Apakah selama ini kita sudah menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar? Jujur saja, pernahkah kamu merasa lebih keren dengan menggunakan bahasa asing? Katakanlah ketika berbicara seringkali menyisipkan beberapa kata bahasa Inggris, sebut saja by the way, which is, on the way, nothing, dan sebagainya. Bahasa nasional maupun bahasa asing semuanya penting jika digunakan pada momen yang tepat alias sesuai kebutuhan.

Pilihan Editor:

 

Tapi pernahkah kamu menaruh perhatian khusus pada bahasa Indonesia, baik bahasa lisan maupun tulisan? Sederhana saja, saat menulis, adakah di antara kalian yang masih suka keliru meletakkan ‘di’ sebagai kata depan dan ‘di’ sebagai awalan. Kali ini Ublik akan mengajakmu berkenalan dengan seseorang yang dikenal sebagai ‘wikipediawan pencinta bahasa Indonesia’. Sosok ini cukup terkenal di media sosial, khususnya Twitter.

Tentang Ivan Lanin

Namanya Ivan Lanin. Pria 43 tahun berdarah Minang itu sebenarnya adalah seorang programmer dan konsultan manajemen. Sebelum dikenal orang dengan kiprahnya yang seolah-olah menjadi ‘KBBI berjalan’ itu, Ivan adalah insinyur teknik kimia dari Institut Teknologi Bandung. Lulus kuliah pada 1999, Ivan bekerja sebagai pemrogram komputer. Sampai pada tahun 2006 Ivan sering membuat perangkat lunak (software) untuk penghitungan pajak penghasilan (PPh).

Di beberapa kesempatan, Ivan mengaku tidak sengaja terjun ke aktivitasnya sekarang sebagai ‘spesialis bahasa Indonesia’. “Saya nyasar ke Wikipedia ketika cari artikel tentang pajak penghasilan. Di versi Bahasa Inggris, artikelnya panjang, bisa sampai tiga kali scroll. Saat pindah ke versi Bahasa Indonesia, artikelnya pendek banget,” kenangnya. Minimnya informasi tentang pajak dalam Wikipedia bahasa Indonesia itulah yang membuatnya tergerak untuk berkontribusi.

Ivan Lanin Bahasa Indonesia
Ivan Lanin (Sumber: inovasee.com)

Komitmen Ivan untuk ‘menjaga’ bahasa Indonesia dilakukannya dengan meluangkan waktu untuk para pengikutnya di Twitter setiap akhir pekan beberapa jam, khusus untuk menjawab pertanyaan dari mereka. Niat berbagi pengetahuan itu dilakukannya agar semakin banyak orang Indonesia yang bisa menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Pentingnya Keterampilan Berbahasa

Ada empat keterampilan berbahasa yang seharusnya kita miliki, yaitu; keterampilan berbicara, keterampilan menyimak (mendengarkan), keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Empat keterampilan bahasa tersebut menggambarkan esensi dari bahasa, yaitu sebuah sarana untuk berkomunikasi. Bukankah sejak kecil kita sudah dilatih untuk berkomunikasi dengan baik? Bahasa menunjukkan identitas kita. Pemilihan kata yang tepat menunjukkan bahwa kita bisa berpikir dengan baik. Kemampuan berbahasa yang sistematis bisa membuat orang lain menaruh respek pada kita, dan sebaliknya. Bahasa yang tepat menunjukkan bahwa kita menghargai orang lain saat berkomunikasi. Keterampilan ini berlaku untuk bahasa lisan maupun tulisan.

Tentu berbeda antara bahasa lisan dan tulisan. Yang jelas, keterampilan berbicara dan menulis itu sama pentingnya. Keterampilan berbicara dibutuhkan untuk dapat mengungkapkan gagasan yang berupa tulisan ke dalam diskusi atau presentasi. Tanpa adanya keterampilan itu, suatu gagasan yang sudah dituliskan dengan baik pun, tidak dapat disebarkan secara efektif melalui bahasa lisan.

Apa Saja yang Bisa Kita Pelajari dari Sosok Ivan Lanin?

Buat kamu yang aktif dalam bidang literasi, mungkin sudah familiar dengan kiprahnya dalam mengenalkan beberapa aspek kebahasaan yang selama ini jarang diperhatikan masyarakat. Meskipun sering disebut kamus berjalan atau penjaga KBBI, tapi beliau lebih senang dikenal sebagai wikipediawan, dan bukan kamus berjalan. Lebih tepatnya,wikipediawan pencinta bahasa Indonesia. Dilihat dari sistematika berpikir dan artikulasinya saat berbicara, pantas saja Ivan Lanin yang notabene narator ulung ini memiliki banyak penggemar. Lalu apa saja yang bisa kita pelajari darinya? Berikut adalah beberapa poin yang sering disampaikan Ivan di media sosialnya, yang tentu bisa mengingatkan kita lagi untuk bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

1. Penggunaan ‘di-’ sebagai Awalan dan Kata Depan

Kita mulai dengan hal yang paling sering kita gunakan saat menulis. Meskipun sepele, tapi masih sering kita jumpai kesalahan di sekitar kita. Mudah saja, seberapa sering kita jumpai di tempat umum sebuah imbauan semacam ini; ‘mohon alas kaki di lepas’, ‘(…) ditempat yang telah di sediakan’, ‘minat? Bisa pesan disini’, dan masih banyak lagi.

Kapan kita harus menyambung atau memisah ‘di-’? Tentu saja jawabannya tergantung fungsi ‘di-’ pada kalimat itu. Pertama,  ‘di-’ yang berfungsi sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata dasarnya, misalnya; dicatat, diamankan, diminta, dan lain-lain. Kedua, ‘di-’ sebagai kata depan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, misalnya; di meja, di rumah, di jalan, dan sebagainya.

2. Penggunaan Kata Depan ‘di’ dan ‘pada’

Berdasarkan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Alwi dkk., 2003), preposisi ‘di‘ adalah penanda hubungan tempat, sedangkan ‘pada’ adalah penanda hubungan waktu. Kesalahan umum yang sering terjadi adalah penggunaan ‘di’ di depan kata penunjuk waktu seperti ‘di tahun’, ‘di masa’, ‘di abad’, dan lain-lain.

Menurut kaidah yang tepat, di depan kata penunjuk waktu seharusnya digunakan kata depan pada, ‘pada masa’, ‘pada hari’, ‘pada tahun’, dan lain-lain. Intinya, aturan kata depan bahasa Indonesia untuk ‘di’ adalah digunakan untuk tempat, dan ‘pada’ digunakan untuk selain tempat. Berikut ini adalah contoh penggunaan ‘di’ dan ‘pada’ yang tidak tepat. ‘Uangmu masih ada di saya (seharusnya pada saya). Berikan buku itu ke Mira (seharusnya … kepada Mira). ‘Di kesempatan ini, izinkan saya untuk …’ (seharusnya Pada kesempatan ini … ).

3. Beberapa Padanan Kata dan Kata Baku

Seberapa sering di kehidupan sehari-hari kita menemukan istilah-istilah asing ini; outbond, latepost, silent reader, contact person, bed rest? Ternyata masing-masing istilah asing itu ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Outbond = mancakrida, latepost = kiriman tunda, silent reader = pembaca senyap, contact person = narahubung, dan bed rest = tirah baring. Bagaimana? Adakah yang masih terdengar asing buatmu?

Untuk penulisan kata baku ada lagi kaidahnya, contohnya seperti ini; kata-kata terlanjur, uneg-uneg, sirup, toge, aksesoris, dan obrak-abrik ternyata tidak tepat. Yang tepat dari kata-kata tersebut adalah; telanjur, unek-unek, sirop, taoge, aksesori, dan ubrak-abrik. Bahkan, ternyata penulisan tawa pun bisa dibakukan. Inilah cara menuliskan tawa yang baku: ‘ha ha’ atau ‘ha-ha’, dan bukan ‘wkwk’.

Satu lagi masalah kata baku, yaitu tentang kata ‘jomblo’ atau ‘jomlo’. Asal kita tahu, kata ‘jomblo’ ternyata tidak ditemukan di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Buat kamu yang jomblo (atau jomlo?) tenang saja, bukan karena keberadaannya tidak diakui negara, tapi karena sebenarnya istilah ‘jomblo’ berasal dari kata ‘jomlo’ yang asalnya dari bahasa Sunda yang dibakukan ke dalam KBBI dan artinya adalah gadis tua. Kata ini digunakan untuk menyebut perempuan yang sudah berumur tapi belum memiliki pasangan. Lalu mengapa jomlo bisa menjadi jomblo? Ini hanyalah soal cara pelafalan. Jomblo lebih mudah dilafalkan daripada jomlo. Jadi, sebenarnya kamu (atau temanmu yang masih sendiri) tidak usah memperdebatkan istilah ‘jomblo’ atau ‘jomlo’, karena itu mungkin tidak lebih penting dari statusmu! Hehe, baiklah ini tidak serius ya. Yuk lanjut ke poin berikutnya.

4. Wabah itu Bernama Xenoglosifilia

Xenoglosifilia adalah suatu kecenderungan untuk menggunakan kata-kata yang aneh atau asing, terutama dengan cara yang tidak wajar. Penggunaan kata asing itu seringkali salah kaprah karena didasari keinginan untuk menggantikan suatu kata bahasa Indonesia dengan bahasa asing karena dirasa lebih keren. Sebut saja penggunaan kata ‘which is’ sampai ‘kids jaman now’.

Jadi, bagaimana seharusnya sikap kita dalam berbahasa? Ini terkait dengan latar belakang kita sebagai orang Indonesia. Usahakan untuk selalu meningkatkan keterampilan berbahasa seperti yang telah disebutkan di atas. Kalau bukan kita sendiri yang merawat bahasa yang baik dan benar, lalu siapa lagi?