in

Andreas Rony: Anak Petani dari Klaten yang Lolos 5 Beasiswa S2 Luar Negeri

Belajar dari Andreas, bahwa tidak penghalang untuk impianmu

Orang tua mana yang tidak bangga dengan anaknya yang berhasil menorehkan prestasi? Melihat anaknya berhasil meraih gelar sarjana sekaligus mendapat beasiswa dari luar negeri adalah kebanggaan tersendiri. Itulah yang dialami oleh Bapak Juwari (57) dan Ibu Sri Tentrem Rahayu (54). Anak sulungnya, Andreas Rony Wijaya (23) berkesempatan melanjutkan kuliah di luar negeri dengan beasiswa.

Tak tanggung-tanggung, Andreas berhasil diterima di 5 universitas di Taiwan. Selain itu, selama masa kuliahnya, yakni S1 di Program Studi Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret atau FMIPA UNS Solo, Andreas juga sudah banyak menorehkan puluhan prestasi, khususnya di bidang karya ilmiah.

Sahabat Ublik, ada satu hal yang mudah-mudahan dapat menginspirasi kita semua. Kenyataannya, Andreas dibesarkan oleh orang tua bersahaja yang berprofesi sebagai petani dan ibu rumah tangga. Hal ini membuktikan sekali lagi bahwa keterbatasan bukan menjadi halangan seseorang untuk bisa mencapai cita-cita yang tinggi.

Beruntung sekali, redaksi Ublik sempat mewawancarai Andreas melalui WhatsApp, beberapa hari setelah ia berangkat ke kota Hsinchu, Taiwan.

Andreas apa kabar? Apa kesibukanmu sekarang?

Alhamdulillah sehat selalu di sini (Hsinchu, Taiwan), walau makanannya terasa hambar, beda dengan masakan ibu di rumah. Hehe. Saat ini kesibukan saya masih proses pengurusan dokumen-dokumen di sini. Ada juga orientasi dan pengenalan kampus. Jadi, dalam seminggu ini masih belum ada kuliah. Kuliah baru mulai minggu depan.

Oh ya, bagaimana rasanya menjadi viral diberitakan banyak media beberapa waktu lalu?

Wkwkwk, sebenarnya sih nggak nyangka bakal kayak gitu ya. Karena di luar sana pasti lebih banyak yang perjuangannya itu lebih berat. Nggak ada niatan pengin jadi viral atau pengin dikenal banyak orang sih, cuma mau berbagi tentang apa yang pernah saya perjuangkan dalam mendapatkan beasiswa master degree ke luar negeri ini.

Baca juga;

7 Alasan Mengapa Sarjana di Indonesia Masih Banyak yang Menganggur
Tidak Banyak yang Tahu, Beginilah Realitas Kuliah di Luar Negeri
Evi Lestari: “Kuliah di Negeri Panda Membuat Saya Membuka Mata”

Dari beberapa media, kabarnya kamu sudah persiapan sejak setahun lalu ya?

Iya, persiapan sejak setahun yang lalu. Jadi, semenjak saya wisuda pada tanggal 7 Juli 2018 itu, saya sudah mulai persiapan. Mulai dari persiapan bahasa asing, pencarian universitas, pencarian profesor, sampai dengan persiapan berkas. Sengaja juga, setahun itu saya berkorban untuk tidak ambil pekerjaan sama sekali, karena ingin fokus mengejar beasiswa itu.

Dari 5 universitas itu, jadinya kamu pilih yang mana?

Dari 5 universitas itu, saya pilih National Chiao Tung University (NCTU) yang berada di kota Hsinchu, Taiwan. Selain karena peringkatnya paling bagus dari yang lainnya (yaitu peringkat 2 di Taiwan) dan beasiswa yang ditawarkan paling besar di antara yang lainnya, di NCTU juga ada kesempatan riset yang cukup menarik untuk dipelajari.

Beasiswa yang kamu dapat itu, apa namanya?

Nama beasiswanya New Student NCTU Scholarship Awards. Jadi, ini beasiswa dari kampus. Cakupan beasiswanya mulai dari Tuition Fee (biaya kuliah) sampai dengan Monthly Stipend (uang saku bulanan).

andreas , taiwan
Di depan kampus NCTU, Taiwan (Sumber: dokumen pribadi)

Mengapa Andreas pilih Taiwan?

Karena di Taiwan banyak beasiswa yang ditawarkan. Hampir setiap universitas mempunyai beasiswanya masing-masing. Selain itu, saya tertarik pada budaya riset dan publikasinya yang cukup gencar.

Ngomong-ngomong, prestasi apa yang paling berkesan buatmu selama kuliah?

Prestasi yang paling berkesan adalah ketika saya bisa bangkit. Dulu di 2 semester awal, saya pernah mendapat IPK di bawah 3. Tapi dari situlah saya merasa ‘tertampar’ dan segera berbenah. Alhamdulillah, saya mulai bangkit dan mencoba mengikuti kompetisi, khususnya di bidang esai ilmiah dan karya tulis ilmiah. Sampai wisuda, saya telah berhasil mengharumkan nama UNS beberapa kali, ada sekitar 24 kompetisi. Bukan hanya itu, IPK saya pun juga perlahan-lahan bisa naik.

Kapan Andreas mulai menyadari apa passion-mu yg sebenarnya, dan apakah itu sejalan dengan cita-citamu?

Nah ini nyambung dari jawaban sebelumnya. Karena secara akademik sudah kurang berhasil di awal, di situ saya memutuskan untuk banting setir untuk mencari prestasi di bidang lain.

Singkat cerita, semester 5 saya mulai nyari passion, buat mewujudkan prestasi itu, dan saya milihnya di bidang kepenulisan. Mulai saat itulah saya mulai mengikuti kompetisi, dan alhamdulillah langsung diberi kesempatan juara di keikutsertaan yang pertama.

Sejak saat itu, saya terus mengasah kemampuan di bidang kepenulisan. Dan saya merasakan inilah passion saya. Alhamdulillah sejalan juga dengan cita-cita saya. Cita-cita utama saya pengin jadi dosen atau peneliti, dan menulis tadi merupakan modal awalnya. Ditambah juga dengan pemikiran yang kritis saat menulis akan mengasah juga budaya risetnya.

Luar biasa! Boleh share ke pembaca Ublik, bagaimana sih cara belajar kamu?

Sebenarnya cara belajarnya saya ya kayak orang-orang pada umumnya. Kuncinya adalah di manajemen waktu dan membuat skala prioritas. Apalagi, biasanya mahasiswa selain kuliah masih juga ikut organisasi. Belum lagi kalau ikut kompetisi. Mahasiswa harus tahu mana yang harus didahulukan.

Nah, skripsinya Andreas kemarin tentang apa?

Ini nih pertanyaan yang sangat bagus! Skripsi saya itu tentang penerapan dari Matematika, atau lebih tepatnya dari model Statistika ke kejadian gempa bumi di Indonesia. Data yang saya ambil adalah data gempa bumi yang terjadi di Pulau Sumatera. Dari penelitian itu, dapat diketahui berapa intensitas gempa bumi di suatu tempat, berdasarkan data sebelumnya. Selain itu, nanti juga bisa diketahui daerah-daerah yang rawan gempa bumi melalui pemetaannya.

Melalui riset tersebut, secara pribadi saya ingin menunjukkan bahwa Matematika bisa diterapkan di permasalahan kehidupan manusia, bukan hanya sekadar angka dan simbol belaka.

Siapa sosok yang jadi panutan kamu selain orang tua?

Kalau panutan sih banyak. Saya selalu haus belajar, dan saya belajar dari semua orang. Bahkan yang mungkin bisa jadi secara ilmu (akademik) tidak lebih tinggi. Tapi pasti setiap orang ada sisi yang pantas untuk dipelajari.

andreas , kampus NCTU
Kampus NCTU Taiwan (Sumber: nctu.edu.tw)

Adakah tips untuk Sahabat Ublik agar lebih semangat belajar dan memperjuangkan cita-cita?

Ketika kamu punya mimpi, jaga mimpi tersebut. Jangan sampai kalah oleh hal apapun. Perjuangkan dan selalu libatkan Allah dalam setiap langkahnya. Ketika kamu gagal meraihnya, bukan berarti kamu salah dalam bermimpi, tapi mungkin Allah punya rencana yang lebih baik.

Sebagai penutup, Andreas juga menitip pesan untuk teman-teman, seperti yang tertulis di caption Instagramnya, @andreasrony_w

Man Khoroja fii tholabil ‘ilmi fahuwa fii sabilillahi khatta yarji’a (HR. At-Turmudzi dari Annas bin Malik no. 2575). “Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang.” Semoga Allah meridhoi dan senantiasa memberikan keberkahan dalam perjalanan menuntut ilmu ini. Teriring doa untuk keluarga di rumah, semoga selalu dalam ketaatan dan dalam lindunganNya. Buat teman-teman, see you on top!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Menjadi Petani Muda Milenial, Kenapa Tidak?

content writer , skill

Skill yang Harus Dimiliki Seorang Content Writer