Kita semua tahu, sekarang adalah zamannya online. Segala macam aktivitas dapat dimudahkan dengan sistem berbasis internet. Apapun itu, mulai dari bepergian, menonton, sampai dengan aktivitas jual beli, semua berbasis online. Nah, untuk jual beli sendiri, kita sudah sama-sama tahu beberapa tahun ke belakang jual beli via online makin hari makin ramai. Orang sudah mulai melihat berbelanja online sebagai salah satu kegiatan yang mudah sekaligus efisien. Itu sebabnya banyak orang yang kemudian beralih menjadi pedagang online.

Meski begitu, tidak sedikit juga yang bertahan. Menjajakan barang dagangannya di lapak atau kios dan senantiasa menanti pelanggan datang. Pasar adalah salah satu tempat untuk mewujudkan itu. Ada banyak pasar di Indonesia, tapi ada satu yang begitu terkenal. Bukan karena harga jualnya yang murah atau pedagangnya yang ramah, melainkan karena lokasinya tidak biasa: di atas air! Betul, kamu pasti sudah menebak pasar apa yang dimaksud.

Pasar terapung. Begitulah masyarakat biasa menyebutnya. Pasar ini berada di atas air. Penjual dan pembelinya sama-sama mesti menggunakan perahu atau sampan untuk dapat melakukan transaksi. Ribet barangkali terlihatnya, tapi justru di situ keunikannya. Pasar terapung ini memang menjadi ciri khas Asia. Jangan kamu pikir pasar terapung hanya ada di Indonesia saja. Di negara gajah putih Thailand pun kita bisa menemukannya. Tapi, memang yang paling dikenal publik baik nasional maupun internasional adalah pasar terapung yang berada di Banjarmasin. Mereka menyebutnya pasar terapung Lok Baintan.

Pilihan Editor:

Festival Jukung Hias Lok Baintan (Sumber: pulaubanuabanjar.com)

Lok Baintan adalah desa di mana para pedagang mengapungkan diri dan jualanya. Karena itulah, nama tersebut diadopsi menjadi nama pasar yang dikenal di Ibukota Kalimantan Selatan tersebut. Jangan kamu pikir yang dijual di sini adalah berbagai macam sandang dengan kualitas impor dan harga tinggi. Tidak ada yang seperti itu di sini. Namun, yang menjadi komoditas penjual di sini adalah hasil bumi. Entah itu berasal dari pertanian maupun perkebunan. Para penjual itu senantiasa menanti pembelinya di atas perahu yang ia pakai.

Satu hal yang menarik di pasar teapung ini adalah uang bukan jadi pilihan utama sebagai alat tukar. Di pasar terapung Lok Baintan barter masih menjadi salah satu cara yang dipilih untuk jual beli. Barangkali terdengar kuno dan klasik. Tapi, memang begitu adanya. Mereka akan menukar hasil kebun yang dibawanya untuk digantikan dengan hasil kebun yang dibawa pedagang lain. Lalu bagaimana dengan nilainya? Tentu itu semua dilakukan atas kesepakatan antara dua pihak. Jika mereka sama-sama merasa untung dengan barter tersebut, maka pertukaran itu terlaksana. Meski barter menjadi salah satu cara jual beli di sini, tapi  untuk wisatawan, para pedagang tetap membuka diri terhadap uang sebagai alat tukar.

Transaksi di Pasar Lok Baintan (Sumber: pulaubanuabanjar.com)

Oh iya, jangan salah. Pasar terapung ini tidak selalu ada setiap waktu. Hanya di waktu-waktu tertentu mereka berkumpul. Biasanya, para pedagang mulai datang pada pukul 06.00 pagi dan membubarkan diri di pukul 09.00 pagi Waktu Indonesia Tengah (WITA). Nah, para pedang yang berjualan di sini bukan cuma berasal dari Lok Baintan saja. Kebanyakan pedagang berasal dari anak Sungai Martapura, seperti Sungai Lenge, Sungai Bakung, Sungai Paku Alam, Sungai Saka Bunut, Sungai Padang dan berbagai macam sungai lainnya.

Bukan di Lok Baintan Saja

Banjarmasin memang kota sungai. Bukan cuma Martapura yang jadi sungai andalan. Kita juga pasti turut mengenal Sungai Barito. Nah, di atas sungai ini juga terdapat pasar terapung. Masyarakat menyebutnya pasar terapung Muara Kuin. Tak jauh berbeda dengan di Lok Baintan, para pedang di sini juga menjajakan dagangannya di atas jukung (perahu). Mereka juga berkumpul pagi hari dan bubar sebelum siang. Yang dijual pun berbagai macam. Mulai dari sayur mayur, buah-buahan, kue, sampai makanan. Salah satu yang menarik dari sungai terapung ini adalah sejarahnya yang cukup panjang. Bebebrapa literatur menanggap jika pasar terapung di Banjarmasin sudah ada sejak zaman Kerajaan Banjar sekitar abad 15. Karena itulah para pedagang tetap menjajakan jualannya di pasar terapung tersebut.

Ada beberapa cara untuk datang ke dua pasar terkenal itu. Satu lewat jalur air. Artinya kamu mesti menyusuri sungai untuk dapat sampai ke pasar terapung tersebut. Satunya lagi lewat jalur darat. Namun, banyak yang menyebut jika jalur air menjadi jalur tempuh yang lebih dekat.

Sayangnya, kini pedagangnya tak seramai dulu. Gaya hidup yang mulai bergeser membuat banyak yang memilih untuk tidak berjualan lagi di pasar terapung. Padahal, pasar terapung ini adalah salah satu ikon Banjarmasin. Jika wisatawan datang ke sana, maka pasar terapung menjadi tempat yang wajib dikunjungi. Bahkan, salah satu tv swasta pernah mengambil gambar untuk pembuka acara.

Nah semoga, pasar terapung ini akan tetap ada. Tidak sekadar menjadi ikon Banjarmasin. Tapi, juga simbol kalau keunikan Indonesia tidak terletak pada alamnya saja. Tapi juga tentang adat istiadat berdagangnya. Para pedagang yang setia mengapungkan diri tiap pagi itu tak hanya sedang mencari untung, tapi juga berupaya menjaga warisan budaya.

 

(Editor: Restia Ningrum)

(Sumber gambar utama: ketahui.com)