Budaya merupakan salah satu identitas suatu bangsa pada tiap negara. Negara dengan gaya pemerintahan apapun pasti mempunyai budaya yang berkembang dari dulu. Bicara tentang budaya di Indonesia, negeri ini didaulat sebagai negara yang kaya akan budaya dan beraneka ragam budaya. Salah satu bentuk budaya di Indonesia adalah budaya Jawa. Contoh budaya Jawa yang masih mendarah daging di tengah-tengah masyarakat Jawa adalah budaya Jawa Yogyakarta dan Surakarta atau Solo.

Tradisi Sekaten merupakan budaya yang bisa ditemui di daerah Yogyakarta maupun Solo. Pastinya dari kedua tempat itu juga mempunyai perbedaan. Tradisi sekaten tentunya tidak akan terdengar asing bagi sahabat Ublik yang berasal dari tanah Jawa, namun mungkin jarang terdengar bagi sahabat yang tinggal di luar Jawa. Nah, kali ini Ublik akan mengulas lebih dalam tentang budaya Jawa yakni Sekaten.

Pilihan Editor:

 

Sejarah Tradisi Sekaten

Tradisi Sekaten di solo
Tradisi Sekaten di Solo (http://meciko.blogspot.co.id/)

Sekaten adalah festival/perayaan/rangkaian acara tahunan yang diadakan untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW yang diadakan oleh keraton Surakarta dan Yogyakarta. Rangkaian acara secara resmi berlangsung dari tanggal 5 dan berakhir pada tanggal 12 Mulud dalam penanggalan Jawa (bisa disetarakan dengan Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah). Dilansir dari Kapustakan sono Pustoko Karaton Surakarta istilah ‘sekaten’ sendiri merupakan adaptasi dari istilah bahasa Arab, syahadatain, yang berarti ‘pembacaan kalimat (syahadat) yang dua’.

Hal ini juga diperluas maknanya dengan istilah Sahutain (menghentikan atau menghindari perkara dua, yakni sifat lacur dan menyeleweng), Sakhatain (menghilangkan perkara dua, yaitu watak hewan dan sifat setan), Sakhotain (menanamkan perkara dua, yaitu selalu memelihara budi suci atau budi luhur dan selalu menghambakan diri pada Tuhan), Sekati (setimbang, orang hidup harus bisa menimbang atau menilai hal-hal yang baik dan buruk, dan Sekat (batas, orang hidup harus membatasi diri untuk tidak berbuat jahat serta tahu batas-batas kebaikan dan kejahatan). Jadi bisa disimpulkan secara singkat bahwa istilah sekaten merupakan serapan dari Syahadatain yang berfilosofi tentang kalimat syahadat dan demi memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, istilah sekaten ini dipakai agar mudah diucapkan warga Solo dan Yogyakarta.

Rangkaian Acara Sekaten

Tradisi sekaten di yogyakarta
Tradisi Sekaten (Sumber: aboutyogya.wordpress.com)

Rangkaian acara dalam sekaten ini antara lain; dimainkannya gamelan pusaka di halaman Masjid Agung masing-masing keraton, pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad dan rangkaian pengajian di serambi Masjid Agung, dan puncaknya, Gerebeg Mulud yakni pihak istana mengeluarkan beberapa gunungan yang nantinya akan diperebutkan oleh masyarakat. Hal ini sebagai simbol dan bentuk rasa syukur pada Tuhan yang Maha Esa. Perayaan tradisi sekaten ini dimeriahkan pula oleh pasar malam (biasa disebut ‘Sekatenan’) yang berlangsung selama sekitar 40 hari, dimulai pada awal bulan Sapar (Safar).

Pada dasarnya maksud perayaan Sekaten dapat ditarik sejak mulainya kerajaan-kerajaan Islam di tanah Jawa, yaitu zaman Kesultanan Demak. Tradisi sekaten diadakan sebagai salah satu upaya menyiarkan agama Islam. Karena orang Jawa saat itu menyukai gamelan, pada hari raya Islam yaitu pada hari lahirnya Nabi Muhammad di halaman Masjid Agung Demak dimainkanlah gamelan, sehingga warga masyarakat berduyun-duyun datang di halaman masjid untuk mendengarkan gamelan dan sekaligus khotbah mengenai keislaman. Tradisi arak-arakan semacam sekaten telah dilakukan pada masa Kerajaan Majapahit. Kerajaan Demak, sebagai pelanjut dari “wahyu” kerajaan, mencoba meneruskan tradisi tersebut atas saran dari Wali Sanga.

Pada hari pertama, upacara diawali saat malam hari dengan iring-iringan abdi dalem (punggawa kraton) bersama-sama dengan dua set gamelan Jawa Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu. Iring-iringan ini bermula dari pendapa Ponconiti menuju masjid Agung di Alun-alun Utara dengan dikawal oleh prajurit Kraton. Kyai Nogowilogo akan menempati sisi utara dari Masjid Agung, sementara Kyai Gunturmadu akan berada di Pagongan sebelah selatan masjid. Kedua set gamelan ini akan dimainkan secara bersamaan sampai dengan tanggal 11 bulan Mulud, selama 7 hari berturut-turut. Pada malam hari terakhir, kedua gamelan ini akan dibawa pulang ke dalam Kraton. Kegiatan ini menandai bahwa prosesi sekaten telah usai.

Tradisi Penting

tradisi sekaten surakarta
Tradisi Sekaten (Sumber: http://nurpendidikan11.blogspot.co.id)

Dalam acara sekaten ini terdapat beberapa tradisi penting antara lain Grebeg Muludan dan Numplak Wajik. Acara puncak peringatan Sekaten ini ditandai dengan Grebeg Muludan yang diadakan pada tanggal 12 (persis di hari ulang tahun Nabi Muhammad SAW) mulai jam 08.00 hingga 10.00 WIB. Dengan dikawal oleh 10 macam bregada (kompi) prajurit Kraton: Wirabraja, Dhaheng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Nyutra, Ketanggung, Mantrijero, Surakarsa, dan Bugis. Sebuah gunungan yang terbuat dari beras ketan, makanan, dan buah-buahan serta sayur-sayuan akan dibawa dari istana Kemandungan melewati Sitihinggil dan Pagelaran menuju masjid Agung.

Setelah didoakan, gunungan yang melambangkan kesejahteraan kerajaan Mataram ini dibagikan kepada masyarakat yang menganggap bahwa bagian dari gunungan ini akan membawa berkah bagi mereka. Bagian gunungan yang dianggap sakral ini akan dibawa pulang dan ditanam di sawah/ladang agar sawah mereka menjadi subur dan bebas dari segala macam bencana dan malapetaka. Numplak Wajik dilaksanakan dua hari sebelum acara Grebeg Muludan di halaman istana Magangan pada jam 16.00. Upacara ini berupa kotekan atau permainan lagu dengan memakai kentongan, lumpang (alat untuk menumbuk padi), dan semacamnya yang menandai awal dari pembuatan gunungan yang akan diarak pada saat acara Grebeg Muludan nantinya. Lagu-lagu yang dimainkan dalam acara Numplak Wajik ini adalah lagu Jawa populer seperti: Lompong Keli, Tundhung Setan, Owal awil, atau lagu-lagu rakyat lainnya.

Keunikan Tradisi Sekaten

Di balik acaranya yang sakral dan bernuansa Islami ternyata sekaten menyimpan beberapa keunikan, antara lain banyak warga yang berasal dari luar daerah datang dan menyaksikan prosesi ini. Wisatawan mancanegara yang berkunjung di Solo atau Yogyakarta juga antusias menyaksikan perayaan sekaten. Dalam proses Grebeg Muludan banyak warga yang percaya bahwa mendapatkan sedekah bumi yang diperebutkan dalam bentuk gunungan itu bisa menambah rezeki dan sebagai pelaris dagangan. Di sisi lain, sejak awal prosesi pihak istana sudah menasehati agar tidak mempercayai hal tersebut.

Grebeg Muludan hanya bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, namun hingga sekarang masyarakat masih mempercayainya. Selain itu, di tiap prosesi sekaten menjadi prosesi yang sangat dihormati oleh pemerintah dan warga sekitar, karena latar belakang daerah yang sangat kental dengan sejarah kerajaan atau keraton. Tak ayal masyarakat dan budaya keraton sudah melebur menjadi satu. Banyak pihak keamanan yang berjaga di beberapa ruas jalan menuju keraton. Masyarakat pun berduyun-duyun datang bersama keluarga. Tak jarang ada yang datang beberapa jam sebelumnya hanya untuk melihat secara langsung prosesi sekaten baik di Solo maupun di Yogyakarta.

Itulah beberapa penggal kisah dari budaya sekaten yang masih eksis hingga sekarang. Sekaten sendiri sudah menjadi tradisi yang melebur dengan kebudayaan masyarakat Solo maupun Yogyakarta. Hal tersebut juga menjadi ikon yang memperkaya destinasi wisata religi bagi para wisatawan dalam maupun luar negeri. Semoga keharmonisan budaya selalu tetap terjaga di negara kita tercinta Indonesia.

(Sumber Gambar Utama: aboutyogya.wordpress.com)

Editor: Restia Ningrum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.