in ,

Rahasia di Balik Akun Gosip Lambe Turah yang Jarang Diketahui Orang

Per 15 Desember 2018, Lambe Turah, akun gosip itu memiliki 5,8 juta pengikut dengan 6030 postingan di Instagram. Gosip adalah fakta yang tertunda, itulah semboyannya. Menurut para adminnya yang kerap dipanggil minceu, akun tersebut semula dibuat hanya untuk bersenang-senang.

Tapi kini Lambe Turah adalah fenomena tersendiri. Bukan hanya akun gosip untuk bersenang-senang dengan membicarakan kehidupan selebriti, tapi juga jadi sumber pundi-pundi penghasilan bagi orang-orang di balik layarnya.

Melihat Lambe Turah Bekerja

Barangkali kamu tidak asing dengan penyair Aan Mansyur dengan buku puisinya ‘Melihat Api Bekerja’ atau puisi-puisinya yang lain untuk film AADC (Ada Apa dengan Cinta) 2 dalam buku yang berjudul ‘Tidak Ada New York Hari Ini’. Tapi kali ini kita tidak akan bicara mengenai film atau puisi, melainkan cara kerja akun gosip Lambe Turah. Kita akan melihat Lambe Turah bekerja.

Seperti dikutip dari tirto.id, di balik pro dan kontranya, akun gosip Lambe Turah tetap dikelola secara profesional. Sejauh ini ada 10 staf termasuk di antaranya para admin yang mengelola konten hingga staf promosi dan pemasaran. Menurut Nanda Persada, staf promo dari Lambe Turah, saat diwawancarai oleh wartawan tirto.id, cara kerja Lambe Turah untuk bisa mendapatkan informasi tentang gosip selebriti sebenarnya tidak berbeda jauh dari media gosip lainnya. Mereka juga mengecek kebenaran info di lapangan dan mengumpulkan dokumen yang mereka anggap valid. Bahkan, informasi bisa datang dari orang terdekat sosok selebriti yang jadi bahan gosip.

Karena itu, mereka harus memilih tempat yang cenderung privat terlebih dahulu, baru bisa membuat postingan. Tentu saja hal itu dilakukan untuk menjaga privasi dan identitas admin yang masih menjaga anonimitas. Meskipun begitu, postingan mereka sering menjadi kontroversi. Akan tetapi, karena ia bukan produk jurnalistik, maka pengawasannya tunduk pada UU Nomor 11/2008 tentang ITE, seperti halnya akun-akun lain. Kecuali jika terjadi pelanggaran berupa pencemaran nama baik, ujaran kebencian, pornografi, berita bohong, sampai upaya menggulingkan pemerintahan yang sah, maka akun gosip bisa dilaporkan sebagai tindak pidana.

Apa yang terjadi kemudian? Informasi sensitif dan kontroversial menyangkut privasi orang-orang terkenal itu pada akhirnya menjadi bahan guyonan masyarakat yang butuh hiburan. Anak-anak muda dalam lingkaran pertemanannya pun dengan mudah memberikan julukan ‘lambe turah’ bagi teman-teman nongkrongnya yang begitu cerewet, suka bergosip, dan berkomentar tentang hidup orang lain.

Ilustrasi teman nongkrong (Sumber: Pixabay)

( Baca juga7 Alasan Mengapa Kita Harus Sering Berinteraksi dengan Orang yang Berpikir Positif )

Saat Gosip Menjadi Peluang Bisnis

Alih-alih dibiarkan lewat begitu saja, pemilik akun gosip tahu betul bagaimana memanfaatkan peluang untuk mengumpulkan pundi-pundi penghasilan dari gosip selebriti, yang tidak semuanya disiarkan di media mainstream seperti televisi.

Tanpa harus menghakimi orang yang suka mengurusi hidup orang lain, setidaknya kita bisa melihat dengan bijak. Bagaimanapun, mereka adalah orang yang bisa membaca peluang. Mereka tahu komoditas apa yang begitu laris untuk target market netizen Indonesia.

Dahulu, televisi dan tabloid mendominasi bisnis gosip. Hari ini semuanya berubah ketika negara api menyerang Instagram menjadi bagian dari kehidupan kita. Eh, kita? Ya pokoknya siapapun yang mengikuti akun gosip di media sosial Instagram. Suka tidak suka, akun gosip di media sosial itu memiliki engagement yang cukup tinggi, lalu ‘menginspirasi’ orang lain. Menginspirasi untuk apa? Tentunya untuk membuat akun gosip serupa! 😛

Selain Lambe Turah, kalau kamu selow dan suka stalking, maka kamu mungkin akan menemukan akun gosip lain seperti Lambe Nyinyir, Tante Rempong, Mak Rumpita, Lamis Corner, dan masih ada banyak lagi. Mereka umumnya menawarkan jasa promo berbayar (endorsement) dengan tarif yang beragam, mulai dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah per postingan foto promosi produk.

( Baca jugaMengintip Pekerjaan Copywriter, Sosok Kreatif di Balik Iklan Produk Laris )

Mengapa Gosip Begitu Disukai?

Barangkali kita tergelitik untuk bertanya: mengapa banyak orang suka menonton gosip selebriti? Lebih spesifik: mengapa akun gosip di media sosial memiliki banyak followers?

Francis ‘Frank’ T. McAndrew, psikolog sosial dari Knox College (Galesburg, Illinois, USA) dkk, pernah melakukan penelitian tentang hal ini. Respondennya ternyata lebih menikmati berita tentang orang-orang yang sedang jatuh cinta serta berita dari individu yang berjenis kelamin sama. Gosip cenderung lebih cepat disebarkan ketika menyangkut informasi positif tentang kelompok mereka dan informasi negatif tentang rival mereka. Penelitian ini mengungkapkan gosip dapat berfungsi sebagai mekanisme peningkatan status individu, serta mekanisme kontrol sosial terhadap individu atau kelompok lain yang terlihat berbeda.

Ilustrasi ngobrol (Sumber: Pixabay)

Penelitian Peng X, dkk, yang diterbitkan dalam jurnal Social Neuroscience juga menegaskan suatu hal di mana obyek gosip yang paling menarik adalah membicarakan masalah pasangan lain. Itulah mengapa berita perceraian selebriti menjadi ‘menu andalan’ infotainment. Sementara itu, sel saraf manusia cenderung lebih mudah memroses ‘gosip positif’ yang terkait tentang diri sendiri. Sebaliknya, sel saraf juga mudah memroses gosip negatif tentang pesohor. Aktivitas saraf di orbital prefrontal cortex cenderung meningkat karena rasa gembira akibat gosip positif diri sendiri, juga sangat gembira saat mendengar gosip negatif tentang orang lain, khususnya orang-orang terkenal.

Nah, bagaimana dengan lingkunganmu? Apakah mereka (atau bahkan dirimu sendiri) juga terhibur dengan gosip? Kenyataannya, manusia memang makhluk sosial, dan bergosip adalah salah satu kegiatan bersosialisasi, seperti pada artikel Frank’ T. McAndrew berjudul Gossip is a social skill – not a character flaw yang dipublikasikan oleh theconversation.com. Terlepas dari faktor nilai (value) dari aktivitas bergosip itu, pada level tertentu, gosip masih menjadi umpan yang jitu untuk basa basi, atau saat tidak ada bahan omongan dengan orang lain.

Ilustrasi ngobrol 2 (Sumber: Pixabay)

Ketika seseorang mengetahui sebuah informasi baru dan dianggap penting di suatu lingkaran pertemanan, maka seseorang itu akan cenderung ‘diakui’ keberadaannya. Dua orang asing yang belum saling kenal pun bisa merasa lebih dekat ketika membicarakan gosip yang sedang hangat dibicarakan media, dibanding berbincang hal-hal baik tentang diri mereka sendiri.

Sekali lagi, terlepas dari urusan nilai (value) baik buruk dari aktivitas bergosip itu, sebenarnya pilihan ada di tangan kita sendiri. Eksistensi akun gosip itu tentunya tidak mungkin bisa sebesar itu jika tanpa ada ‘target pasar’ yang menerima dan menyukainya, yaitu netizen yang menghibur diri dengan cara menscroll layar smartphonenya. Apapun yang terjadi dan diberitakan oleh akun gosip itu, sebenarnya kita bisa menyikapinya dengan rileks saja. Memahami bahwa pesohor juga seorang manusia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

‘Umi’ Nita Purnawati: Inspirasi Berjuang dalam Keterbatasan

Tips Supaya Resolusi Tahun Baru Kamu Lebih Cepat Terwujud