in

5 Alasan yang Bikin Milenial Baper Soal Nikah

Sebab bahasan nikah memang selalu jadi konten yang viral

Setiap manusia pasti punya keresahan. Keresahan itu memang selalu ada, hadir dan terus-terusan menghampiri manusia. Tidak akan pernah ada habisnya. Dari galau yang satu ke galau yang lain. Selain itu, kita akan selalu dihadapkan dengan hal-hal yang pasti berhubungan dengan pilihan. Ya atau tidak. Sekarang atau nanti. Apapun. Memang seperti itulah hidup. Dan, bagi anak zaman sekarang, khususnya generasi milenial, yang membuat kebanyakan dari mereka galau adalah soal perjodohan.

Bahasan menikah, entah mengapa, teramat mencuat satu dekade terakhir ini. Tak ada yang salah dari menikah, karena itu adalah sebuah kebaikan, hal yang sebaiknya dijalankan oleh setiap manusia. Sayangnya, kehidupan sosial membuat bahasan menikah sedikit banyak membuat banyak orang galau. Mereka menempatkan standar orang lain menjadi standar dirinya. Padahal Mark Manson dalam bukunya ‘Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat’ (Terjemah dari versi asli ‘The Subtle Art of Not Giving a F*ck’) sudah menjelaskan kalau setiap manusia punya standarnya masing-masing. Jangan sampai kita menggunakan standar kebahagiaan orang lain dalam diri kita. Nanti lah kapan-kapan kita bahas juga soal buku yang viral di tahun 2018 itu.

( Baca juga: Nikah Praktis ala Suhay Salim atau Nikah Mevvah ala Crazy Rich Surabayan? )

Begini, sebetulnya ada beberapa hal yang membuat milenial zaman sekarang cenderung baper tatkala bicara soal menikah. FYI, founder Ublik.id baru saja menikah di usianya masih tergolong muda, tapi sungguh tulisan ini sama sekali tidak menyinggungnya, hehe. Jadi apa saja sih yang membuat banyak milenial baper ketika bicara soal menikah? Ini dia ringkasannya.

1.Media Sosial

Sekarang adalah zamannya keterbukaan. Semua informasi bisa hadir dan lahir dari media sosial. Semua orang seolh-olah tidak bisa lepas dari  media sosial. Nah, tahukah kamu apa bahasan yang hampir pasti selalu populer ketika diibahas di media sosial? Jawabannya adalah seputar membangun rumah tangga. Iya, menikah maksudnya.

Sebetulnya, ini seperti lingkaran setan. Keresahan anak-anak milenial terhadap menikah akan menjadi konten yang banyak peminatnya (bahkan alasan tulisan ini juga karena itu!). Dan pembahasan soal menikah akan menjadikan keresahan yang mutlak di masyarakat. Betul, ini hanya bolak-balik. Konten-konten soal menikah apalagi di usia muda adalah ibarat gorengan hangat di musim penghujan. Laku, dan selalu viral! Itu sebabnya semakin hari semakin banyak orang yang baper soal menikah di usia muda.

Resepsi, baper soal nikah
Resepsi pernikahan (Sumber: Pixabay)

2.Teman Seangkatan

Sungguh setiap manusia ingin jadi juara. Setiap kita ingin jadi yang terbaik, yang pertama, atau setidaknya tidak dikalahkan yang lain. Pun demikian dalam pernikahan. Ini seperti roda-roda dalam gelaran balapan. Ketika ada yang duluan, kita serasa terhentak dan tak mau kalah, kita serasa tidak seharusnya dia menikah lebih dulu. Atau pikiran seperti ini: “seharusnya saya bisa untuk mencapai kebahagiaan yang sama seperti dia ketika menikah”. Hal itu yang membuat ketika kita datang ke kondangan dan menyalami si teman angkatan, biasanya akan terdengar kata-kata “kapan nyusul?” entah siapa yang pertama kali memulai istilah ini, tapi yang jelas istilah tadi sudah jadi template bagi siapapun yang datang ke kondangan. Jadi jangan heran kalau makin banyak orang yang galau ketika pulang dari nikahan mantan teman.

3.Sudah Merasa Perlu

Jadi begini, setiap manusia itu seperti punya rutinitas wajib yang pasti dilalui dalam hidupnya. Hal itu adalah lahir, sekolah, kerja, menikah, punya anak, menikmati masa tua, dan mati. Nah ketika kita sudah ada di titik sudah bekerja, maka yang harus segera diwujudkan selanjutnya adalah menikah. Sebagai bentuk penyempurnaan rutinitas wajib seorang manusia. Jadi ketika kita sudah bekerja dan masih jomblo, maka akan sangat mungkin kegalauauan yang berujung pada kebaperan soal menikah menjadi. Ya, kita merasa sudah perlu. Payahnya kadang kita melupakan banyak hal yang sebetulnya bisa kita lakukan sebelum menikah. Seperti membahagiakan orang tua, bertanggung jawab akan tamatnya sekolah adik atau mungkin berkontribusi menyelamatkan dunia? Poinnya adalah selalu ada yang bisa dilakukan ketika kita sudah bekerja tapi belum menikah.

Pengisi hati, baper soal nikah
Butuh pengisi hati (?) (Sumber: Pixabay)

4.Bosan dengan Rutinitas

Kebaperan bisa datang kapan saja. Di mana saja. Dan akan lebih mungkin muncul ketika kita bosan dengan rutinitas dan melihat orang lain sudah punya rutinitas lain.  Seperti yang sudah dibahas di atas, manusia itu seolah-olah sudah punya rules wajib yang harus dilalui ketika hidup. Ketika mentok bekerja, berangkat pagi pulang sore dan yang dilihat hanya layar komputer hampir lebih dari 10 jam, kita tentu perlu melihat wajah berseri dari pasangan hidup yang akan menemani dan menjadi orang yang selalu berada di samping. Menjadi teman berantem atau teman berbagi nasi goreng. Yap, ketika kita sudah merasa ada di titik itu, baper adalah hal yang sangat lumrah. Eh sebentar, ‘kita’?

5.Tuntutan Keluarga

Ini yang paling akhir, ketika sudah ada suara-suara dari dalam keluarga untuk menikah, maka sulit untuk menghempaskan kebaperan. Mendengar kata ‘nikah’ sedikit saja mungkin bayangannya sudah merasa dirinya kurang beruntung. Merasa sudah teramat perlu untuk melepas masa lajang. Hal ini kadang kerap disampaikan ketika acara-acara keluarga berlangsung. Mereka akan menghampirimu dan berkata “mau nunggu sampai kapan?” kalau sudah begitu memang sulit untuk ditolak. Dan rasa pengen nikah akan membuncah untuk menutup semua perkataan-perkataan sejenis itu.

Itu tadi beberapa hal yang membuat kebaperan soal menikah makin menjadi bahasan yang hangat. Ini belum mengabsen baper yang ditimbulkan ketika mantan sudah menikah duluan! Mungkin akumulasi bapernya makin berlipat. Dan buat kamu yang memang sudah memilki segalanya, seperti pendapatan yang cukup, calon yang sudah ada, serta orang tua yang sudah dibuat senang, maka jangan ditunda. Karena bagaimanapun nikah itu bertujuan untuk kebaikan, dan kebaikan itu mestinya disegerakan.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

mie instan, indomie goreng

Saat Mie Instan Indomie Go International sampai ke Eropa dan Afrika

bersama tim, eduraya

Cerita dari CEO Eduraya: “Mereka Adalah Modal yang Lebih Berharga daripada Uang”