Ketika akhir pekan datang, ada beberapa tempat yang menjadi pusat orang-orang melepas penatnya. Beberapa lokasi yang sudah pasti ramai di akhir pekan adalah tempat wisata, mall, dan tentu saja bioskop. Ya, bioskop memang salah satu tujuan favorit untuk menghabiskan waktu libur seminggu sekali itu. Tempatnya yang mudah dijangkau serta film-film yang menarik menjadi alasan mengapa bioskop banyak digandrungi oleh masyarakat. Apalagi saat ini sudah mulai menjamur bioskop-bioskop di nusantara. Mulai dari kota besar sampai kota kecil pun kini ada bioskop. Terlebih lagi karena harga tiket bioskop yang murah, semakin menasbihkan jika bioskop memang pantas untuk dikunjungi di akhir pekan bersama teman, pasangan, atau kolega lainnya.

Pilihan Editor :

Nah, tentu kita mengenal berbagai macam jenis bioskop, mulai dari yang murah sampai yang mahal. Mulai dari layar kecil sampai yang lebar atau mulai yang dari 2 dimensi sampai yang 3 dimensi atau bahkan 4 dimensi. Semuanya sudah tersedia dan memang mudah dijangkau. Tapi, ada satu bioskop yang sebentar lagi dibangun di Indonesia dan bakal menyedot perhatian publik dunia. Sebuah bioskop yang akan menggunakan teknologi super mutakhir dengan sensasi menonton yang beda dengan bioskop-bioskop lain pada umumnya. Lalu, bioskop apakah yang dimaksud? dan apakah benar bioskop ini akan dapat menyedot perhatian publik dunia sehingga ingin berkunjung ke Indonesia?

Sebuah bioskop besar akan dibangun di Nusa Dua Bali. Bioskop tersebut dapat menampung 1200 penonton di dalamnya! Wah, benar-benar bioskop super kolosal. Ya, bukan cuma itu, bioskop ini adalah sebuah bioskop kubah. Penonton nantinya tidak diminta menyaksikan film di layar depan seperti pada bioskop-bioskop pada umumnya. Tetapi, film akan diputar pada atap langit-langit gedung bioskop yang berbentuk setengah lingkaran tadi.

Ilustrasi dome box (Sumber: www.dubaiconfidential.ae)

Secara langsung, hal ini bakal menciptakan sebuah atmosfer menonton yang berbeda dengan sensasi menonton yang tak akan di dapat di bioskop-bioskop lain. Karena itulah sensasi menyaksikan film  dibioskop ini akan sama rasanya dengan menonton film menggunakan efek virtual reality  akan tetapi tentunya tanpa menggunakan kaca mata alias mata telanjang.

Besar bioskop kubah ini diperkirakan akan memiliki tinggi 21 meter dengan luas diameter 42 meter. Bioskop kubah ini hadir nantinya atas kerjasama Indonesian Tourism Development Corporation (ITDC) dengan Oracle Project International yang berasa dari Kanada. Oracle Project International adalah pengembang yang memang kreatif dalam membuat sebuah bangunan dengan citarasa teknologi tinggi. Sudah banyak yang mereka kerjakan sejauh ini seperti air mancur yang dilengkapi layar di Singapura, Instalasi Laser di Australia sampai kubah raksasa yang beridiri di China

Untuk menarik minat warga Nusa Dua Bali pihak pembuat sebetulnya sudah menghadirkan bioskop semacam ini dengan ukuran yang lebih mini. Kubah tersebut sudah dipertontonkan dalam gelaran acara Pesona Mandiri Nusa Dua Fiesta yang telah diselenggarakan pada 11-15 Oktober 2017 kemarin.

“Kubah ini akan menjadi generasi baru bioskop di dunia. Kita juga membawa misi untuk memadukan budaya dan teknologi bersama-sama lewat proyek ini. Kami menyebutnya 360 immersive cinema. Ini bakal menjadi yang pertama di dunia,” Ungkap Chris Sifton perwakilan Oracle Project International seperti dikutip dari Liputan6.com.

Tentu kita patut berbangga jika proyek ini benar-benar dapat terlaksana dengan lancar dan tentunya memenuhi ekspektasi publik. Apalagi bioskop raksasa ini akan dibangun di Bali, sebuah pulau cantik yang sudah terkenal di seantero jagat. Bioskop ini tentu akan otomatis menjadi daya pikat baru bagi Indonesia. Dan diharapkan bioskop ini bakal menyedot antusiasme wisatawan, baik dalam maupun luar negeri untuk memilih Bali sebagai tempat berlibur. Dan tentunya kita semua berharap agar biaya masuk dan menonton film di bioskop ini tak terlalu mahal supaya semua orang dapat menikmati bioskop yang bakal jadi kebanggan Indonesia itu.

 

(Sumber Gambar Utama: www.oracleprojects.com)

Editor: Restia Ningrum