Pernikahan Kaiyang Ayu dan Bobby Nasution memang sudah berlalu. Tapi, kalau kita tilik lagi, pernikahan putri satu-satunya presiden Joko Widodo ini memang cukup menyedot perhatian publik. Bagaimana tidak, hampir seluruh televisi nasional meliput. Kita tentu tahu jika pernikahan Kahiyang dan Bobby terlihat megah namun tetap sederhana. Bukan cuma itu, pernikahan anak kedua Jokowi tersebut juga tetap memertahankan adat Jawa. Ya, kita tentu tahu ada banyak sekali prosesi yang dilakukan, baik oleh Kahiyang maupun Bobby. Namun, jangan salah. Segala prosesi pernikahan adat Jawa tersebut ternyata mengandung makna dan filosofi mendalam. Ublik akan sedikit menjabarkan tentang prosesi adat Jawa yang dilaksanakan di pernikahan Kahiyang Ayu dan apa aja makna serta filosofinya.

1.Pemasangan Bleketepe

Prosesi PErnikahan adat jawa
Pernikahan adat jawa(Sumber: www.jogjadekor.com)

Apa sih bleketepe itu? Bleketepe adalah anyaman yang terbuat dari daun kelapa. Dibuat sedemikian rupa hingga menjadi sebuah anyaman. Bleketepe ini mesti dipasang langsung oleh sang ayah dari pengantin perempuan didepan rumahnya. Bleketepe sendiri memliki makna keteduhan. Diharapkan setelah bleketepe dipasang. Para tamu undangan diberikan keteduhan dan prosesi pernikahan berjalan lancar tanpa ada halangan. Selain itu, pemasangan bleketepe juga sebagai tanda kepada tetangga dan orang lain bahwa si pemilik rumah dalam waktu dekat ini akan melaksanakan hajat pernikahan salah satu anaknya.

Pilihan Editor:

 

2.Tuwuhan

filosofi Pernikahan adat jawa
Sumber: www.auradecoration.com

Setelah memasangkan bleketepe didepan rumah. Biasanya sang pemilik rumah juga melaksanakan prosesi pemasangan tuwuhan. Apa itu tuwuhan? Tuwuhan adalah pemasangan beberapa hasil bumi berupa pisang raja dengan buah yang sudah masak,tebu wulung, daun randu dan pari sewuli, dan berbagai macam dedaunan. Pisang raja yang sudah masak bermaksud jika calon pengantin yang akan dinikahkan dimaknai sudah memiliki pemikiran dewasa. Selain itu pemilihan pisang raja juga bermaksud untuk pengharapan agar sang anak yang dinikahkan akan mendapatkan kemakmuran dan kejayaan seperti raja. Bukan cuma pisang, tebu wulung memiliki makna kehidupan yang enak dan bahagia, selain itu wulung juga memiliki filosofi kebijaksanaan sebagai pengharapan jika kedepan para calon pengantin nantinya selalu bijak dalam mengambil keputusan, sementara randu dan pari bermakna sandang dan pangan. Diharapkan calon pengantin nantinya akan tercukupi segala kebutuhannya.

3.Siraman

pernikahan adat jawa kahiyang ayu
(Sumber: www.tribunnews.com)

Selanjutnya adalah prosesi Siraman. Sebagaimana kita tahu, prosesi siraman juga dapat ditemui di beberapa prosesi adat suku lain. Prosesi siraman bermaksud untuk pembersihan diri baik raga maupun batin calon mempelai. Sebelum siraman dlakukan calon pengantin hendaknya meminta restu pada orang tuanya. Kemudian yang dapat menyiram calon pengantin juga tak dapat sembarangan orang. Hanya orang tua mempelai, orang yang dituakan dan juga orang-orang yang dipilih oleh orang tua pengantin. Selain itu, air yang dipakai untuk siraman juga diambil dari tujuh sumber berbeda. Dalam pernikahan Kahiyang, air diambil dari Keraton Solo, Masjid Mangkunegaran, Masjid Agung Solo, Masjid Laweyan, Istana Negara Jakarta, Istana Bogor, dan kediaman pribadi Jokowi. Air tersebut dicampur kemudian di taburi bunga setaman.

4.Dodol Dawet

pernikahan aadat jawa kahiyang ayu
Dodol Dawet, Pernikahan Adat Jawa (Sumber: kompasiana.com/Johanes Krisnomo)

 

Dodol Dawet dalam bahasa Indonesia berarti berjualan dawet. Yang bertugas menjual dawet dalam hal ini adalah ibu dari calon mempelai. Sang ayah hanya mendampingi seraya memayungi. Para tamu yang datang dapat membeli dawet itu dengan membayar menggunakan kereweng. Kereweng adalah pecahan tembikar yang terbuat dari tanah liat. Mengapa mesti memakai kreweng? sebab itu mengingatkan kepada kita jika sehebat-hebatnya manusia pasti akan kembali ke tanah lagi. Sementara itu alasan dawet yang dijual adalah karena dawet memiliki kesegaran dan sangat pantas untuk diminum oleh tamu. Sementara itu, dawet terbuat dari santan. Santan terbuat dari kelapa yang kita tahu segala hal dari pohon kelapa dapat digunakan. Itu pengharapan jika mempelai dapat berguna bagi siapa saja.

5.Ndulang Pungkasan

Pernikahan adat Jawa
Ndulang Pungkasan (Sumber: JIBI Foto/Semarangpos.com)

Kemudian ada acara Ndulang Pungkasan. Ndulang dalam bahasa Indonesia berarti menyuapi. Ya, dalam prosesi ini calon mempelai disuapi oleh kedua orang tuanya untuk yang terakhir. Hal ini berarti kedua orang tua setelah pernikahan tidak memiliki lagi tanggungan terhadap sang mempelai wanita. Setelah menikah, wali dari mempelai wanita adalah sang suami.

6.Midodareni

Midodareni Pernikahan adat jawa Ublik
Midodareni, Pernkahan Adat Jawa (Sumber: tulisansesa.blogspot.com)

Dalam prosesi Midodareni adalah pertemuan antara keluarga mempelai wanita dan keluarga mempelai pria. Hal ini berlangsung di malam menjelang pernikahan. Para keluarga dari mempelai pria membawa seserahan. Hal ini berarti sang mempelai pria telah benar-benar siap untuk menjalani pernikahan yang akan dihelat besok pagi. Sementara itu arti dari Midodareni sendiri berarti bidadari. Diharapkan setelah prosesi Midodareni sang mempelai wanita akan tampil cantik bak bidadari di hari pernikahan.

7.Panggih

Prosesi panggih pernikahan adat jawa
Prosesi Panggih (Sumber: weddingku.com)

Panggih adalah sebuah prosesi yang dilakukan setelah Ijab Kabul dan pengantin telah sah menjadi suami istri. Panggih sendiri berarti bertemu. Dalam Panggih ada banyak prosesi, diantaranya Liron Kembang Mayang, prosesi ini adalah bertukar bunga mayang antara mempelai pria dan wanita. hal ini memiliki makna agar dua mempelai dapat bersama-sama membangun kebahagiaan. Setelah Kembang Mayang ada prosesi Ngidak Endok atau dalam bahasa Indonesia berarti menginjak telur. Nantinya dalam prosesi ini sang pria menginjak telur sampai pecah. Hal ini berarti jika kedua mempelai telah pecah pamornya. Nantinya kaki yang menginjak telur tersebut akan dibersihkan oleh sang wanita dengan harap agar pernikahan keduanya  terhindar dari kekotoran dan kesulitan.

Setelah menginjak telur. Prosesi pernikahan adat Jawa dilanjutkan dengan timbangan. Timbangan adalah saat bapak pengantin perempuan memangku mempelai pria dan mempelai wanita.  Hal ini berati jika perlakuan orang tua mempelai terhadap anak dan menantunya akan seimbang tanpa membeda-bedakan. Kemudian prosesi dilanjutkan dengan kacar kucur dimana pengantin pria akan memberikan uang receh pada sang wanitanya. Hal ini bersimbol jika sang pria nantinya akan memberi kecukupan rizki pada sang wanita. Lalu prosesi pernikahan adat Jawa ini ditutup dengan dulangan atau saling menyuapi antar pengantin yang memiliki makna kesetiaan dan akan bersama-sama selama hayat dikandung badan.

(Sumber Gambar Utama: Twitter.com/@GeraLia0108)

Editor: Ridho Nur Wahyu