UblikPuisi Matematika karya Restia Ningrum. Mungkin sebagian orang sudah takut duluan mendengar nama salah satu mata pelajaran tersebut. Rumus yang super ribet ditambah dengan banyaknya variasi bilangan serta angka membuat kadang kita agak kesulitan memahami rumus Matematika atau bahkan, bisa-bisa kita terpaksa “menghindarinya”.

Tapi berbeda dengan Restia Ningrum, bagi penulis muda ini Matematika yang rumit itu justru bisa menjadi inspirasi membuat karya sastra. Seperti dalam bukunya yang berjudul Metafora Matematika yang berisi kumpulan “puisi-puisi matematika”.

Gimana jadinya yaa kalau Matematika dikemas dalam sebuah puisi? Apa bakalan seribet Matematika? Tentunya ngga bakal ribet, kalau ribet itu namanya skripsi bukan puisi hehehe.Nah, daripada penasaran berikut Ublik bagikan sebuah puisi yang dicuplik dari buku Metafora Matematika berjudul Seperti Sajak yang Tak Pernah Selesai.

metafora matematika karya restia ningrum

Gimana setelah baca berbait bait puisi di atas. Masih sangsi jika Matematika yang ribetnya sampai ulu hati itu ternyata dapat dicerna dengan untaian kata-kata berdiksi. Menuliskan seluk beluk dunia matematika dengan sangat ciamik. Dia sandingkan istilah matematika dengan cerita lain yang mungkin menyangkut langsung pada perasaanya. Puisi tersebut membuat siapapun yang baca sadar, jika diksi dalam sastrapun bisa dibuat sekalipun lewat istilah matematika.

Itulah Restia Ningrum. Sang pembuat puisi tersebut. Dia seakan memberi terobosan jika sastra tak melulu berbicara soal manusia. Ditanganya bongkahan struktur matematika dikonversi menjadi puisi yang indah. Sejauh ini, memang belum ada orang yang terpikirkan atau mungkin terinspirasi dengan hal serupa yang Restia Ningrum lakukan.

Tapi, ada cerita panjang sebelum Restia menemukan formula sastra baru tersebut. Sebuah pengalaman yang kemudian membentuk Restia sekarang. Menjadi pribadi jauh lebih baik. Ublik berhasil mewawancari eksklusif dara muda tersebut. Dirinya bercerita cukup banyak tentang apa yang telah ia lakukan sampai sejauh ini.

Puisi Matematika karya Restia Ningrum
Buku Metafora Matematika, Sumber : UB Press

Restia Ningrum yang kita baca puisinya tadi adalah seorang lulusan Fakultas Ilmu Matematika dan IPA dari Universitas Brawijaya Malang. Dia memang sosok yang mencintai dunia hitung-hitungan sejak kecil. Dia merasa bahwa dunia hitung-hitungan itulah yang akan sangat cocok dengan pribadi dirinya. Sebelum akhirnya pada tingkat dua kuliahnya. Dia baru merasa kualahan untuk menghadapi gempuran matematika yang begitu rumit.

“dulu itu pas sekolah saya seneng ngitung-ngitung. Sampe kuliah tahun pertama masih menikmatinya. Eh baru deh mulai semester tiga kerasa tanda-tanda salah jurusan. Tapi ya gimana mau pindah, sayang waktunya. Mending lanjutin aja, meskipun ya cukup berdarah-darah. Tapi ga papa asal ada teman yang senasib, jadi agak enteng.” ujarnya.

Dia kemudian lebih tertarik dengan dunia kepenulisan. Sesuatu yang tentu jauh dari dunia matematika. Tetapi, justru dunia kepenulisan yang seakan membuka jalanya. Dara kelahiran 1992 itu kemudian mencoba membaca-baca buku sastra. Memelajarinya secara otodidak. Hingga akhirnya merasa lebih produktif di dunia sastra.

Hobinya soal sastra sebetulnya bukan hal baru. Dia mengaku menggemari sastra sejak Sekolah Dasar (SD). Karena hobinya itu jugalah yang akhirnya membuat dia masuk salah satu Unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang bergerak pada bidang tulis menulis. Disana Restia seperti menemuka dunia baru. Beberapa lomba kepenulisan dia ikuti. Dan hasilnya, beberapa piala dan penghargaan direngkuh.

“ga sengaja sih hobinya ini awalnya bukan buat diseriusin. Sebenernya udah biasa nulis dari SD (diary) sama cerita-cerita. Sampe akhirnya waktu kuliah kan ikut unit kegiatan mahasiswa di bidang penulisan gitu. Lebih ke ilmiah sih. Nyoba pernah ikut lomba, pernah menang terus ketagihan, heheh” tambahnya.

Sampai saat ini sudah banyak karya yang ia tulis. Dari karya tulis ilmiah sampai dengan esai. Bahkan beberapa buku sudah berhasil ia terbitkan. Salah satu bukunya Metafora Matematika dirilis pada Agustus 2014 oleh penerbit UB Press.

“Kalo karya fiksi ada satu buku kumpulan puisi (Metafora Matematika) satu. Kumpulan cerpen sama satu novel (dengan judul) Langit Lazuardi. di UB Press terbitnya tahun 2014 dan 2015,sama satu novel masih dalam proses di penerbit di Jogja” Kata perempuan asal Wonogiri itu.

Dirinya mengaku jika tulisan-tulisan menariknya dimulai dari sesuatu yang dekat. Bahkan, lebih lanjut Restia mengaku jika buku puisi-puisi matematikanya berasal dari coretan-coretan yang ia tulis dibelakang buku catatanya. Menariknya hal tersebut dilakukan saat dosennya menyampaikan materi kuliah di kelas. Tidak semua memang, beberapa puisi lain sudah ia tulis sejak massa SMA.

“haha iya pasti dong. Kan paling simpel itu nulis sesuatu yang deket dengan kita bisa dibilang waktu itu saya terbersi ide gila itu waktu kuliah kalkulus, bikin grafik, kan ribet itu. Nah, saya bikin puisinya aja dibelakang buku catatan kuliah. iya coretan aja dan ga ketauan dosen. Dosen taunya pas udah terbit.” Katanya lagi meneruskan.

Novel Baru

Saat ini perempuan yang kini tinggal di Yogyakarta itu mengaku tengah menggarap novel baru. Kisah yang diangkat cukup menarik. Tentang seorang anak seorang TKW yang tak tahu siapa ayahandanya. Anak tesebut kemudian diadopsi oleh seorang yang bekerja sebagai diplomat Hong Kong. Kisah menarik tesebut akan dibungkus dengan cerita-cerita soal romantisme dan juga makna dari persahabatan. Sebuah novel yang nampaknya patut ditunggu.

Ketika ditanya apakah novel barunya tersebut diangkat dari kisahnya. Restia berkelit, dia mengungkapkan jika karya terbarunya tersebut murni cerita fiktif. Cerita tersebut ia dapat secara tidak sengaja.  Lebih lanjut, dirinya menuturkan jika untuk merampungkan karya terbarunya. Perempuan berusia 25 tahun ini mesti melakukan riset terlebih dahulu agar karya yang ia buat benar-benar terasa lebih nyata.

“Engga kok fiktif aja. Jadi harus riset dulu makan waktu agak lama. Ide awalnya saya dapat secara random waktu jalan ke gramedia jalan veteran malang. kebetulan saya ada temen yang ibunya kerjapernah kerja di Hong Kong. Jadi cukup tahu suasana disana gimana. risetnya macem-macem dari foto instagram kota Hong Kong buat setting, sama artikel yang terkait”.

Pernah Kerja di Pabrik Sepatu

Patut diketahui juga jika sebetulnya jauh sebelum ia menerbitkan sebuah buku. Bahkan sebelum ia diterima sebagai mahasiswa Universitas Brawijaya Malang, dirinya sempat bekerja di sebuah produsen sepatu yang namanya cukup dikenal di masyarakat yang pabriknya berada di Tangerang. Hal tersebut tak terlepas dari gagalnya dia lolos seleksi masuk Universitas Indonesia pada 2011 silam. Padahal UI adalah impianya. Jadi, ketika mendapati dirinya tak lolos seleksi. Dia lebih memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu. Dan produsen sepatu tersebtu menjadi tempatnya menunggu setahun. Disana, penulis buku Sejuta Kisah Menuju Bangku Kuliah tersebut ditempatkan pada bagian Sewing (menjahit) yang bukan keahliannya.  Dalam bekerja, dirinya kerap kena marah hingga membuatnya sedih.

“Oh iya selama masa-masa itu  mimpi suatu hari pengalaman kaya gini mau dibukuin. Alhamdulillah kesampaian pas kuliah di Brawijaya. Oh iya setelah istikharah memutuskan kuliah di Jawa Timur. Dan ternyata salah jurusan. but enjoyed these all. Agak drama sih. Maklum ya” ungkap dia.

Kini, setelah lulus dari FMIPA Universitas Brawijaya. Restia justru bercita-cita menjadi seorang penulis dan editor. Seakan lebih ingin meneruskan hobinya yang telah menghasilkan banyak karya tersebut. Terakhir, ketika ditanya bagaimana caranya untuk memulai menulis buku. Dia berpesan agar membuat alasan serta tujuan yang kuat terlebih dahulu saat mulai menulis.

“Apa ya? mulai dengan alasan atau tujuan yang kuat. Biasanya bikin target buat diri sendiri. Terus banyak baca. Banyak ngobrol. Kalau mau nulis fiksi ya banyak nonton film juga” Tandasnya.

Pewawancara: Ridho Nur Wahyu

Penulis Naskah: Muhammad Wildan

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here