“Pendidikan merupakan segala bidang penghidupan, dalam memilih dan membina hidup yang baik, yang sesuai dengan martabat manusia,” demikian yang diungkapkan oleh Daoed Joesoef (1926 – 2018), salah satu sosok penting dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Alumnus Sorbonne University yang juga merupakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Presiden Soeharto itu pun pernah menyusun sejumlah konsep penyelenggaraan negara dengan pendekatan multidisipliner. “Konsep itu terdiri dari pembangunan ekonomi nasional, pertahanan keamanan, dan pembangunan pendidikan,” demikian ujar beliau.

Pilihan Editor:

Tapi kali ini bukan sosok Daoed Joesoef yang kita bahas, melainkan tentang pendidikan di Indonesia. Bicara tentang pendidikan di Indonesia, kita bisa mendengar bermacam-macam fakta dan opini dari banyak sumber yang rata-rata menyimpulkan bahwa kondisi pendidikan kita belum mencapai kualitas terbaiknya.

Pertanyaannya adalah: seperti apa pendidikan yang berkualitas itu? Bisa jadi setiap orang mempunyai preferensi masing-masing sesuai nilai-nilai yang dianutnya dan sesuai tujuan hidup yang ingin dicapainya. Terlepas dari beragam teori yang ada, tentu pendidikan yang berkualitas berfokus membangun karakter dan memberlakukan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Jika secara khusus kita bicara soal menyikapi perkembangan zaman, maka institusi pendidikan kita terus berupaya membentuk manusia yang kompeten dalam hal akademik, hard skill, dan juga aspek pembelajaran penting dalam hidup sehari-hari. Tapi beberapa aspek pembelajaran penting dalam hidup, tidak ada di dalam kurikulum. Itulah mengapa, kita perlu merenungkan beberapa hal berikut, hal yang tidak diajarkan di sekolah tapi penting untuk kehidupanmu.

1.Bagaimana Cara Bernegosiasi

6 hal penting untuk kehidupanmu
Ilustrasi Negoisasi

Hal pertama yang tidak secara khusus diajarkan di sekolah adahal cara bernegosiasi. Padahal setelah kita sudah lulus sekolah, lalu masuk perguruan tinggi, dan bergelut ke dunia kerja, negosiasi adalah skill yang krusial. Misalnya saat harus berbicara dengan klien, presentasi ide proyek, atau kebutuhan komunikasi efektif lainnya. Memang ada kesempatan tertentu yang bisa melatih kemampuan negosiasi, misal saat ada kerja kelompok. Tapi bisa dibilang kalau itu belum lengkap untuk membentuk kemampuan seseorang. Bukan berarti berpikir negatif, negosiasi juga menjadi keahlian yang penting dimiliki seseorang, kalau dia tidak ingin ‘dimanfaatkan’ orang lain.

2. Entrepreneurship dan Cara Mengelola Keuangan

Ilustrasi mengatur keuangan

Jujur saja, apakah kamu sejak kecil selalu ditanamkan pemikiran bahwa jika kita bisa mendapat nilai yang bagus, maka masa depan kita akan cerah. Nah, jika masa depan cerah, maka otomatis kehidupan finansial akan terjamin. Setelah dewasa, apa yang terjadi?

Kamu pasti sudah paham bahwa orang yang kuat secara finansial lebih bisa menopang hidup untuk bertahan di masyarakat. Sayangnya masih ada saja ‘kejadian yang tidak diinginkan’ di masyarakat mulai kasus perceraian, putus sekolah, dan kriminalitas yang sebabnya adalah ketidakmampuan individu dalam mengelola keuangannya.

Belum lagi, ada banyak lulusan perguruan tinggi, dengan nilai akademik yang sangat bagus tapi belum mampu membiayai hidupnya sendiri. Alih-alih dilatih menjadi entrepreneur supaya bisa mandiri, tapi setting dalam pikirannya adalah sebatas cari kerja. Memang tidak ada yang salah dengan mencari kerja, tapi pastikan diimbangi dengan sikap yang ‘melek’ finansial dan kemauan untuk meningkatkan kemandirian, agar dirinya tidak bergantung pada gaji seumur hidupnya.

3.Kemampuan Marketing

Ilustrasi (Sumber: Pixabay)

Marketing tidak selalu identik dengan aktivitas bisnis. Ternyata, semua orang membutuhkan kemampuan marketing paling mendasar, yaitu untuk menyadari apa ‘nilai jual’ dirinya, sehingga ada pihak lain yang akan ‘membeli’ kemampuan terbaiknya. Marketing dalam hal ini satu paket dengan urusan personal branding. Selain itu, kita juga perlu memahami cara efektif untuk mengutarakan idenya. Mengapa hal itu menjadi penting? Agar kita tidak hanya di posisi yang sama sepanjang hidup, apapun bidang karir yang dipilih.

4.Etika Berkendara dengan Sopan

Ilustrasi Bekerndara dengan Navigasi

Kalau berada di jalan raya, mungkin kita pernah menemukan orang yang berkendara tanpa aturan seperti; asal membunyikan klakson, lampu sein kanan tapi belok kiri, motor menyalip dari sebelah kiri, menyalip dari lajur kiri, melanggar lalu lintas karena tidak ada polisi, dan hal-hal lain. Inilah hal berikutnya yang tidak diajarkan di sekolah, namun penting untuk kehidupan sehari-hari. Padahal cara berkendara juga bisa menjadi cermin dari perilaku kita sebagai warga negara. Di sana ada nilai-nilai kedisiplinan, sikap hati-hati, menghormati aturan, dan kesadaran untuk tidak mengambil hak orang lain.

5.Attitude sebagai Netizen

Melalui pendidikan, kita sebenarnya bisa memberikan pemahaman menyeluruh tentang bagaimana menjadi warga yang baik, entah itu di dunia nyata maupun di dunia maya. Entah sebagai citizen maupun netizen. Secara khusus yang perlu kita pahami adalah menggunakan media sosial dengan tepat. Sesuatu yang diunggah ke internet, akan jadi milik publik dan tidak menutup kemungkinan menyebar jadi konten yang viral. Penting bagi sekolah untuk mengajarkan bahwa anak muda seharusnya bijak dalam memanfaatkan media sosial.

Kalau kamu pengguna media sosial, apa yang kira-kira ingin disampaikan melalui media sosial itu? Pastikan kamu cerdas menggunakan internet. Daripada sekadar posting hal sepele yang tidak memberi faedah apapun, luangkan waktu untuk mempelajari hal-hal baru melalui internet. Semua netizen bebas berekspresi melalui internet, bebas berbagi konten inspirasi di media sosial, bebas berjualan, dan aktivitas sosial apapun asal tidak merugikan yang lain. Satu lagi, meskipun tidak diajarkan di sekolah, rekam jejakmu di media sosial itu kelak juga bisa jadi bahan pertimbangan saat  melamar pekerjaan.

6.Menyelesaikan Masalah Sehari-hari yang di Luar Rencana

Alih-alih belajar untuk menyelamatkan diri dari bencana, saat SD kita diajari untuk menghapal nama-nama pulau, selat, atau planet. Entah untuk apa selain supaya lulus ujian. Bagaimana dengan kemampuan menyelesaikan masalah sehari-hari yang di luar rencana? Satu lagi yang tidak diajarkan di sekolah. Yang simple saja, saat ada peralatan rumah tidak bekerja normal. Jika mau meluangkan waktu untuk belajar melakukannya sendiri, tentu tidak harus selalu bergantung dengan tukang saat kipas angin rusak, kabel putus, atau memasang regulator gas. Ini akan terasa sekali saat sudah berumah tangga.

Itulah hal-hal penting yang tidak diajarkan di sekolah. Bukan lantas merekomendasikan poin-poin di atas untuk diajarkan di sekolah, tulisan ini sekadar mengingatkan bahwa ada hal-hal yang meskipun tidak dipelajari di sekolah, tapi kita tetap perlu melatih diri untuk bisa melakukannya. Terlepas dari baik buruknya sistem pendidikan di Indonesia, kita tetap harus terus belajar tekun di bidang kita masing-masing, karena itulah cara terbaik untuk menghadapi dunia nyata.