in

Bukan Alat Doraemon, 5 Buku ini Bakal Membawamu Menjelajah Waktu

5 buku ini bakal membawamu menjelajah waktu

George Orwell

Saya tidak langsung meragukan argumentasi seseorang yang berlandaskan sebuah novel. Meski kebenarannya dikesampingkan, karena dikatakan omong kosong fiksional, setidaknya dari sana timbul gugusan fantasi sebagai serat-serat prediksi. Yang dianggap fiksi pun, di satu sisi, ternyata merupakan pergumulan seorang penulis yang didasarkan atas penelitian empiris.

Sebut saja novel karya George Orwell berjudul 1984. Novel ini diterbitkan tahun 1949. Jauh sebelum tahun 1984 sebagaimana judul yang dibubuhkan Orwell. Isinya semacam prediksi. Dari tatanan otoritarianisme negara hingga gaya hidup massa. Orwell, seperti yang kita tahu, setidaknya dari ulasan, pujian, dan cibiran tertulis, pernah dianggap pendusta sekaligus mesias. Ia bisa meramalkan masa depan dengan jernih dan renyah.

Pilihan Editor:

 

Tahun 1984 Majalah Prisma mengeluarkan edisi khusus Anatomi Masa Depan. Penulis kondang memenuhi edisi itu. Termasuk Alvin Toffler, seorang futurolog produktif itu. Daniel Dhakidae menulis kata pengantar. Isinya, kalau tidak salah, seputar pembuktian atas apa yang telah diramalkan Orwell dalam novelnya. Apa yang tak diharapkan publik dari Orwell adalah kebenaran esensial novel itu.

5 buku ini bakal membawamu menjelajah waktu

Robinson Crusoe

Sejak diterbitkan pertama kali pada 25 April 1719, Robinson Crusoe hinggap di kepala banyak orang, lintas generasi, agama, latar sosial-ekonomi. Beragam interpretasi, tentunya, diproduksi terus-menerus oleh pembaca-pembaca itu.

Apa yang patut kita andaikan ketika membaca karya Daniel Defoe itu? Banyak! Tak ada imajinasi tunggal di sana. Yang jelas, Defoe, dengan apik dan alur lambat, menyajikan Robinson penuh getir: berada di ambang ketidakpastian ketika terhanyut di laut lepas dan akhirnya menepi ke sebuah pulau. Ia terperangkap selama 28 tahun tanpa kepastian takdir.

Novel ini sepenuhnya mengisahkan sosok Robinson Kreutznaer. Lewat dia vakansi tak diharapkan terhuyung-huyung menerjang ke titik kluminasi yang acap tak diharapkan manusia: alienasi!
Bayangan misterius akan sebuah pulau angker, penuh praktik kanibalisme, panas menyengat, raungan binatang buas, dan imaji-imaji kecemasan lain terungkap total di novel ini. Saya membaca karya Defoe ini sekian tahun lampau usai menyelesaikan novel A Journey to the Centre of the Earth karangan Jules Verne. Novel yang kerap disebut fiksi ilmiah ini pertama kali terbit pada 28 November 1864.

5 buku ini bakal membawamu menjelajah waktu

J.A.C. Brown

J.A.C. Brown seperti mengetengahkan problem manusia di tengah ketiak industrialisasi. Ia memberi sketsa apik bagaimana seorang pekerja frustrasi karena hidupnya “dikendalikan” bagai mesin. Menariknya, industri merebut dan mengangkangi kebahagiaan para pekerja dengan atas nama kontrak di atas meterai.

Problem eksploitasi tenaga manusia oleh mesin industri ini bukan narasi baru. Ia seakan sudah dianggap wajar semenjak geliat pembangunan dihela. Titik hulunya beraneka warna. Yang jelas, di mana ada produksi dengan skala massal, di situ darah manusia dikucurkan sebagai bahan bakar.

Mendaras buku ini seperti disodorkan realitas sosial yang terjadi penuh kecemasan. Dimulai dari hegemoni yang dialamatkan industri kepada para buruh di tiap sektor produksi hingga bagaimana pemilik modal mencekik pelan-pelan melalui jam kerja. Mereka ditelanjangi martabatnya melalui iming-iming fulus yang tak seberapa.

Buku ini masih relevan hingga sekarang. Brown seperti mesias. Ia meramalkan defisit tenaga manusia di hari depan. Pekerja, kata Brown, akan digantikan mesin. Kata mesin bisa berarti merujuk pada teknologi mutakhir yang secara total menggeser peran manusia. Namun, mesin di situ juga berarti anggapan sinis: manusia dimesinkan. Oleh apa? Pemilik modal.

Penulis buku bertajuk The Social Psychology of Industry ini seakan-akan meneropong secara sinis: manusia kini dikategorikan menjadi dua tipe, yakni “cah kerjo” dan “cah dolan”โ€”bahkan keduanya? Entahlah. Yang jelas buku ini maknyus dicicipi di tahun 2018 yang penuh godaan absurd.

5 buku ini bakal membawamu menjelajah waktu


E.M. Forster

Mulanya sebuah film. Berlatar apik India dengan segenap kultur khasnya, logat bahasa Inggris, goyang kepala, tatapan mata tajam, hingga gaya berpakaian klasik. India seakan-akan dilipat rapat oleh imaji-imaji orang Barat dengan penuh sinis. Dialog antartokoh, dikonstruksi asyik, terutama relasi kolonial Inggris dan penduduk sepanjang sungai Gangga.

Sekian jam sabar menuntaskan film sampai penutup bertuliskan narasi di belakang layar, saya iseng mencari kenapa film ini dibuat, siapa orang yang berpengaruh selama produksi, seputar dapur riset, dan proses adaptasi novel.

Jelas, A Passage to India karangan E.M. Forster (1924) menegaskan ketegangan antara British Raj dan gerakan kemerdekaan India. Meski sepanjang pengisahan, ia bukan hanya menyentil fragmen-fragmen heroisme yang intrik kepentingan politis, melainkan juga pergulatan batin para tokoh di tengah kungkungan birokrasi kolonial yang macet dan penuh nista. Korupsi merajalela.

Apa novel ini fiksi? Bila menengok definisi sempit karya sastra (novel) dengan segenap konstruksinya ia dikatakan rekaan. Namun, di luar tempurung definisi formal itu, penulis, Forster, mengakui kalau novelnya didasarkan atas pengalaman empiris manakala vakansi ke India. Tentu Forster bukan orang bodoh yang menyajikan pengalaman tanpa kerangka imajinasi yang dibikinnya sendiri. Ia mendialogkan pengalaman privat dan cakupan imajinatif sebebas-bebasnya.

Forster jujur mengatakan kalau judul novelnya itu diadaptasi dari puisi karya Walt Whitman bertajuk sama yang diterbitkan bersama antologi Leaves of Grass pada tahun 1870. Saya tak tahu apakah Whitman pernah ke India pula. Kalau pernah, jangan-jangan Forster ke India itu, cuma membuktikan pengalaman Whitman, sebagaimana dibubuhkan dalam puisi lirisnya. Jangan-jangan keduanya salah. Mereka tak pernah ke India. Mereka hanya tamasya imajinasi.

Tentu banyak hal yang bisa ditelisik dari A Passage to India: sebuah film yang terinspirasi dari novel yang juga dinarasikan karena sebiji puisi yang lahir atas nama jagat fiksional.

5 buku ini bakal membawamu menjelajah waktu

Noam Chomsky

Analisis Chomsky terhadap Perang Dingin timbul-tenggelam di tengah kontestasi tulisan surat kabar pada masa itu. Ia seorang linguis, setidaknya berlatar belakang akademik dan mengajar ilmu bahasa di MIT, namun keadaan sosial mendesaknya untuk banting setir.

Buku berjudul Towards A New Cold War (1982) ini menyoal bagaimana Perang Dingin bekerja. Chomsky menyelinap dalam kecurigaan di antara negara-negara Barat, kemudian menelanjangi sinisme para petarung politik di muka publik. Yang menjadi fokus Chomsky bukan hanya lapisan kepentingan politik, melainkan juga bagaimana para politikus itu membangun argumen, suatu konsep logis kenapa harus menerima atau menolak.

Kecenderungan analisis Chomsky relatif unik. Hampir setiap analisis yang ditulisnya acap didasarkan atas pisau dedah linguistik. Diam-diam ia pakai pengertian Foucault, yakni “pengetahuan dan kekuasaan” dalam pengertian lain, meski tak sepenuhnya Chomsky sadari, bahkan mau menyadari karena kedua orang itu terlibat “perang pemikiran” yang cukup alot pada permulaan 60-an.

Tata bahasa kebahasaan Chomsky gunakan untuk meneropong tata pikiran politikus. Perang Dingin, baginya, tak ubahnya mirip jejaring struktural yang digencarkan para pihak berkait: kebijakan berikut praksisnya di lapangan selalu berpaut erat.

Seperti Perang Vietnam yang ditolak total Chomsky. Ia relasi kuasa untuk menduduki suatu tempat guna memanifestasikan kecurigaan terhadap Rusia, namun sepanjang geliat itu ribuan orang Vietnam dikorbankan. Darah dikucurkan demi membayar Perang Dingin.

Situasi Perang Dingin dikatakan menunjukan senjakalanya ketika Tembok Berlin diruntuhkan. Totalitarianisme gulung tikar. Demokratisasi dianggap antitesis yang pas untuk menggantikan narasi-narasi Perang Dingin itu.

Pertanyaannya, apakah Perang Dingin yang berlangsung separuh abad itu sudah tutup tirai? Pertunjukan drama apik tuntas sejak tepuk tangan penutup riuh? Banyak versi analisis mengenainya. Chomsky juga sudah sepuh. Walau tulisan dan ceramah masih mengucur deras, siapa yang masih menyimak ocehannya di tengah gelombang Revolusi Industri 4.0 ini?

 

Sumber Gambar Utama: news.tut.by

Written by Rony K. Pratama

Peneliti Pendidikan Literasi Yogyakarta

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

World Class University: Antara Gengsi dan Realita di Indonesia

World Class University: Antara Gengsi dan Realita di Indonesia

Alasan Mengapa Sarjana di Indonesia Masih Banyak yang Menganggur

7 Alasan Mengapa Sarjana di Indonesia Masih Banyak yang Menganggur