Petani. Siapa yang tak kenal dengan profesi yang satu ini? Karena jasa merekalah kita semua bisa makan hari ini, besok, atau mungkin tahun-tahun ke depan. Sudah selayaknya kita semua berterimakasih kepada mereka.

Petani adalah pejuang pangan. Jika mereka tak bekerja, maka bisa jadi tak akan ada makanan di meja makan kita. Tak akan ada restoran dengan harga selangit. Atau tak banyak yang bisa dijual oleh para pemilik swalayan.

Pilihan Editor :

Sebagai negara agraris yang Tuhan beri anugrah dengan tanah gembur nan subur, tentu banyak orang di Indonesia memutuskan untuk jadi petani. Meski angka profesi petani terus menurun tiap tahunnya, tapi kebolehan petani kita dalam hal bercocok tanam tak bisa diragukan lagi. Salah satu dari jutaan petani yang memiliki kehebatan dalam hal bertani adalah Ulus Pirmawan.

Ulus Pirmawan meraih penghargaan FAO
Ulus Pirmawan mendapat penghargaan dari FAO (Sumber: nasional.indopos.co.id)

Nama Ulus Pirmawan menjadi salah satu yang disebutkan ketika Food and Agriculture Organization (FAO) sebagai salah satu organisasi tertinggi dalam naungan PBB dalam hal pangan memberi sebuah penghargaan untuk para petani dari seluruh Asia Pasifik yang dinilai memiliki dedikasi dalam mengembangkan sektor pertanian. Pria asal Bandung Barat Jawa Barat itu menerima penghargaan bertepatan dengan hari pangan dunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober lalu. Perayaan hari pangan sedunia itu dirayakan di Bangkok Thaliand sebagai domisili kantor FAO untuk wilayah Asia pasifik.

Ketika diwawancarai oleh sebuah media nasional. Ulus mengaku, penghargaan dirinya tersebut diberikan oleh FAO sebagai bentuk apresiasi karena dirinya telah dianggap berhasil dalam mewujudkan kemandirian dalam pertanian. Selain itu, Ulus juga punya sebuah terobosan baru dalam hal pertanian. Dirinya menyebut terobosan itu disebut sektor [ertanian terpadu. Dirinya menggabungkan manfaat pertanian dan peternakan. Jadi, Ulus membuat kekurangan dari keduanya menjadi keuntungan dengan cara mengambil kotoran ternak untuk dijadikan pupuk. Sementara limbah sayuran yang tak terpakai ia jadikan pakan ternak. Tentu hal itu menjadi simbiosis mutualisme yang jelas-jelas menguntungkan.

Alasan lain yang membuat FAO kepincut untuk memberinya penghargaan adalah karena dia mampu menciptakan kemandirian dalam bidang pertanian. Ulus kini dipercaya sebagai Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Wargi Pangupay. Melalui kontribusinya dalam pertanian di daerahnya, Ulus sanggup untuk menambah omset para petani bahkan hingga empat kali lipat.

Orang Lembang ini berani untuk meniadakan tengkulak dan menjalani langsung fungsi perantara. Masing-masing kelompok yang ia ketuai, mampu menghasilkan pendapatan sekitar 15 Juta perbulan. Jauh meningkat ketika masih dikuasai oleh tengkulak. Pria sederhana itu juga mengaku jika kunci dari segala ikhtiarnya adalah ketekunan dan keuletan dalam hal mengembangkan serta mengelola bidang pertanian. Hal itu pula yang kemudian mengantarkan Ulus mendapat sejumlah penghargaan.

Penghargaan dari FAO ini memang bukan yang pertama. Tiga tahun lalu atau tepatnya tahun 2014 Ulus Pirmawan pernah dipercaya dan berpartisipasi dalam sebuah acara prestisius yang memungkinkan petani kita dapat belajar dengan petani dari negara lain. Tahun 2014 tersebut Ulus menjadi delegasi Indonesia untuk program pertukaran pertanian JICA. Hal itu pulalah yang kemudia membuat wawasan Pria tamatan SD itu menjadi semakin luas dan memiliki jaringan yang lebih luas lagi.

Pada tahun 2014 dan 2015, dirinya juga berhasil memperoleh sebuah penghargaan lagi dari pemerintah Republik Indonesia. Sebab di tahun itu Ulus mampu mengekspor buncis ke luar negeri dengan kualitas tinggi dan tentunya terbaik.

Memang komoditas unggulan dari Gaptokan Wargi Pangupay adalah buncis. Tapi, buncis di sini bukan sembarang buncis. Ini adalah buncis Kenya. Nah, si buncis inilah yang kemudian dikenal memiliki kualitas terbaik dan menjadi langganan untuk diekspor ke Singapura sejak dua tahun lalu.

Pria Kelahiran Kampung Gandok Lembang Bandung Barat itu juga mengaku jika banyak swalayan di Bandung dan Jakarta sudah tertarik dengan hasil bumi dari daerahnya. Bahkan, mereka sudah membeli  beberapa komoditas seperti, buncis, sawo, terong, cabai sampai tomat dari kampung Ulus sejak tahun 1995.

Sumber Gambar Utama: pikiran-rakyat.com

Editor: Restia Ningrum, Ridho Nur Wahyu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here