Ublik – Timnas U19. Indonesia adalah negara sepakbola. Ya, selain banyak orang gembar-gembor menyatakan jika indonesia adalah negara Hukum ataupun negara Demokrasi. Nyatanya mayoritas orang Indonesia ini gila bola. Buktinya? lihat saja stadion-stadion jika sebuah tim berlaga atau mungkin lapangan-lapangan tiap ada pertandingan antar kampung bermain. Pasti penuh, sesak dan meriah. Ya, itulah ciri sebenarnya jika sepakbola Indonesia ini sudah memonopoli bidang olahraga lain. Jumlah penontonya pasti paling banyak. Akan sangat berbeda jika yang diadakan adalah kompetisi tenis meja dikampung misalnya. Jumlahnya tak akan sebanyak pertandingan sepakbola. Selain karena dianggap kurang menarik. Gengsi olahraga lain tak semenggugah nurani masyarakat kita. Ya, itulah sepakbola sudah jadi sebuah harga diri di negeri ini.

Tapi masalahnya adalah. Meski suporter kita dinilai sebagai salah satu yang loyal dan atraktif di dunia. Prestasi Timnas kita masih melempem. Belum ada prestasi membanggakan yang bisa kita kenang apalagi kita banggakan ketika bersua tim dari negara lain. Bukan rahasia umum jika memang prestasi sepakbola Indonesia selalu seret.

(Baca Juga : Tak Hanya Indonesia, 9 Negara Ini Juga Merdeka di Bulan Agustus)

 

Tak, seperti cabang olahraga lain yang beberapa kali mengharumkan nama bangsa. Bulu tangkis contohnya. Cabang “tepok bulu” ini beberapa kali menghantarkan bendera Indonesia ke pucuk tiang tertinggi sebuah turnamen kelas internasional. Sebuah turnamen yang diikuti oleh seluruh negara. Salah satunya adalah Olimpiade. Cabang ini selalu rutin memberi sumbangsih medali emas sejak olimpiade 1992 di Barcelona. Kala itu Susi Susanti menjadi orang pertama dari Indonesia yang berhasil menggondol emas dari kompetisi paling prestisius di dunia. Hanya tahun 2012 saja cabang ini gagal sumbang emas. Tapi, sepakbola yang notabenenya olahraga rakyat belum juga memberi kontribusi yang nyata. Lemari trofi PSSI masih sepi akan gilapnya piala.

Terhitung, terakhir kali kesebelasan Indonesia juara adalah ketika Sea Games tahun 1991 yang dilangsungkan di Filipina. Saat itu Robi Darwis dan kawan-kawan sukses rebut emas untuk Indonesia. Setelah itu, kemerosotan yang terjadi. Prestasi sepakbola kita memble. Tradisi selalu masuk Piala Asia-pun putus di tahun 2011. Di Piala AFF pun 5 kali kita masuk final, tapi malangnya 5 kali juga kita takluk dipartai puncak. Jadi, jika disimpulkan hingga saat ini belum banyak trofi bergengsi yang Indonesia miliki. Salah satu yang paling segar di ingatan kita soal prestasi Timnas sepakbola adalah ketika Evan Dimas dan kawan-kawan berhasil menjadi jawara di ajang piala AFF U-19 yang diselenggarakan di Indonesia pada tahun 2013 silam.

timnas u19 sea games
Gambar: Timnas Indonesia Sea Games 1991 (Sumber:: Juara.net)

Kala itu tim yang diasuh oleh Indra Sjafri benar-benar menggebrak. Filosofi yang dimainkan oleh Timnas Garuda saat itu benar-benar membuat mata pecinta bola terbelalak. Puncaknya ketika kita masuk final dan akhirnya sukses mengangkat trofi. Tidak Cuma itu. Secara mengejutkan, tim ini juga mampu mengalahkan Timnas Korea Selatan dengan skor 3-2. Timnas Koreas Selatan U19 ini dikalahkan di Stadion Gelora Bung Karno dalam ajang kualifikasi Piala Asia U20. Padahal saat itu. Korea Selatan adalah juara bertahan perhelatan bergengsi 4 tahunan tersebut.

Sayangnya, tim tersebut melempem di gelaran Piala Asia, mereka harus pulang cepat. Mimpi masuk Piala Dunia U22 pun ikut pupus. Malangnya tak lama dari itu Indra Sjafri di pecat dari kursi kepelatihan. Setelah tahun-tahun itu sepakbola kita tetap stagnan. Bahkan di banned selama setahun lebih oleh FIFA karena adanya perselisihan di tubuh PSSI. Setelah FIFA kembali membuka keran kompetisi bagi Indonesia kembali. Publik jadi sumringah lagi. Sayangnya lagi-lagi ekspektasi publik yang tinggi itu belum terbayar ketika Timnas Senior harus ditaklukan Thailand di Final Piala AFF 2016 dan Timnas U23 mesti puas menjadi peringkat tiga pada gelaran Sea Games 2017.

Harapan Emas Lewat Timnas U19

timnas u19 Indonesia
(Sumber: Jogja.Tribunnews.com)

Kini, Indra Sjafri kembali ditunjuk sebagai pelatih Timnas U19 pada gelaran piala AFF untuk usia serupa. Sebuah kompetisi yang melambungkan nama Indra Sjafri ke publik Indonesia. Dirinya kini bersama pasukan baru. Pasukan yang memang sudah ia persiapkan secara matang. Memang, sudah bukan rahasia umum lagi jika pelatih asal Sumatera Barat tersebut kerap mencari bakat-bakat dari pelosok negeri. Mencari sumber daya manusia sepakabola paling jago didaerah untuk dia poles menjadi profesional. Lihat saja bagaimana kini kita melihat lihainya Evan Dimas dalam memainkan bola. Bagaimana Hansamu Yama menjadi tembok kokoh bagi pertahan tim yang ia bela. Atau bagaimana Yabes Roni menjadi motor penggerak serangan paling berbahaya. Sebuah bakat itu ditemukan sang pelatih.

(Baca Juga: 8 Orang Indonesia yang Paling Terkenal di Dunia)

Saat ini dia dengan pemain racikannya sedang bertaruh di Myanmar. Berjuang sekuat tenaga agar memori empat tahun lalu dapat kembali ia raih. Sebuah prestasi yang kini tengah di tatih oleh tim Garuda Nusantara. Indra Sjafri selalu menstimulus para pemainnya dengan gaya bermain yang ia sebut PePePa (Pendek. Pendek, Panjang) sebuah gaya bermain khas mirip tiki taka Spanyol.

timnas U19 Sepakbola
Gambar: Indonesia U19 vs Filipina U19 (Sumber: Kompas.com)

Pada laga awal tim ini sukses comeback dengan menjungkalkan perlawanan tim tuan rumah Myanmar dengan skor 2-1. Pada pertandingan selanjutnya lebih gila lagi. Timnas U19 sukses menghabisi perlawanan Filipina dengan skor super telak 9-0. Namun sayang kedigdayaan itu akhirnya pupus ketika Vietnam berhasil memukul Timnas Indonesia dengan skor 3-0. Tapi, Indonesia berhasil comeback kembali dengan menjadikan Brunei ladang gol.

Ujian sebenarnya tim ini adalah pada laga Semi Final nanti. Ketika akan berhadapan dengan Thailand. Jika coach Indra berhasil menjungkalkan tim Negeri Gajah Putih, animo tahun 2013 akan kembali terulang. Seluruh mata akan tertuju pada Timnas U19 Indonesia dilaga semi final nanti seraya berharap Sadil Ramdhani dan Kawan-kawan akan dapat kembali mengangkat trofi. Sebuah trofi yang sudah kita tunggu lagi. Trofi yang akan mewarnai lemari PSSI dari kekosongan. Dan semoga tuah Indra Sjafri dapat kembali lagi tercipta sehingga kita dapat kembali bersorak seraya berkata “Kita Juara”.

(Gambar Utama: bola.Liputan6.com)

Editor: Ridho Nur Wahyu