Hallo Ublikers, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah mencapai 17 ribu pulau dan diakui sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Ketentuan ini dituangkan dalam hukum positif Internasional United Nation Convention on The Law of The Sea (UNCLOS) 1982 pada tanggal 16 November 1994 di Montego Bay. Ketentuan ini pun telah diratifikasikan oleh Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 17 tahun 1985 sebagai dasar penetapan negara Indonesia sebagai Negara Kepulauan (1). Kepulauan inilah yang membuat Indonesia memiliki laut mencapai 5.193.250 km². Perlu kalian ketahui, dengan luas laut tersebut, Indonesia juga menciptakan pelaut ulung, dan hal itu dituangkan dalam lirik lagu berikut.

“nenek moyangku seorang pelaut…”

Nama pencipta lagu tersebut adalah Ibu Soed. Ibu Soed memiliki nama asli Saridjah Niung. Sangat berbeda dengan nama aslinya. Ibu Soed sangat terkenal di kalangan Taman Kanak-Kanak sebagai pencipta lagu dan di kalangan masyarakat sebagai penyiar radio dan seniman batik. Beliau juga dikenal sebagai tokoh musik tiga zaman (Belanda, Indonesia, dan Jepang).

Ibu Soed (Sumber: Inspiradata)

Banyak lagu telah diciptakan Ibu Soed yang diperkirakan mencapai 200 lagu. Beberapa lagu mengandung nilai patriotisme, sebagai contoh adalah lagu berjudul “berkibarlah benderaku”. Selain mengandung nilai patriotisme, ibu Soed juga menciptakan sebuah lagu tentang sejarah nenek moyang Indonesia yang berjudul “Nenek Moyang” seperti lirik lagu di atas (2). Dua hal di bawah ini barangkali dapat membuktikan bahwa nenek moyang Indonesia adalah benar seorang pelaut.

Ilustrasi Nenek Moyang Pelaut (Sumber: Malahayati.ac.id)

Budaya Maritim Indonesia

Budaya maritim Indonesia dapat dilihat pada kerajaan Sriwijaya pada awal abad ke-10 dan pertengahan abad ke-12. Yuliati dalam tulisannya yang berjudul “Kejayaan Indonesia sebagai Negara Maritim” mengatakan ciri utama masyarakat maritim adalah struktur yang heterogen dan tersebar. Hal ini terjadi pada kerajaan Sriwijaya yang memiliki utusan ke Cina memakai nama Arab. Ibnu Batuta dan Ma-Huan juga menemukan pegawai-pegawai yang datang dari seluruh dunia Islam (3).

Selain Yuliati, Dwi Hutomo dalam tulisannya “Benarkah Nenek Moyang Indonesia Seorang Pelaut?” mengatakan jika Indonesia memiliki budaya maritim sejak abad 5. Peneliti asal Inggris Robert Dick-Read menyatakan berdasarkan banyaknya sumber yang ditemukan di Afrika, bahwa Indonesia sudah menginjakkan kaki di Afrika pada abad ke-5. Penelitian Dick-Read ini tidak sengaja karena pertama kali dia datang di Mozambik pada 1957, dia mendengar bagaimana orang afrika fasih berbicara layaknya pemukiaman wilayah pasifik yakni bahasa Austronesia. Dia juga menemukan banyak sekali persamaan antara Nusantara dan Afrika, seperti alat musik, teknologi perahu, budaya, bahan makanan, dan bahasa bangsa Zanj (ras Afro-Nusantara)(4).

Salah satu yang dapat dijadikan bukti dalam hal ini adalah relief kapal yang berada di candi Borobudur. Nontji (2017) mengatakan ada 5 relief gambar yang dapat dijadikan sebagai bukti bahwa orang Indonesia dulu sudah mengenal kapal dengan layar ganda dan cadik sebagai penyeimbang. Dalam relief tersebut tidak ada bukti lain selain bangunan kapal, hingga seorang bernama Philip Beale dan Nick Burningham memustukan untuk membuat perahu yang sama persis dalam relief tersebut. Pengerjaan perahu tersebut memakan waktu selama 6 bulan dan kapal tersebut dinamakan “Samudra raksa”. Samudra raksa diuji coba dengan melakukan ekspedisi Nusantara-Afrika yang sukses dilaksanakan pada Agustus 2003-Februari 2004 (5).

Kapal Pinisi (Sumber: destinasian.co.id)

Adanya Kapal Pinisi

Hal kedua yang membuktikan bahwa nenek moyang Indonesia benar seorang pelaut adalah kapal pinisi dari Makassar. Dalam tulisan Dewi yang berjudul “Upacara Pembuatan Perahu Pinisi di Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba” dikatakan bahwa pinisi memiliki arti sebagai lambang keperkasaan untuk suku bugis-Makassar. Pinisi adalah sebuah perahu dengan 2 buah tiang dan 7 buah layar menggunakan anjong dan haluan buritannya seperti model rembasang. Pinisi berawal dari kata panisi dari kata bugi yang memiliki arti menyisip. Hal ini di adopsi dari orang bugis yang menggunakan kapal pinisi pertama kali (6).

Kapal pinisi sudah digunakan sejak tahun 1500-an. Kapal pinisi memiliki beberapa jenis, namun yang paling umum ada 2 jenis yakni Lamba atau lambo dan Palari (7). Seiring perkembangan jaman, kapal pinisi berubah fungsi penggunaan yang awalnya sebagai kapal barang menjadi kapal pesiar. Kapal pinisi juga menjadi lambang untuk gerakan #SOSsharks, program pelestarian ikan hiu yang digagas oleh WWF (World Wildlife Fund).

Begitu besarnya kapal pinisi dalam sejarah Indonesia, hingga nama pinisi dijadikan sebuah jargon sebagai simbol keperkasaan salah satu fakultas di Universitas Brawijaya. Perkenalan budaya yang sangat luar biasa saya pikir, karena secara tidak langsung kita sebagai mahasiswaa baru dan lama diwajibkan mengetahui dan mencari literatur tentang pinisi tersebut. Hal-hal seperti ini bisa dijadikan sebagai contoh dalam pembuatan semboyan, sehingga tidak hanya bernilai politik namun juga bernilai budaya dan sejarah.

Dari penjelasan di atas, sayangnya masih terdapat kekurangan dalam hal penelitian mengenai laut baik dari segi spesies maupun sejarah laut. Sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia juga tidak berfokus pada kemaritiman Indonesia, yang lebih mendominasi adalah daratan, ekonomi, dan barangkali politik lebih utama. Satu hal lagi, semoga dengan usaha yang dilakukan oleh ibu Susi bersama  jajarannya di kementerian di periode ini dapat berkesinambungan dan tetap menjadi program unggulan pada tahun pemerintahan selanjutnya.

 

Referensi terkait;

1.Restorasi Kejayaan Indonesia (yang terpendam sejak jaman VOC).
2.https://id.wikipedia.org/wiki/Saridjah_Niung
3.Kejayaan Indonesia Sebagai Negara Maritim (Jalesveva Jayamahe). Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
4.https://jadiberita.com/97384/benarkah-nenek-moyang-indonesia-seorang-pelaut.html
5.EKSPEDISI PERAHU BOROBUDUR SAMUDRA RAKSA: JAKARTA-ACCRA 2003-2004.
6.Dewi,. N. 2016. Upacara Pembuatan Perahu Pinisi Di Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukamba (Studi Atropologi Budaya). [SKRIPSI]. UIN ALaudin Makassar. Makassar.
7.http://id.wikipedia.org/wiki/pinisi

 

(Sumber Gambar Utama: destinasian.co.id)