Perhelatan Piala Dunia 2018 sebentar lagi akan berlangsung.Di Rusia segala drama sepak bola dunia akan digelar. Tentu semua mata akan tertuju ke negara dengan Ibukota Moscow tersebut. Dunia memang sudah tidak sabar melihat sejarah baru. Bagaimana aksi Cristiano Ronaldo, Lionel Messi sampai si pesepakbola termahal, Neymar Junior. Sebab itulah Rusia kini bersolek. Mempercantik stadion-stadionnya, memperbaiki sarana umum mereka hingga yang paling terbaru adalah meluncurkan poster resmi Piala Dunia 2018. Akan tetapi dari serangkaian persiapan tersebut. Pembenahan stadion jadi yang paling menyedot perhatian. Stadion-stadion super megah siap jadi panggung pentas para pemilik skill sepak bola dipamerkan. Dan salah satu panggung tersebut adalah Luznhiki Stadium.

Pilihan Editor :

 

Stadion ini adalah stadion milik klub bola Spartak Moskow. Luznhiki Stadium dilabeli bintang lima oleh Federasi Sepak Bola Tertinggi di Dunia, FIFA. Bukan Cuma itu stadion megah ini memiliki kapasitas 84 ribu penonton. Tentu sebuah kapasitas yang tak bisa dibilang sedikit. Luznhiki Stadium juga pernah ditunjuk oleh UEFA (Federasi Sepak Bola Eropa) untuk jadi tuan rumah penyelenggaraan final Liga Champions Eropa tahun 2008. Kala itu final mempertemukan Manchaster United VS Chelsea. All England Final pertama itu pada akhirnya menjadikan MU menjadi juara lewat drama adu pinalti yang benar-benar dramatis. Setelah itu, Luzhniki tak lagi jadi tuan rumah. Baru di Piala Dunia 2018 mendatang, Luzhniki bakal menjadi stadion tempat dimana pembukaan dan penutupan Piala Dunia. Yap, Final Piala Dunia 2018 nanti akan digelar di stadion kebanggaan rakyat Moskow tersebut.

Punya Kembaran di Indonesia

Kembaran Stadion Gelora BUng Karno GBK
Stadion Luzhniki di Moskow kembaran Stadion Gelora Bung Karno (Sumber: Valery Shustov/RIA Novosti Via https://id.rbth.com)

Akan tetapi, tahukah kamu jika Luzhniki punya kembaran di indonesia. Kembaran stadion di Indonesia yang rupanya mirip sekali dengan Luznhiki. Sudah tau? Stadion tersebut adalah Stadion Utama Gelora Bung Karno. Betul, stadiun kebanggaan Indonesia sekaligus yang termegah dan menjadi landmark olahraga nasional. Ada sekelumit kisah tentang sejarah Stadion Gelora Bung Karno yang memang punya nuansa politik. Tentang sang pemrakarsa Bung Karno dan tentunya Uni Soviet sebagai negara adidaya di Eropa sana.

Tahun 1956, Ketika usia Indonesia masih 11 tahun. Bung Karno melakukan kunjungan ke Uni Soviet. Indonesia saat itu memang relatif dekat dengan negara-negara Blok Timur. Saat itu, ketika Soekarno ke Uni Soviet. Dirinya diberikan panggung untuk berorasi di stadion Luznhiki yang sudah berdiri dengan gagah. Di panggung Luznhiki, Sukarno berucap “Saudara yang jauh dimata tapi dekat dihati” begitu katanya.

Sepulang dari Uni Soviet. Soekarno lantas berinisiatif membuat sebuah stadion kebanggan Indonesia yang berdesain mirip Luznhiki. Maka dibangunlah GBK di daerah Senayan Jakarta. Saat itu, untuk membangun GBK butuh beberapa pemukiman yang direlokasi dan diganti dengan bangunan stadion. Kantor berita Rusia, RIA Novosti dalam sebuah artikelnya mengklaim dari arsitek hingga pekerja bangunannya berasal dari Soviet. Meski begitu, GBK saat itu tidak terlalu menjiplak Luzhniki Stadium. Saat itu, untuk pertama kalinya didunia. Ada sebuah stadion yang menggunakan atap ‘tem gelang’ atau sebuah atap yang menyatu berbentuk lingkaran. Luzhniki yang jadi kemabarannya belum dibuat atap seperti itu. Baru beberapa tahun lewat, kembaran Stadion Gelora Bung Karno ini direnovasi dan atapnya jadi mirip GBK.

sejarah Kembaran stadion gelora bung karno GBK
Stadion Gelora Bung Karno ( Sumber: Instagram/@luckyajipramono)

Sampai akhirnya, Stadion GBK berdiri. Baru belasan tahun Indonesia merdeka. Stadion megah tersebut langsung menjadi tuan rumah Asian Games tahun 1962. Tentu, Jakarta sebagai kota penyelenggara sukses menyelenggarakan ajang empat tahunan itu. Hingga ketika Indonesia keluar dari PBB pun. Stadion Gelora Bung Karno dijadikan tuan rumah ajang olahraga tandingan olimpiade yang notabenenya diprakarsai oleh organisasi dibawah PBB. GBK juga berubah nama ketika Presiden Soekarno tak lagi menjabat. Di era orde baru, Presiden Soeharto mengganti nama Gelora Bung Karno menjadi Stadion Senayan. Baru ketika era Presiden Abdurrahman Wahid, stadion itu kembali ke nama semula.

Nah, sekarang, Luzhniki sebagai salah satu stadion nomor satu didunia dan sekaligus kembaran GBK itu bakal menjadi pusat perhatian dunia pada tahun 2018. Sementara itu GBK juga bakal jadi pusat perhatian Asia di tahun yang sama mengingat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Memang dua stadion kembar itu memiliki nasib yang tak jauh beda. Semoga setelah Luzhniki sukses menyelenggarakan Piala Dunia. Indonesia dengan GBK nya juga dapat ‘ketularan’ untuk dipercaya FIFA menjadi tuan rumah Piala Dunia. Semoga tuah Luznhiki berlanjut dan menulari GBK. Semoga saja.

 

Sumber : Fourfourtwo Indonesia , Republika

(Sumber Gambar Utama: Wikipedia.org)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here