“Terpujilah wahai engkau, ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku.”

Kita tentu tahu jika penggalan kalimat di atas adalah sebuah lirik dari lagu tentang pahlawan tanpa tanda jasa. Lagu tersebut memang selalu kita dengungkan ketika sekolah. Lagu tersebut berkaitan dengan pujian terhadap guru kita yang senantiasa membimbing dan mengajari kita berbagai macam hal.

Guru berasal dari bahasa sansekerta. Gu berarti kegelapan dan ru berarti menghilangkan. Sudah jelas jika guru memang pelita yang berfungsi untuk menghilangkan segala kegelapan. Guru memang layak untuk kita puji. Bagaimanapun, guru adalah salah satu penentu nasib kita. Sebab dari ucapannya itulah akan berpengaruh terhadap kehidupan kita mendatang.

Pilihan Editor:

Untuk senantiasa mengigat jasa-jasanya, kita selalu peringati hari guru tiap tanggal 25 November. Pertanyaannya, mengapa hari guru diperingati setiap tanggal 25 November? Apa makna dan sejarahnya? Sebetulnya, guru merupakan profesi di Indonesia yang sudah sangat tua. Pekerjaan ini sudah ada sebelum Indonesia ada. Bahkan tercatat jika guru sudah berserikat dan berkumpul sejka tahun 1912. Saat itu, guru membentuk Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).

Persatuan ini diisi oleh kepala sekolah, guru bantu, guru desa dan lain-lain. Nah, semangat untuk merdeka membuat orang-orang yang di dalam PGHB merubah nama kelompoknya itu. Tepat pada tahun 1932 PGHB berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) Sebutan ini terus bertahan hingga Indonesia akhirnya merdeka. Di tanggal 25 November tahun 1945 inilah orang-orang dalam PGI ini kemudian mengubah namanya kembali menjadi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) setelah mengadakan kongres akbar guru-guru seluruh Indonesia. Mereka yang datang adalah guru-guru yang senantiasa semangat merebut kemerdekaan. Kongres tersebut diadakan di Solo Jawa Tengah. Kongres ini juga sekaligus mendukung kemerdekaan Indonesia.

Sayangnya, tanggal itu tak lantas langsung ditetapkan menjadi hari guru nasional. Tanggal itu ditetapkan menjadi hari guru nasional pada tahun 1994 atau setelah 49 tahun merdeka. Karena itulah sejak 23 tahun lalu kita peringati hari guru di tanggal 25 November.

Setelah puluhan tahun berlalu, tak banyak yang berubah dari sikap guru. Baktinya kepada negara seakan tak pernah lekang dimakan zaman. Tapi, kisah guru zaman dulu dan sekarang tentu berbeda. Apa yang dihadapi oleh guru zaman dulu dan sekarang juga pasti tak sama.

Hari Guru
Guru Mengajar (Okezone.com)

Dulu, murid senantiasa menjunjung tinggi guru setinggi-tingginya. Menempatkan posisi guru sejajar dengan orang tuanya. Karena itulah, guru selalu diibaratkan sebagai orang tua kedua atau orang tua disekolah. Tapi, itu dulu, beda zaman beda kelakuan.

Kita tentu tak asing dengan berita-berita soal murid yang menghardik guru, melecehkan sampai memperkarakan guru ke penjara karena masalah sepele seperti perbedaan sudut pandang dan pendapat. Harus kita akui jika rasa hormat murid terhadap guru sudah mulai menyusut. Pertikaian sering terjadi akibat ‘kebandelan’ murid yang terlalu. Sebuah hal yang membuat guru kemudian naik pitam.

Sayangnya, hal itu dianggap lumrah oleh orang tua. Jika dulu, orang tua senantiasa mendukung sikap guru. Kini sebaliknya, guru seperti dimusuhi. Apa yang dilakukan anaknya adalah perbuatan yang benar. Dan yang dilakukan guru adalah hal yang selalu salah.

Pidana dan perkara lalu bermunculan. Hanya karena orang tua tak terima anaknya disentak, dijewer atau lari keliling lapangan. Padahal hal tersebut adalah hukuman yang sudah mainstream sejak puluhan tahun lalu.

Bukan cuma itu, persoalan kesejahteraan guru juga selalau jadi topik hangat setiap peringatan hari guru. Melalui jasa gurulah yang kemudian mencetak seorang dokter, insinyur, pilot, sampai presiden. Pola pikir dan pandangan untuk segenap profesi-profesi tersebut adalah hasil dari penyampaian ilmu yang disampaikan guru. Tapi sayangnya, hingga saat ini kita tentu tahu jika profesi guru tidak selalu menjanjikan mimpi untuk sejahtera, khususnya masalah guru honorer yang gajinya se

ya. Paling-paling cukup untuk beli bensin.

Jadi, dari sekelumit keluhan guru, di momen hari guru ini adalah momen dimana kita mesti mengapresiasi kerja guru setinggi-tingginya. Memberinya penghormatan atas segala kinerjanya. Hingga pada akhirnya. Hari Guru juga mesti jadi momen untuk mentadaburi lirik terakhir lagu pahlawan tanpa tanda jasa

“Engkau patrot pahlawan bangsa, bangun insan cendekia”

Terima kasih bapak dan ibu guru.

Sumber Gambar Utama: harianguru.com

Editor: Restia Ningrum, Ridho Nur Wahyu

1 KOMENTAR

  1. Iya benar sekali sudah sangat berbeda sekali apa yang guru guru hadapi, berbagai kelakuan anak murid yang mulai nakal dan sampai yg baik pula tetap menjunjung gurunya. Tetapi lain halnya dengan anak murid sekarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here