Seberapa penting kehadiran bridesmaid dan groomsman dalam sebuah acara pernikahan? Jika memang penting, apa tugas dan fungsi mereka sebenarnya? Sudahkah para bridesmaid di Indonesia benar-benar berjalan sesuai tugas dan fungsinya? Atau hanya sekedar budaya latah saja?

Bridesmaid muslimah (sumber: beautynesia.id)

Dalam adat pernikahan yang kekinian, kehadiran beberapa orang yang berhias diri lengkap dengan kostum seragam ternyata tidak hanya berasal dari sanak famili saja. Kini, tren untuk berbagi seragam untuk orang-orang terdekat yang diklaim sebagai sahabat atau kerabat juga menjadi budaya baru dalam sebuah acara pernikahan. Sebutlah mereka dengan nama bridesmaid untuk perempuan, atau kalau lelaki disebut groomsman.

Pilihan Editor:

Tren ini baru muncul kurang dari satu dekade terakhir. Sebab saat kakak saya menikah di tahun 2008 silam, budaya ini belum terlalu booming. Mereka yang pakai seragam dan dandan, ya pasti keluarga (atau mungkin calon keluarga). Tapi sekarang keberadaan segerombolan bridesmaid sudah dianggap sebagai pelengkap yang manis dan tak boleh dilewatkan.

Sahabat saya sendiri, yang dua tahun lalu menikah dengan sederhana dan bersahaja pun mengaku, “Kalau jaman now nikah nggak pakai bridesmaid kayaknya ada yang kurang gitu.” Pengakuan itu juga diamini oleh kawan saya lainnya yang masih lajang. Ia berkata bahwa sosok-sosok bridesmaid merupakan simbol solidaritas atas ikatan persahabatan. Kawan saya yang lain, yang belum lama ini menikah dan menggunakan lengkap bridesmaid dan groomsman, mengaku bahwa penisbatan mereka sebagai bridesmaid dan groomsman merupakan bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih kepada pada sahabat yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.

Lalu sebenarnya apa sih bridesmaid itu sendiri? Mengapa mereka harus ada? Sepenting apa tugas dan fungsi mereka dalam acara pernikahan?

Dalam situs staciebridal.com, pembaca sekalian akan menemukan tugas dan peran bridesmaid dan groomsman dalam sebuah acara pernikahan. Secara garis besar, dalam web tersebut dituliskan bahwa orang-orang yang ditunjuk menjadi bridesmaid dan groomsman harus ikut membantu proses persiapan pra acara. Salah sekian persiapannya adalah proses dekorasi, tester hidangan, seleksi persiapan gaun pengantin di acara siraman dan midodareni, dan menjadi penerima tamu di saat resepsi. Bahkan seperti yang ditulis dalam web malesbanget.com, bridesmaid dituntut untuk selalu mendampingi pengantin putri dan cekatan saat sang pengantin membutuhkan sesuatu.

Kalau dalam sebuah forum diskusi dalam situs kaskus, saya menemukan tambahan jawaban lainnya. Intinya, kalau di Negara-negara kulit putih, keberadaan bridesmaid sendiri sudah seperti personal wedding organizer. Mereka dianggap sebagai orang terdekat sang mempelai yang dipercaya untuk merangkai acara dari yang mikro sampai makro. Atas nama solidaritas, mereka sungguh akan rela berlelah-lelah untuk kelancaran proses acara. Pun saat acara resepsi, perwakilan bridesmaid dan groomsman diberikan waktu khusus untuk menyampaikan speech terkait kedua mempelai.

Groomsman (sumber: thewedding.id)

Ya, kehadiran bridesmaid secara harfiah memang terlihat sangat vital dan spesial. Apa jadinya sebuah pernikahan apabila kedua mempelai harus mengoordinir sendiri seluruh persiapan tanpa bantuan? Tapi apakah bridesmaid hari ini di Indonesia benar-benar masih berpegang teguh pada tugas dan fungsi sebagaimana mestinya?

Bridesmaid sebagai Budaya Massa

Di dalam buku “Popular Culture” yang ditulis oleh Dominic Strinati, dituliskan bahwa, “Budaya massa adalah budaya populer yang dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan kepada khalayak konsumsi massa,” (hlm. 13). Intinya, budaya massa merupakan budaya yang sengaja dibentuk untuk memenuhi keuntungan produksi. Sehingga budaya-budaya yang tidak menghasilkan keuntungan secara profit akan semakin sempit ruangnya untuk bertahan dan survive.

Mengapa bisa demikian? Sebab budaya massa menganggap bahwa “setiap orang terbuka untuk dimanipulasi” (hlm. 16). Massa yang dalam konteks ini masyarakat secara meluas dibentuk untuk harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan semu yang sebenarnya hanya sebuah komoditas kultural yang direproduksi secara berulang.

Itulah yang sebenarnya terjadi dalam fenomena tren bridesmaid pada acara pernikahan. Budaya ini merupakan kultur bawaan dari Negara orang-orang kulit putih yang sebenarnya sampai di titik ini hanya membentuk komoditas-komoditas baru dalam masyarakat. Sekarang bisa kita lihat penjual kain untuk seragam tim bridesmaid makin menjamur. Penyedia jasa make-up artist untuk sahabat kerabat terpilih ini pun kian bertebaran. Belum lagi jika orang-orang terkasih ini ingin mengadakan acara bridal shower di tempat makan yang fancy untuk diabadikan dan dibagikan ke dunia virtual.

Dengan seragam dan wajah berias ayu itu mereka kemudian sumringah hadir dalam resepsi. Semua detil persiapan acara sudah beres ditangani oleh wedding organizer dan tim vendor. Pengantin tetap berdiri di pelaminan, dan bridesmaid juga seperti tamu lainnya yang hangat bercengkrama sambil mengicipi hidangan. Tak semua pengantin sadar bahwa bridesmaid berhak untuk memberikan sambutan atau speech. Sehingga acara pun seringkali berakhir tanpa ada sambutan dan doa dari orang-orang terdekat itu, yang harapannya bisa diamini oleh seluruh tamu yang hadir. Lagipula bridesmaid sendiri juga belum tentu tahu bahwa mereka memiliki hak semacam itu. Sekalipun mereka tahu dan mendapatkan kesempatan tersebut, tak semua bridesmaid cukup percaya diri untuk bicara di depan banyak orang dalam acara besar seperti resepsi pernikahan.

Jadi ya sudah, mereka yang berseragam bridesmaid pada akhirnya tak urung juga seperti tamu lainnya dengan kostum yang bisa dikatakan spesial. Mereka tidak dituntut untuk berpusing ria saat proses persiapan, tak harus cekatan saat prosesi digelar, juga tak perlu mempersiapkan kata-kata untuk disampaikan kepada pengantin yang disaksikan orang banyak. Tapi setidaknya kehadiran mereka dalam tren ini cukup memakmurkan perintis-perintis usaha yang ingin menambah penghasilan melalui budaya bridemaid itu sendiri.

Oh ya, mohon maaf apabila sepanjang tulisan ini saya lebih dominan menyebut dan membahas bridesmaid. Sebab di sekeliling kita tidak terlalu familiar untuk juga menghadirkan groomsman dalam acara pernikahan. Sekalipun ada, mereka tak dituntut berhias diri sama indahnya seperti bridesmaid. Cukup dengan jas dan dasi, atau berkemeja batik seragam, groomsman telah siap unjuk gigi.  Ya… untuk konteks ini tak perlu saya jelaskan juga kan di sini kenapa groomsman tak terlalu membutuhkan jasa MUA seperti bridesmaid. Pembaca sekalian justru lebih paham sepertinya.

 

(Editor: Restia Ningrum)

(Sumber gambar utama: greenweddingshoes.com)