020 juga sahabat Ublik?

‘Angkatan Corona’ dan ‘Lulusan Jalur Giveaway

Berbagai macam julukan ditujukan kepada para pelajar angkatan 2020. Lulus di masa pandemi menjadi alasan utama mereka disebut sebagai ‘angkatan corona’. Selain itu, karena kelulusannya tidak ditentukan oleh UN, tak jarang orang-orang menyebutnya sebagai lulusan ‘jalur giveaway‘ atau hadiah (dari pemerintah).

Siapa bilang angkatan 2020 lulus tanpa ujian? Angkatan 2020 menghadapi ujian akhir masa sekolahnya melalui pandemi mematikan yang menjadi musuh dunia. Jadi bukan Ujian Nasional lagi, melainkan ujian bertaraf internasional.

Bukan hanya anak sekolah saja, bahkan mahasiswa pun memperoleh label yang sama. Walaupun sudah melalui proses panjang pengerjaan skripsi, namun julukan angkatan corona memang tak terelakkan.

Banyak pelajar yang merasa sedih dan menganggap bahwa dirinya asal lulus begitu saja tanpa proses dan perjuangan akhir masa sekolah yang mungkin akan seru jika diceritakan di masa yang akan datang.

Baik, mari kita coba ambil sisi positifnya. Lulus dengan cara ini justru bisa memberi banyak waktu untuk mempersiapkan diri ke jenjang selanjutnya, perkuliahan misalnya. Kalian harus percaya pada diri sendiri bahwa meskipun tanpa UN bukan berarti kualitas kalian lebih buruk dari pada senior-senior yang sudah lulus setelah melewati UN.

Kadang musibahlah yang menikmatkan nikmat. – Ustadz Salim A. Fillah

Predikat angkatan corona juga didapat oleh Maya Ruli Renanda, salah satu mahasiswi di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta yang lulus pada 11 Mei 2020. Meskipun harus menyelesaikan sidang skripsinya secara online menggunakan aplikasi webex.com, Maya merasa bersyukur bisa berhasil menyandang gelar Sarjana Manajemen di tengah pandemi. “Alhamdulillah lulus di era pandemi karena (urusannya) lebih dimudahkan. Nggak enaknya temen-temen nggak datang, ujian jadi kurang greget seperti kalau ujian secara langsung atau face-to-face,” jelasnya.

Soal julukan angkatan corona yang ditujukan padanya, Maya mengambil sisi positifnya. “Sah sah saja (dikatakan) lulus jalur corona. Memang gara-gara adanya COVID-19 ini malah (urusan skripsi) jadi lebih dimudahkan, tetapi tetap sesuai dengan prosedur dari kampus masing-masing,” imbuhnya.

Pilihan editor;

8 Tips Belajar Otodidak, Biar Makin Mudah Belajar Banyak Hal
Inilah Fase-Fase Salah Jurusan dan Cara Mengatasinya
Memajukan Pendidikan Bangsa, PR Kita Bersama

Momen Perjuangan yang Terlewatkan

Sahabat Ublik, persiapan UN acap kali menjadi masa-masa indah dimana siswa berjuang bersama teman-teman senasib sepenanggungan dalam satu tujuan, yakni mencapai sebuah kelulusan.

UN kerap menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang. Lain dengan angkatan 2020 yang merasa kehilangan tanpa harus memiliki terlebih dahulu. Ya, momen-momen berharga yang terlewatkan, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan UN yang kini hanya ada di angan-angan.

Faktanya, perjuangan UN mengajarkan kita untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, sikap proaktif, disiplin dan bertanggungjawab. Yang biasanya usil jadi alim. Yang biasa menyendiri jadi ikut berpartisipasi dalam belajar kelompok. Yang kutu buku jadi tambah rajin baca buku. Sedangkan si pintar jadi semakin sibuk gara-gara semakin banyak teman yang minta diajari beragam materi yang ketinggalan. Harapannya, kelulusan yang dicapai bisa menjadi suatu kebanggaan karena diraih dengan kerja keras.

Keberhasilan yang paling manis adalah mencapai yang dikatakan oleh orang lain sebagai tidak mungkin. – Mario Teguh

Bagian dari Aksi Bela Negara

Keputusan ditiadakannya UN adalah salah satu langkah pemerintah dalam memutus rantai penyebaran virus corona. Jadi, untuk kalian yang mengalami kelulusan tanpa UN – sesuai yang ditetapkan pemerintah – harus berbangga hati. Bahwa kalian telah menaati aturan pemerintah sekaligus mewujudkan aksi bela negara.

Bagi seorang pelajar, penanaman bela negara biasa diajarkan di sekolah melalui beberapa sikap seperti menyelesaikan tugas, menaati tata tertib sekolah, menghormati guru dan lain sebagainya. Sedangkan di masa pandemi ini, angkatan 2020 menerapkannya dengan cara yang sangat mulia. Semoga aksi bela negara dengan cara semacam ini bisa mengembangkan kebiasaan positif dalam mengedepankan kepentingan negaranya di masa yang akan datang.

Meminimalisir Kejadian Tak Terduga

Bukan hanya UN yang ditiadakan, perayaan dan perpisahan paska pengumuman pun dilarang. Tentu ada yang sedih, tidak bisa melakukan apa yang biasa dilakukan oleh seniornya setelah dinyatakan lulus. Yang (barangkali) sudah diidam-idamkan jauh-jauh hari. Setelah lulus akan melakukan konvoi, mengadakan acara prom night, wisuda dan membuat album kenangan.

Biasanya, para pelajar yang dinyatakan lulus akan melakukan konvoi dan mencoret-coret seragam mereka dan saling bertukar tanda tangan. Di masa ini, aktivitas itu tidak boleh dilakukan (meskipun sebenarnya kebiasaan ini memang sudah dilarang).

Lagi-lagi, sebaiknya kita mengambil hikmahnya saja, sahabat Ublik. Konvoi semacam itu acap kali memakan korban. Saking senangnya, terkadang mereka lupa diri dan justru mengabaikan keselamatan sendiri. Ada banyak kasus pelajar yang kecelakaan bahkan sampai harus mengorbankan nyawa akibat konvoi. Hal ini merupakan kejadian tak terduga yang mungkin saja terjadi kembali jika larangan melakukan perayaan tidak diberlakukan.

Berbicara soal larangan perayaan dan perpisahan, Reni Amam Hanafiyanti, salah satu pelajar SMA N 1 Wonosari mengaku sedikit kecewa dan sedih. “Di sekolahku, biasanya setelah pengumuman UN, ada acara perpisahan dan wisuda.”

Gadis yang berencana untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi itu juga mengaku sedih tak bisa bertemu dengan teman-temannya di momen kelulusan sebab pengumuman hanya dibagikan melalui media sosial. “Surat kelulusan didapat dari barcode yang telah di-share oleh guru melalui WA, terus kita scan barcode tersebut secara mandiri,” jelasnya.

Sahabat Ublik, kelulusan bukanlah akhir, melainkan awal mula sebuah perjalanan. Oleh karena itu, kelulusan dianggap sebagai standar atau pintu gerbang menuju kesuksesan. Tapi, apakah hal ini juga berlaku bagi angkatan 2020? Tentu saja. Semua orang berhak sukses dengan caranya masing-masing, tanpa terkecuali.

Action is the foundational key to all success. – Pablo Picasso

Itulah suka duka lulus di masa pandemi. Jangan mulu-mulu fokus pada bagian negatifnya saja ya, sahabat Ublik! Jangan minder jika ada yang mengatakan bahwa kelulusan tak mengesankan tanpa melalui perjuangan UN. Di masa yang akan datang, kisah tentang keberhasilanmu meraih kelulusan di tengah wabah yang melanda dunia tak kalah menarik untuk dibagikan. Tetap semangat, sahabat Ublik!

Report

What do you think?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Setelah COVID-19 Berakhir, Bisakah Kamu Tetap Work From Home?

Tenaga Medis di Tengah Pandemi: Perjalanan Tulus Berkorban Nyawa