in ,

5 Mindset yang Sebaiknya Dimiliki Anak Muda sebelum Membangun Bisnis

“Masa tua yang nyaman tidak lahir dari masa muda yang leha-leha. Jauh lebih baik kita kehilangan masa muda daripada kehilangan masa depan.” (Yasa Singgih)

 

Apa yang terlintas di benakmu saat membaca quote di atas? Apapun itu, barangkali kata-kata yang pernah dilontarkan pengusaha kelahiran 1995 yang sudah membangun bisnis sejak sangat belia itu, cukup membuat siapapun tersentil.

Bagi anak muda, saat mereka baru lulus sekolah atau kuliah, dan mencari pekerjaan pertama, itu memang momen yang penting. Pekerjaan pertama akan menentukan seperti apa karir ke depannya. Tapi, itu tidak selalu berarti menjadi pegawai, karyawan, dan sejenisnya. Karena membangun bisnis di usia muda juga menjadi pilihan. Pilihan yang sangat layak untuk diperjuangkan. Mengapa? Karena membangun bisnis adalah tentang membentuk kemandirian diri. Membentuk pribadi yang berani, menjadi problem solver, dan tidak tergantung pada orang lain.

Yasa Singgih (Sumber: Instagram/Ublik_id)

Jadi apa yang perlu dipersiapkan anak-anak muda sebelum membangun bisnis? Baiklah, kita asumsikan bahwa urusan semangat dan motivasi sudah pasti ada pada dirinya. Mungkin juga dirimu. Jadi, soal itu, tidak perlu kita bahas lagi ya. Begitu juga masalah modal. Banyak orang yang enggan membangun bisnis sendiri karena belum tahu apa yang ingin ditawarkan dan dari mana modalnya. Padahal kalau mau sedikit lebih jeli dan menata pola pikir (mindset), itu bisa diatasi dengan lebih mudah. Maka dari itu, redaksi ublik.id kali ini akan bercerita tentang beberapa mindset yang sebaiknya dimiliki anak muda sebelum membangun bisnis.

1.Berorientasi untuk Menyelesaikan Masalah

Sebenarnya ini adalah prinsip yang paling mendasar saat membangun bisnis di usia berapapun. Pada saatnya, kita tidak lagi bicara tentang “apa yang akan dibuat?”, “bagaimana menjualnya?”, “kapan balik modal?”, dst, melainkan: “apa yang bisa saya lakukan dan bermanfaat bagi orang lain?” atau “apa masalah yang saya lihat dan apakah yang saya tawarkan ini bisa menjadi solusi?” Jadi tidak hanya bekerja dengan motivasi finansial semata.

Terkesan cukup idealis memang, tapi kalau kita mempelajari profil orang-orang yang lebih dahulu berhasil dan memberi manfaat yang luas bagi kehidupan ini, prinsip inilah yang membuat bisnis mereka bertahan dalam waktu yang lama. Selain faktor inovasi, tentunya. Akan kita bahas nanti. Yang pasti, di dalam setiap masalah itu ada peluang.

2.Follow your Passion, dengan Cara yang Tepat

Topik pembicaraan seputar passion memang menarik, walau agak overrated. Di mana-mana, motivator yang bicara di depan anak muda akan menyarankan follow your passion. Ikuti panggilan jiwamu. Seolah itu adalah saran yang paripurna agar anak muda bahagia dengan pilihan karirnya.

Baiklah, mungkin kita mudah untuk segera sepakat dengan saran untuk mengikuti passion itu. Tapi bagaimana cara realistis untuk mengikuti passion dan bisa memberi keuntungan untuk orang banyak?

Seringkali kita (merasa) terjebak pada kesibukan yang bukan passion kita. Dan kabar baiknya, itu ternyata wajar saja. Tidak sedikit yang sudah bekerja buru-buru resign karena alasan ingin menjalani passion. Tapi coba jawab pertanyaan ini : Apakah kamu punya skill yang tak tergantikan orang lain? Apakah kamu adalah pribadi yang pasti diterima di manapun? Coba jujur saja pada dirimu. Dengan begitu, kamu bisa menjalani passion dengan realistis dan wajar.

Karena kita ada di dalam konteks berbisnis. Bicara soal bisnis adalah bicara soal kepekaan melihat peluang. Memperjuangkan titik temu antara ‘apa yang kita suka’ [dalam hal ini adalah passion kita] dan ‘apa yang dibutuhkan orang’.

Ilustrasi entrepreneur (Sumber: Pixabay)

3.Berpikirlah Sebagaimana Business Owner yang Sukses

Semua dimulai dari niat dan mindset yang tepat. Sebagai karyawan, kemungkinan besar tugasnya adalah menerima dan menjalankan tugas tanpa perlu mempertanyakan alasannya. Tapi, ketika kamu menjadi business owner, meski itu skala kecil, kamulah yang membuat rencana, menentukan tujuan, dan mencari cara untuk mencapainya.

Sebagai pemilik bisnis yang berhasil, anak-anak muda pun memiliki ‘level independensi’ yang tinggi. Seorang pribadi yang merdeka, bebas mau menetukan ke mana cita-citanya. Karena mereka [dan mungkin juga kamu] adalah bos untuk diri sendiri—sebelum untuk orang lain.

Jangan lupa untuk fokus memberikan value. Secara harfiah, istilah value bisa diartikan sebagai nilai. Value inilah hal nonmateril yang membuat orang bersedia datang dan akan sering-sering datang lagi kepadamu. Fokuslah membangun value, maka keuntungan materi akan lebih mudah mengikuti.

( Baca juga : 7 Alasan Mengapa Sarjana di Indonesia Masih Banyak yang Menganggur )

4.Biasakan Bekerja Lebih dari Yang Lain

Dalam banyak situasi, banyak orang yang hanya melihat sesuatu di luarnya saja, tidak melihat proses keseluruhan. Inilah pentingnya untuk dipahami sejak awal bahwa membangun bisnis itu butuh mental baja. Khususnya ketika menyikapi kompetisi dan jam kerja yang tidak pasti.

Umumnya karyawan memiliki jadwal kerja yang jelas misal dari jam 9 sampai jam 5 sore. Menikmati akhir pekan, liburan, dan jatah cuti. Tapi pemilik bisnis tidak begitu. Sebagai seorang entrepreneur yang kelak memberikan kesempatan kerja bagi orang lain, persiapkan dirimu untuk bekerja lebih dari orang lain.

Bisa jadi dirimu sudah bekerja dan mendapatkan penghasilan yang belum seberapa. Tapi itu adalah fase awal. Ketika bisnismu tumbuh, itu akan menjadi lebih bernilai, dan dapat diartikan sebagai ‘pembayaran’ yang bagus di masa depan.

5.Terus Mengasah Kreativitas dan Inovasi

Tren bisnis pada hari ini dan 20 tahun lalu sudah pasti berbeda. Apalagi saat melihat geliat bisnis startup yang terus bermunculan. Seolah-olah untuk semua masalah, sudah ada orang yang membuat aplikasinya. Poinnya adalah bahwa hari ini aktivitas ekonomi tidak lagi bergantung pada ketersediaan sumber daya alam, melainkan kreativitas dan inovasi. Bagaimana memberikan ‘nilai tambah’ pada sesuatu yang dulunya dianggap remeh. Fenomena aplikas ojek online contohnya.

Last But Not Least…

Fix your mindset first (Sumber: Geulgram)

‘Memperbaiki pikiran terlebih dahulu’ mungkin ini terdengar abstrak. Selain karena isi pikiran tiap orang itu berbeda. Pikiran tentang apa? Standar baiknya seberapa? Pada akhirnya semua kembali ke individu masing-masing. Karena pekerjaan kreativitas ini pada dasarnya tidak memiliki ‘rumus pasti’. Sebanyak apapun berkonsultasi dengan orang yang ahli atau membaca buku panduan, tidak akan menghasilkan apa-apa tanpa praktik langsung di lapangan.

Nah, last but not least, kita bisa mengutip kata-kata dari seorang entrepreneur nyentrik, alm. Bob Sadino. Banyak orang bertanya: “Bisnis apa yang bagus?” Jawabnya: “Bisnis yang bagus itu yang dijalankan, bukan yang ditanyakan terus!”

Kita sekarang hidup di era yang, katakanlah, hampir semua hal bisa menjadi komoditas. Bicara soal peluang, kalau kita jeli melihatnya, apapun bisa dimanfaatkan untuk mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik. Atau dalam konteks yang lebih spesifik: menciptakan kesejahteraan.

Bahkan, ada yang bilang kalau tak ada hidup yang lebih indah dibanding saat kita bisa memilih, meyakini, dan menciptakan jalan sendiri untuk sesuatu yang kita impikan. Kalau dirimu sudah yakin dan siap membangun bisnis di usia  muda, maka jalanilah dengan sepenuh hati. Niatkan untuk memberi manfaat seluas-luasnya.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

Pertemuan ‘Minyak’ dan ‘Air’ di Kampung Atas Air Balikpapan

Pilih Pantai atau Gunung? Ternyata Bisa Menunjukkan Karaktermu