Ricky Elson (Sumber: Tempo.co)

“Hidup adalah seberapa sungguh-sungguh kita bercerita.” Seperti itulah kata-kata yang sering diucapkan oleh Ricky Elson (38) di berbagai kesempatan berbagi dengan pelajar dan mahasiswa negeri ini. Lalu cerita apakah yang sebaiknya kita ketahui hari ini? “Di dunia ini, ada 7 milyar lebih manusia, dan 70% hidup di negara berkembang. 30% lebih, dari 7 milyar manusia ini, masih belum menikmati kemajuan dunia yang bernama ‘peradaban elektrik’ ini,” kata teknokrat muda itu di kesempatan lain.

Tentang dongeng masa lalu

Tentang impian masa depan

Tentang harapan di kemudian hari

Tentang perjuangan saat ini

Tentang hidup

Dan tentang kebahagiaan dan kesyukuran

Semua yang ada di langit dan di bumi

 It’s ENJOYneering (Cerita Pagi di Ciheras)

Ciheras, 2018-01-06

Demikianlah bunyi salah satu caption di akun Instagram Ricky Elson (@ricky_elson). Buat kamu yang sempat mengikuti perkembangan berita tentang mobil listrik nasional pasti tahu siapakah Ricky Elson itu. Tapi, buat yang belum familiar dengan namanya, inilah sekilas profil beliau. Ricky Elson merupakan salah satu putra terbaik bangsa, yang prestasinya justru lebih mentereng di negeri Sakura Jepang. Sempat tinggal di Jepang 14 tahun (sejak 1999) di Jepang, ilmunya sangat dihargai karena berbagai kontribusi dan pencapaiannya. Di Jepang, Ricky sebenarnya telah menduduki jabatan penting, yakni sebagai Kepala Divisi Penelitian dan Pengembangan Teknologi Permanen Magnet Motor dan Generator NIDEC Coorporation, Kyoto. Selama di Jepang, beliau juga telah menemukan 14 teori tentang motor listrik yang dipatenkan oleh pemerintah Jepang.

Pilihan Editor;

Salah satu kegiatan di Ciheras (Sumber: ceritaciheras.wordpress.com)

Saat ini, pria berdarah Minang ini sudah kembali tinggal di Indonesia, tepatnya di Ciheras Tasikmalaya, bersama anak-anak muda dari berbagai daerah untuk menjalankan proyek penelitian mengenai pembangkit listrik tenaga angin. Pada saat Dahlan Iskan masih menjabat sebagai menteri BUMN, beliau mendapat julukan ‘Putra Petir’. Ini adalah terkait kepercayaan yang diberikan padanya  untuk mengembangkan teknologi mobil listrik nasional. Banyak pihak berharap bahwa mobil listrik karya Ricky Elson (dan timnya) bernama Selo dan Gendhis itu dapat menjadi inspirasi kelahiran mobil listrik buatan anak bangsa sendiri. Tapi apa daya, usaha pengembangan mobil listrik buatan pria kelahiran Padang 11 Januari 1980 itu tidak mulus begitu saja. Yang pasti, di sini kita tidak sedang mengkritisi apa-apa dari apa yang dilakukan pemerintah Indonesia pada karya anak bangsa. Lebih baik kita telusuri seperti apa kampung Ciheras dan segala ceritanya itu.

Ricky Elson tentu tidak sendiri. Bersama anak-anak muda penuh keyakinan, didirikanlah Lentera Bumi Nusantara (LBN),  sebuah lembaga penelitian sekaligus universitas kehidupan berbasis kewirausahaan sosial kearifan lokal (local wisdom). Dilihat dari intensnya aktivitas belajar dan pengembangan teknologi di sana, banyak yang kemudian menyebut daerah pinggir pantai Cipatujah ini sebagai Ciheras University.  Berlokasi cukup jauh dari kota besar, yakni sekitar 13 jam perjalanan dari Jakarta atau 6-8 jam perjalanan dari Bandung, tidak menghalangi minat mahasiswa dari berbagai kampus untuk kerja praktik (KP), menyusun tugas akhir, atau melakukan penelitian lainnya di Ciheras.

Kincir angin ‘penari langit’ (Sumber: Radarlampung.com)

Aktivitas di sana menjadi pengingat kembali, khususnya para mahasiswa yang sering diliputi kegelisahan. Pasalnya, aktivitas apapun di kampus, secara umum banyak yang membahas ini: “Apa tujuan pendidikan yang kita jalani ini?” Jawabannya mungkin berkisar seperti; ‘agar bisa membangun negeri’, ‘demi kebermanfaatan di masyarakat’, atau bahkan ‘untuk memanusiakan manusia’. Semua tujuan pendidikan dan pengajaran itu mulia. Tapi, apakah orang-orang yang belajar selalu ingat dengan tujuan tersebut?

Hampir setiap orang yang berkunjung ke sana memiliki niat yang sama yaitu belajar. Belajar apa? Apa saja. Teknologi mesin, mobil listrik, pembangkit listrik tenaga angin, pertanian, dan tentu saja spirit dan nilai perjuangan layaknya bangsa Jepang yang dibawa oleh Ricky Elson. Ya, Ciheras adalah tempat untuk belajar, bermimpi, mengembangkan teknologi (dengan potensi lokal), dan  mengenal lebih jelas siapa diri kita ini, lalu apa yang seharusnya kita lakukan untuk negeri ini.

LBN berada jauh dari kota justru menjadi magnet bagi anak-anak muda dari berbagai penjuru negeri, khususnya untuk mendalami riset di bidang teknologi mobil listrik. Kegiatan riset sendiri membutuhkan dana yang tidak sedikit. Di sisi lain, LBN tidak mau membebankan biaya riset yang besar ini kepada negara. Jika umumnya di dunia akademik, riset dan kewirausahaan dipisah, tidak demikian dengan LBN di Ciheras. Anak-anak muda di Ciheras itu telah berproses menjadi sosok engineer yang bisa diandalkan di masa depan.

Satu hal yang perlu kita ketahui, ternyata Ciheras University tidak melulu melakukan hal serius dan rumit berkaitan dengan teknologi khususnya mesin dan listrik. Mereka juga bercocok tanam dan mengembangkan ternak kambing bersama warga setempat. Jadi, masyarakat sekitar juga merasakan manfaat nyata dari keberadaan Lentera Bumi Nusantara.  Di waktu senggangnya yang tidak banyak, para penghuni site Ciheras itu sering menyempatkan untuk berolahraga bersama. Untuk bersenang-senang dan tertawa bersama. Mereka bukan hanya engineer, tapi juga enjoy-neer.

Terlepas dari apa yang dikerjakan anak-anak muda di Ciheras, tentu kita patut memberi apresiasi kepada sang founder, Ricky Elson. Bayangkan saja, anak bangsa penuh prestasi yang sebelumnya mendapatkan kehidupan yang nyaman dan terjamin di negeri orang harus kembali ke tanah air meskipun belum ada ‘kepastian’ dari pemerintah. Di saat anak muda umumnya mengejar kemapanan dan kenyamanan karir, mengapa Ricky Elson dan anak-anak muda lain di Ciheras berpikir berbeda? Tidak salah lagi, apa yang mereka lakukan itulah definisi nasionalisme. Ada amanah yang besar untuk membangun negeri dibanding sekadar mengejar kemakmuran bagi diri sendiri.

Sesuai namanya menjadi lentera, LBN terus melakukan pengembangan berkelanjutan dengan penuh optimisme untuk memberi kontribusi nyata khususnya di bidang teknologi meson listrik, energi, pangan, dan air bersih. Harapannya adalah agar lebih banyak anak bangsa yang menemukan banyak inovasi kelas dunia. Lalu bagaimana dengan ‘nasib’ Ricky Elson sebagai teknokrat? Mungkin kita bisa mengutip salah satu kutipan dialog di catatan Dahlan Iskan selama jadi menteri yang dikenal dengan Manufacturing Hope ini. Ini terjadi setelah jabatannya sebagai menteri BUMN berakhir di tahun 2014.

“Saya tidak bisa lagi menahan kalau Anda ingin kembali ke Jepang,” kata  ‘Abah’ Dahlan pada Ricky “toh bos Anda yang di Jepang masih terus menunggu.”

Ricky terdiam sejenak. Kepalanya menunduk. Wajahnya menatap ke bumi. Sesaat kemudian baru dia berucap.

“Saya akan tetap di Indonesia. Seadanya,” jawab Ricky “Saya akan meneruskan semua ini. Semampu saya.” Dengan segenap karya, kontribusi untuk negeri, dan pilihan-pilihan yang diambil, bangsa Indonesia akan selalu berterima kasih kepada Ricky Elson.

 

(Sumber Gambar Utama: kemudiku.com)