Jogja memang menjadi tempat yang istimewa di Indonesia. Daerah ini memiliki banyak sekali destinasi wisata. Selain itu, Jogja juga punya banyak keistimewaan lain mulai dari kuliner, ragam budaya, hingga pusat pemerintahan. Semua itu akan terasa lebih istimewa ketika kita datang ke Jogja. Karena itulah tak sedikit wisatawan yang pergi ke tempat ini ketika akhir pekan atau hari-hari libur lainnya.

Seperti halnya Bali, Jogja adalah pusat wisata di Indonesia yang selalu menarik untuk dikunjungi wisatawan lokal maupun internasional. Tentunya, pergi ke Jogja kurang lengkap rasanya jika tak membeli oleh-oleh. Sebagaimana kita tahu, salah satu oleh-oleh paling terkenal di Jogja adalah kaos oblong yang punya berbagai macam corak yang unik.

Pilihan Editor:

Bicara soal kaos oblong dan oleh-oleh khas Jogja, sulit rasanya kalau kita tak membahas merk yang satu ini: Dagadu. Yap, siapa yang tidak mengenal merk khas Jogja ini? Sudah sekian lama Dagadu jadi ikon oleh-oleh provinsi yang terletak di selatan Jawa itu. Alasanyanya sederhana, yakni karena Dagadu selalu membuat desain kaos oblong yang unik, menggelitik, dan sarat makna. Rasanya memang kurang lengkap kalau berkunjung ke Jogja tanpa membeli kaos Dagadu.  Saat ini di Jogja sudah banyak yang meniru dan menyamakan desain serta konsep yang Dagadu miliki. Bahkan, bukan hanya di Jogja, tapi juga di kota-kota lain.

Bagaimana Awal Pembuatan Produk Ini?

Ide produk ini berawal dari 25 mahasiswa Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang punya minat di bidang pariwisata. Mereka sering bertemu dan berdiskusi hingga akhirnya tercetuslah untuk membuat souvenir khusus khas Jogja yaitu kaos. Mengapa kaos? karena kaos adalah sebuah benda yang melekat dengan mereka dan bisa dipakai semua orang. Kaos juga bisa jadi media yang tepat untuk melukiskan banyak hal.  Mulai dari khasanah khas Jogja sampai dengan sindiran. Selain itu, ada banyak pasar yang memungkinkan mereka menjual kaos, Malioboro salah satunya. Karena itulah mereka akhirnya patungan untuk membuat souvenir kaos sendiri. Jumlah patungan mereka hanya 4 juta saja. Tapi, siapa sangka, dari 4 juta bisa bertahan hingga kini dan bahkan menjadi ikon Yogyakarta.

Logo dagadu (Kosim.web.id)

Kemudian, mereka pun bersepakat untuk menamai produk rancangannya itu degan nama ‘Dagadu’. Dagadu sendiri memiliki arti ‘matamu!’. ya, kata-kata matamu memang menjadi salah satu umpatan khas jogja dan orang-orang Jawa. Tapi bagaimana dari Matamu bisa menjadi Dagadu?

Sudah Digunakan sejak Zaman Penjajahan Belanda

Pada zaman penjajahan, orang Jawa (khususnya di Jogja) sangat diawasi oleh penjajah dalam setiap aktivitas sehari-hari, apalagi yang berkaitan dengan perjuangan. Untuk itulah, para pejuang memakai sandi dalam bahasa mereka. Sandi tersebut dibuat berdasarkan urutan aksara Jawa seperti pada gambar berikut. Caranya adalah baris pertama ditukar dengan baris ketiga, dan baris kedua ditukar dengan baris keempat. Tujuan dari menukar urutan baris aksara itu adalah untuk membingungkan pihak penjajah. Coba kita simak contoh berikut: kata ‘matamu’ menggunakan aksara ma+ta+ma, di mana posisi ma digantikan oleh aksara da, dan posisi ta digantikan oleh aksara ga. Nah, jadi kata ‘matamu’ menjadi ‘dagadu’.

Dagadu berasal dari bahasa slang atau dikenal juga sebagai bahasa walikan di Jogja. Memang di Jogja saat itu, umpatan Dagadu sangat familiar di kalangan anak muda di sana. Sebab itulah nama ‘Dagadu’ dipilih dan ditambahakan kata ‘Djokja’ sehingga bernama ‘Dagadu Djokja’ supaya citra bahwa merk ini datang dari Yogyakarta makin melekat.

honocoroko walik (jebule.blogspot.co.id)

Mata sebagai Simbol dari Kreativitas

Kalau kita perhatikan, logo Dagadu adalah mata. Mengapa logo mata yang dipilih? Menurut salah satu pendirinya, mata merupakan simbol dari kreativitas. Maka dari itu, lambang mata diharapkan menjadi inspirasi bagi individu atau kelompok yang sungguh-sungguh dalam berkreasi.

Bukan hanya itu, mata juga bisa berarti ‘cuci mata’ alias refreshing. Yap, ketika pergi ke Jogja, maka sudah tentu banyak sekali keindahan-keindahan serta ragam budaya yang dapat menyegarkan mata. Karena itulah, logo mata dibuat untuk branding produk ‘Dagadu’.

Perkembangan Merk Dagadu Saat Ini

Dagadu yang melegenda ini sudah ada sejak tahun 1994, dan menjadi barang yang mesti dibawa dari Jogja. Meskipun begitu, lambat laun, banyak sekali yang membuat kaos bajakan dengan merk dan logo yang sama persis. Tentu ini merugikan pihak Dagadu yang telah dikenal bukan hanya di Jogja tapi juga Indonesia. Sempat terbersit wacana untuk membawa kasus pembajakan ini ke ranah hukum. Jika itu terwujud, maka yang bakal kena bui bukan hanya si pembuat tapi juga si pedagang.

Hal itu sebetulnya sangat dihindari oleh pihak Dagadu. Bagaimanapun, salah satu yang membesarkan Dagadu adalah pedagang-pedagang kecil. Akhirnya, pertemuan pun dilakukan. Bertempat di Keraton Jogja, diskusi tentang pembajakan ini berlangsung. Hinga akhirnya berujung pada putusan bahwa penjiplak mesti membuat logonya sendiri dan merk dagangnya sendiri, tidak diperbolehkan memasang logo Dagadu. Akan tetapi, untuk memastikan jualan mereka juga turut laku, untuk kaos Dagadu, mereka rela untuk menghilangkan ciri khas mereka yaitu logo mata di kerah belakang. Yap, saat ini sudah tidak bisa kita jumpai lagi kaos Dagadu dengan logo mata di bawah kerah belakang.

Akhirnya, keduanya tetap berjalan beriringan. Omset Dagadu juga tetap membaik. Saat ini sudah ada empat gerai khusus yang menjual produk Dagadu Djokda. Bukan hanya itu, Dagadu juga sudah berada dibawah naungan PT. Aseli Dagadu Djokda.

Bisa dibilang, kini hampir di tiap kota wisata memiliki souvenir kaosnya masing-masing dengan ragam corak dan kekhasannya sendiri. Tentu saja, salah satu yang menjadi pionir dari nama merk lokal itu adalah Dagadu Djokja dari provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sumber Gambar Utama : ziliun.com

Editor : Restia Ningrum